Mohon tunggu...
Doni Arief
Doni Arief Mohon Tunggu... Pencari dan penikmat kebenaran paripurna

Tenaga Edukatif

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Selamat Tinggal Modernisme, Selamat datang Postmodernisme

15 Juli 2019   08:15 Diperbarui: 15 Juli 2019   09:24 6093 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Selamat Tinggal Modernisme, Selamat datang Postmodernisme
sumber: baca.co.id

Modernisme dikenal sebagai masa rasionalisme, di mana semua entitas kehidupan  disistematisasikan ke dalam standar kebenaran secara mekanistik berdasarkan pukul rata statistik. Pada masa ini, institusi agama mulai digugat karena ajarannya  yang transenden bertentangan dengan dimensi empiris dan rasionalitas sebagai konklusi akal. 

Modernisme berusaha mendekonstruksi peranan agama karena dianggap membatasi kebebasan berpikir manusia, akibatnya modernisme ditandai dengan berkembangnya kemajuan dalam bidang komunikasi dan teknologi secara mekanistik. 

Humanisme antroposentrisme dalam pemikiran modernisme mampu mengembangkan rasionalisme sebagai agenda pembebasan manusia dari segala bentuk determinasi serta menempatkan manusia sebagai kekuatan sejarah (historical force) mengatasi realitas lainnya.

15 Manusia ditempatkan sebagai faktor fundamental dalam proses perkembangan dalam sejarahnya, oleh karena itu manusia selalu dilihat dari perspektif historie de mentalitic yang menempatkan sejarah pemikiran manusia sebagai landasan utama dalam perkembangan perilakunya. 

Peter L. Berger dalam bukunya The Sacred Canopy menyatakan bahwa masyarakat merupakan produk dari pemikiran manusia, oleh karena itu sejarah merupakan proses panjang dari dialektika pemikiran manusia.

Sedangkan dalam tradisi Hegelian yang idealistik menganggap bahwa dalam proses perjalanan sejarah terdapat nilai-nilai rasionalitas yang mengarahkan dan mengatur perjalanan sejarah tersebut. 

Dalam modernisme pusat perkembangan peradaban sepenuhnya diarahkan kepada rasionalitas manusia, sedangkan peran agama secara subjektif semakin tersubordinasi.16

Memang sulit untuk mengidentifikasi kapan dimulainya era modernisme yang ditandai dengan rasionalisme, tetapi berdasarkan sifat yang terbawa dalam modernisme tersebut. 

Maka dapat dinyatakan bahwa modernisme dimulai pada sekitar abad ke 15 yang ditandai dengan terjadinya revolusi pencerahan atau renaissance dalam bentuk revitalisasi kesadaran manusia tentang eksistensi dirinya. Mulainya masa modernisme tersebut diharapkan mampu memberikan harapan baru bagi peradaban dunia. 

Perubahan secara konstruktif ditandai dengan semakin berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan pengaruh destruktif yang dibawa modernisme adalah semakin terciptanya krisis mondial yang terimplikasi dari dekadensi dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan karena semakin teralienisasinya peran fungsional agama. 

Sasaran kritik modernisme adalah agama dengan ajarannya yang bersifat transenden dan mitologi. Agama dianggap berperan mengekang kebebasan manusia dalam proses dialektika peradaban. Realitas kosmologi yang selalu dikultuskan dalam agama dianggap memiliki kekuatan supranatural yang membelenggu kebebasan rasionalitas manusia. 

Agama dianggap mencerminkan rasa takut manusia terhadap sesuatu yang mengandung misteri yang menakutkan (misterium tremendum dan misterium fascinosum). Eksklusifitas yang terdapat dalam ajaran agama bertentangan secara diametral dengan Pluralisme budaya sebagai trend inklusif yang dipertahankan dalam modernisme. 

Rasionalisme menggugat otoritas keagamaan dalam menilai kebenaran secara objektif. Dalam perkembangannya rasionalisme berevolusi menjadi paham sekularisme, fragmentasi dan egaliterianisme. Paham sekularisme berusaha mereduksi dan menghilangkan peranan keagamaan dalam urusan keduniawian. 

Sekularisasi dalam bentuknya yang paling moderat membatasi peran agama sebagai otoritas subjektif dan parsial yang diyakini sebagai keyakinan yang bersifat personal (private affair) sehingga harus terlepas dari segala urusan yang bersifat sosio-kultural. 

Sedangkan sekularisasi dalam bentuknya yang paling radikal berusaha mencabut akar tradisi keagamaan dari kesadaran masyarakat sehingga berkembang agnotisisme dan ateisme. 

Dalam bidang keilmuan, sekularisasi merambah paradigma keilmuan yang didasarkan kepada rasionalitas an sich. Secara gradual terjadi perkembangan pemikiran manusia yang dimulai dari empirisisme, rasionalisme dan mencapai puncaknya pada positivisme yang diperkenalkan Auguste Comte. 

Dalam bidang politik, sekularisasi telah menyebabkan hilangnya pertimbangan etika dan moral dalam pengambilan kebijakan politik. Dalam bidang ekonomi, sekularisasi ditandai dengan program kapitalisme yang dikembangkan dalam kerangka liberalisme yang miskin etika dan moral. 

Dalam bidang budaya, sekularisasi berperan menghasilkan orientasi materialisme, sehingga ukuran kebenaran didasarkan pada objektifitas secara empiris, sehubungan dengan hal ini, Pitirin A. Sorokin menyatakan sekularisasi tersebut sebagai mentalitas kebudayaan keinderawian. 

Perkembangan selanjutnya dari sekularisme adalah fragmentasi yang semakin mereduksi peran agama dalam kehidupan manusia. Fragmentasi menghendaki adanya otonomisasi semua aspek kehidupan yang mengakibatkan manusia hidup dalam dunianya masing-masing sesuai dengan keahliannya. 

Akibatnya manusia cenderung bersifat individualistik dan sulit untuk berkomunikasi dengan dunia yang berada di luar dirinya. Tahap perkembangan fragmentasi adalah egalitarianisme yang berusaha mengkritik struktur agama secara hierarki. Kritik egaliterianisme menekankan prinsip persamaan dan kemampuan individual dalam beragama.17

Modernisme membawa kemajuan yang spektakuler dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di satu sisi, modernisme kehilangan landasan spritualitas keagamaan, sehingga manusia modern semakin kehilangan identitas kemanusiaannya. Manusia modern mengalami dekandensi moral dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan. 

Perubahan dramatis dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak disertai dengan kesiapan mentalitas manusia, sehingga manusia modern mengalami krisis primordial yang sering disebut dengan "nestapa manusia modern". 

Ketidaksiapan mentalitas manusia modern dalam menghadapi realitas sosialnya telah menyebabkan mereka melakukan eskapisme yang berujung pada terjadinya kehampaan hidup (hollow man) dari nilai-nilai spritualitas keagamaan. 

Manusia modern terjebak ke dalam split personality yang selalu menggunakan topeng sosial serta berusaha menyembunyikan identitasnya dalam suasana hipokrit. 

Manusia modern telah kehilangan nilai-nilai parrenial yang terdapat dalam spritualitas agama, sehingga mereka akan dikendalikan secara mekanistik tanpa mempertimbangkan nilai ketenangan psikis yang ditawarkan oleh agama. 

Dapat disimpulkan bahwa modernisme ditandai dengan adanya pengakuan kemerdekaan manusia, revolusi ilmu pengetahuan (scientific revolution) dan degradasi nilai-nilai keagamaan. 

Selain itu, modernisme juga ditandai dengan semakin berkembangnya pertumbuhan masyarakat yang semakin tidak terkontrol, kerusakan lingkungan hidup akibat industrialisasi dan munculnya kejenuhan manusia terhadap makna kemanusiaan yang semakin materialistik.

Seiring semakin terdegradasinya nilai keagamaan di masa modernisme, maka Patricia Aburdane dan John Naisbitt sebagai tokoh futurolog dalam karyanya Mega Trend 2000: Ten New Direction for the 1990's memprediksikan bahwa di abad 21 akan muncul kembali kebangkitan agama (religion resurgence). 

Manusia berusaha menemukan kembali nilai-nilai kemanusiaannya dalam agama. Rasionalitas ternyata tidak mampu menyelesaikan persoalan kejiwaan manusia, oleh karena itu manusia mulai melirik kembali alternatif penyelesaian ketenangan jiwa yang ditawarkan oleh agama. 

Pada dasarnya, agama merupakan entitas (fitrah) yang tidak dapat dilepaskan dari esensi manusia.18 Apabila agama dihilangkan dalam kehidupan manusia, maka ikatan moral dan etika normatif akan hilang dalam kehidupan manusia, sehingga mereka akan terjebak pada tindakan pragmatisme, positivisme dan hedonisme yang standar kebenarannya diproduksi rasionalitas. 

Sehubungan dengan hal ini, Rudolf Otto dalam karyanya Idea of the Holy menyatakan bahwa dalam ruang terdalam dari diri manusia terdapat struktur a priori terhadap sesuatu yang irrasional. 

Keinsafan keagamaan (sensus religius) merupakan salah satu struktur a pariori religius yang terpenting dalam kehidupan manusia, oleh karena itu agama merupakan dimensi yang paling asasi dalam kehidupan manusia. Melepaskan agama dalam kehidupan manusia sama saja dengan menghilangkan  identitas kemanusiaan dari manusia itu sendiri. 

Berdasarkan tradisi Hegelian kemunculan postmodernisme merupakan antitesis dari modernisme. Munculnya postmodernisme ditandai dengan semakin bergairahnya kembali aktivitas keagamaan dalam kehidupan masyarakat modern. 

Bahkan manusia modern banyak yang melakukan eskapisme untuk berlindung di balik ketenangan kejiwaan yang ditawarkan dalam agama dan berbagai tradisi mistis yang berkembang di dunia Timur. Postmodernisme mendekonstruksi akurasi kemapanan rasionalitas dan dipertanyakan kembali eksistensi dan kredibilitasnya. 

Selain itu, semua institusi yang dianggap mapan dipertanyakan kembali eksistensinya melalui pembentukan institusi tandingan yang bertindak sebagai otokritik dan antitesis terhadapnya. Tidak mengherankan apabila agama sebagai institusi kemapanan juga dikritik dengan memunculkan institusi keagamaan lainnya. 

Kenyataan ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai kegiatan keagamaan sempalan (pseudo spritual) fundamental yang berada di luar kemapanan agama konvensional. Misalnya, di Indonesia ditandai dengan kemunculan gerakan keagamaan aliran Salamullah, Madi, Ahmadiyah, Darul Arqam, Islam Kejawen dan sebagainya yang dianggap berafiliasi dengan Islam. 

Selain itu, di berbagai belahan dunia lain muncul gerakan Children of God, saksi Jehovah, Aum Shinrokyu dan sebagainya.19 Kenyataan tersebut sesuai sebagaimana yang disebutkan oleh Patricia Aburdene dan John Neisbitt bahwa "spirituality, yes, organized religion, no". Hal ini berarti kesadaran spritualitas tidak harus terikat dengan ikatan formal agama yang terlembagakan dalam kitab suci. 

Bersumber dari kenyataan tersebut maka muncul berbagai gerakan keagamaan ekstrim dan fundamental yang berusaha menggugat eksistensi keagamaan yang konvensional. Munculnya gerakan keagamaan sempalan tersebut merupakan paradoks sosial yang ditimbulkan oleh postmodernisme.20 

Secara samar-samar dapat diidentifikasi sifat dari postmodernisme, di antaranya: Pertama. Postmodernisme dipandang sebagai keadaan sejarah setelah zaman modern. Kata "post" atau "pasca" sendiri secara literal mengandung pengertian sesudah. 

Dengan pandangan ini, modernisasi dipandang telah mengalami proses akhir, yang akan digantikan dengan zaman berikutnya, yaitu postmodernisme. Pandangan ini agak mirip dengan Daniel Bell tentang masyarakat pasca industri. Kedua. 

Postmodernisme dipandang sebagai gerakan intelektual keagamaan (intellectual and religious movement) yang mencoba menggugat dan mendekonstruksi pemikiran sebelumnya yang berkembang dalam bingkai paradigma pemikiran modernisme. 

Sehubungan dengan hal tersebut Ernest Gellner dalam karyanya Postmodernism, Reason and Religion menyatakan bahwa postmodernisme merupakan kritik terhadap modernisme yang mengedepankan fundamentalisme rasional. 21 Namun, tidak dapat dipungkiri di balik akibat konstruktif yang dibawa postmodernisme terdapat akibat destruktif yang ditandai dengan bermunculannya gerakan fundamentalisme keagamaan. 

Sebagaimana yang telah disinggung Naisbitt bahwa manusia postmodernisme bukanlah manusia yang beragama, melainkan kerohanian. Perkembangan ini tidak dapat dilepaskan dari akibat-akibat kemanusiaan yang muncul dalam proses modernisasi, yang kemudian mendorong manusia modern untuk mencari tempat pelarian yang mampu menampung kegundahan dan kegelisahan jiwanya. 

Inilah yang berperan memunculkan berbagai gerakan keagamaan sempalan yang mengatasnamakan dirinya sebagai agama baru yang mengklaim mampu menyelamatkan manusia modern dari krisis kehidupannya. 

Modernisme diharapkan mampu membebaskan manusia dari keterbelakangan ilmu pengetahuan dan teknologi, di satu sisi membawa dampak yang lebih besar bahwa manusia modern semakin terbelenggu oleh ikatan materialisme dan diperbudak oleh sikap permissif dan hedonis. Manusia modern semakin kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya karena semakin tersubordinasinya peran agama dalam kejiwaannya. 

Manusia modern mengalami degradasi kejiwaan akut yang menyebabkan mereka kehilangan makna terhadap hidupnya. Ikatan moral dan etika tidak lagi menjadi landasan utama dalam menentukan sikap, sehingga ukuran kebenaran mulai bergeser dari ikatan primordial menjadi ikatan pragmatis. 

Manusia modern mulai menyingkirkan etika dan norma kesopanan yang melekat dalam tradisi kemanusiaan untuk mencapai keinginannya yang dikonversikan secara mekanistik. A, Sorokin menyatakan bahwa masa modernisme merupakan The Crisis of Our Age, sedangkan Sayyid Husein Nasr menyebutkan sebagai nestapa masyarakat modern. 

Penyebutan ini merujuk pada adanya krisis yang diderita manusia di era modernisme, seperti adanya alienasi sebagaimana yang diilustrasikan oleh Eric Fromm. Demikian pula terjadinya suatu kekosongan rohani sebagaimana yang dinyatakan Luis Leahy atau terjadinya padang gersang psikologis dalam pandangan Carl Gustave Jung. 

Kenyataan yang hampir senada disampaikan oleh Whitehead yang menyatakan bahwa paradigma ilmiah yang dugunakan menjadi titik acuan pengembangan ilmu modern merujuk kepada pandangan kosmologis materialisme ilmiah (scientific materialism) Descrates yang menolak penjelasan kausa finalis seperti dalam pemikiran Aristoteles, oleh karena itu dapat dimaklumi apabila ilmu pengetahuan hanya menyentuh dan berada dalam tatanan realitas yang dangkal dari totalitas dan kesemestaan hidup manusia. 

Apabila yang menjadi pusat perhatian dari peradaban modern adalah manusia, maka paradigma modern telah dianggap gagal mendekati dan memahami serta memfungsionalisasikan manusia dalam realitas sejarah yang dicita-citakan.21 

Postmodernisme diharapkan mampu membebaskan manusia modern dari belenggu materialisme dengan mengembalikan nilai-nilai spritualitas agama ke dalam kehidupan manusia. Dalam kenyataannya, postmodernisme menciptakan otoritarianisme baru yang bersumber dari eksklusifitas dan fundamentalisme gerakan keagamaan. 

Perkembangan spritualitas keagamaan yang bercorak fundamentalisme akan menimbulkan persoalan baru dalam bidang psikologis dan sosiologis. Fundamentalisme agama dengan berbagai bentuk pengkultusan terhadap sosok atau pemikiran tertentu hanya akan menawarkan janji-janji keselamatan yang absurd dan ketenangan batin yang bersifat sementara (palliative). 

Erich Fromm menyatakan agama otoritarian (Authoritarianisme Religion) merupakan kebalikan dari agama humanistik (Humanistic Religion). 

Dengan demikian, postmodenisme diharapkan mampu membebaskan manusia dari belenggu modernisme dengan mengembalikan nilai-nilai spritualitas agama. Di sisi lain, postmodernisme membelenggu manusia dalam eksklusifitas keagamaan yang radikal.

Melihat fenomena yang melatarbelakangi munculnya kiri Islam yang berusaha menentang segala bentuk kediktatoran kekuasaan serta berusaha membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan. 

Pendekatan yang digunakan dalam kiri Islam adalah revitalisasi tradisi Islam untuk dijadikan sebagai kerangka revolusioner pembebasan serta menciptakan pandangan dunia tauhid secara universal. Dengan demikian, kiri Islam merupakan gerakan keagamaan yang berbasis transformasi sosial. 

Berdasarkan sifat yang terdapat dalam postmodernisme, kiri Islam memiliki sifat yang hampir sama terutama berusaha mendekonstruksi struktur absolutisme kekuasaan yang mengekang kebebasan manusia. Kiri Islam secara tegas menentang imperialisme, kapitalisme dan sosialisme radikal sebagai produk modernisme. 

Semangat pembebasan yang terdapat dalam postmodernisme diapresiasi oleh kiri Islam, karena dekonstruksi terhadap absolutisme yang berujung pada penindasan nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat dalam postmodernisme dan kiri Islam merupakan antitesis terhadap kemapanan struktur sosial, politik, ekonomi dan budaya yang dibangun dalam modernisme. 

Tetapi kiri Islam tidak sama dengan postmodernisme. Kenyataan ini dapat dilihat dari orientasi gerakan keagamaan kiri Islam yang merupakan derivasi dari Islam. Kiri Islam merupakan interpretasi terhadap ajaran Islam dalam bidang sosial dan politik, sehingga Islam tetap dijadikan sebagai akar tradisi dalam pergerakannya. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa bergeliatnya gerakan keagamaan termasuk juga kemunculan kiri Islam merupakan kausa keniscayaan dari etape postmodernisme, tetapi yang membedakannya kemunculan gerakan agama radikal sebagai representasi postmodernisme berusaha mendekonstruksi kemapanan agama konvensional. 

Sedangkan kiri Islam sebagai gerakan keagamaan merekonstruksi interpretasi terhadap Islam dan sumber pergerakannya didasarkan pada ketentuan Islam. 

Kegagalan modernisme dan postmodernisme disebabkan karena hilangnya pandangan teleologis tentang ketauhidan yang menjadi inspirasi kebenaran secara universal. Sehubungan dengan hal ini, Hasan Hanafi menyatakan:

Tantangan di depan Islam sekarang bukan tidak adanya sendi-sendi modernisasi di dalamnya, tetapi lenyapnya sendi-sendi tersebut dari kesadaran nasionalisme kita. 

Tragedi transformasi sosial sejak munculnya kebangkitan Arab modern, adalah bahwa kita menghendaki merubah realitas namun dengan pemikiran kekuasaan. 

Sementara itu budaya oposisi diekspor oleh kalangan elit penganut marxisme, liberalisme dan nasionalisme. Karena itu mereka dengan mudah dituduh sebagai ateis, komunis dan ide-ide impor dan westernisasi. 

Ketika berlangsung transformasi realitas Arab dengan menggunakan budaya oposisi yang diambil dari endapan mental lama yang terdapat dalam turas Mu'tazilah, Khawarij, Syi'ah, al Hallaj, ahli ushul fiqih, Ibnu Rusyd dan di kalangan pelaku revolusi Qaramitah dan budak Afrika, kita mampu menghadapi tantangan zaman. 

Maka jangan sampai setelah itu revolusi kita surut dan berubah menjadi anti revolusi dari dalam dan jangan sampai berhenti gerakan transformasi sosial atau kepentingan elit penguasa terus berlangsung.22

Hasan Hanafi menyatakan kiri Islam bukanlah bersumber dari ideologi Timur atau Barat, tetapi kiri Islam bersumber dari Islam. Kiri Islam bukanlah modernisme dan postmodernisme, tetapi kiri Islam merupakan jalan ketiga atau alternatif pembebasan terhadap nestapa sosial yang menimpa manusia di era modernisme dan postmodernisme. 

Kiri Islam menghiasi postmodernisme dengan paradigma tauhid. Persoalan teknologisasi yang nihil spritualitas keagamaan akan tercover dalam pandangan dunia tauhid yang terimplemantasi dalam Islam serta merefleksikan nilai-nilai ketauhidan tersebut untuk menyelesaikan persoalan primordial keagamaan yang dimunculkan oleh postmodernisme melalui gerkan kiri Islam.

23 Sebagaimana yang dinyatakan Akbar S. Ahmed bahwa umat Islam harus berkecimpung dalam pertarungan dunia global dengan memanfaatkan teknologi media massa tanpa harus melepaskan identitas keislamannya.

  

15 Radhar Panca Dahana, Jejak Posmodernisme: Pergulatan Kaum Intelektual Indonesia (Yogyakarta: Bentang, 2004), h. 24.

16 Peter L. Berger, The Sacred Canopy (Jakarta: LP3ES, 1991), h. 59.

17 Arifin, Islam Pluralisme Budaya, h. 10 -- 11.

18 Frithjof Schuon. Prosesi Ritual Menyingkap Tabir Mencari Yang Inti, terj. Tri Wibowo Budhi Santoso, cet. 2 (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002), h. 156.

19 Alvin Toffler menyatakan berkembangnya gerakan keagamaan sempalan tidak terlepas dari dampak negatif yang terbawa dalam modernisme. Salah satu karakteristik manusia modern adalah kehilangan nilai-nilai spritual dan berkembangnya budaya permissif dan pragmatis. Kecenderungan itu telah menyebabkan manusia modern mengalami kehampaan spritual dan kegersangan kejiwaan sehingga dalam situasi ini mereka membutuhkan seorang figur yang mampu membimbing diri mereka. 

Sebuah sekte keagamaan tertentu akan berkesan di mata manusia modern ketika sekte tersebut menawarkan sebuah ajaran yang diajarkan oleh tokoh karismatik tertentu. Sambutan yang hangat dan perasaan solidaritas serta sikap toleransi yang di bangun oleh sekte tersebut telah menyebabkan manusia modern bersedia bergabung di dalamnya. 

Menurut Alvin Toffler, ajaran sekte diajarkan dengan penuh persahabatan dan tanpa diskriminasi. Kunci keberhasilan sekte semacam ini sangat sederhana yaitu mereka memahami kebutuhan masyarakat baik struktur maupun pengertian. Alvin Toffler, The Third Wave (Toronto: Bantam Books, 1980), h. 375 

20 Menurut Naisbitt dan Patricia Aburdane abad 21 nanti akan terjadi kecenderungan-kecenderungan yang besar dalam kehidupan umat manusia. Kecenderungan-kecenderungan ini otomatis akan membutuhkan persiapan dan sekaligus kegoncangan dalam berbagai aspek kehidupan. Dia menyimpulkan ada 10 kecenderungan yang akan timbul nantinya. Pertama. 

Ledakan ekonomi global tahun 1990-an. Kedua. Renaisans dalam bidang seni. Ketiga. Munculnya pasar bebas Sosialisme. Keempat. Gaya hidup global dan Nasionalisme kebudayaan. Kelima. Privatisasi di negara makmur. 

Keenam. Meningkatkan wilayah Pasifik. Ketujuh. Tahun 1990-an: era wanita dalam kepemimpinan. Kedelapan. Era biologi. Kesembilan. Kebangkitan agama di milenium ketiga. Kesepuluh. Kemenangan individual.  John Naisbitt dan Patricia Aburdane, MegaTrends 2000 (London: Pan Books, 1990), h. 251 

21 Ernest Gellner, Postmodernism, Reason and Religion (London: Routledge, 1992), h. 67.

21 Arifin, Islam Pluralisme Budaya, h. 14.

22 Hanafi. Oposisi Pasca, h. 101.

23 Hanafi. Kiri Islam Antara, h. 15.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
VIDEO PILIHAN