Mohon tunggu...
Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi Mohon Tunggu... Lainnya - Free Writer, ASN

Bacalah!

Selanjutnya

Tutup

Pulih Bersama Pilihan

Lyotard, Narasi Besar, G20, dan Kita

16 November 2022   09:05 Diperbarui: 23 November 2022   13:45 198
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Narasi Besar, G20, dan Kita (Sumber gambar : detik.com)

Satu dari sekian tokoh yang mengembangkan genre pemikiran filosofis-posmodernisme Perancis adalah Jean-Francois Lyotard. Dia bersama filsuf Derrida, Foucault, dan Deleuze yang sekaligus dianggap tokoh berpengaruh dalam gerakan pemikiran postrukturalis dan posmodernisme.

Minat besarnya pada filsafat dipengaruhi para filsuf besar sebelumnya, seperti Nietzsche, Kant, dan Marx. Nama terakhir ini menjadi hal yang menarik di Perancis, yang ditandai dengan model pemikiran Marxis sekitar dekade 50 dan 60-an. 

Lyotard dengan lainnya jelas-jelas bukan seorang Marxis, melainkan seorang aneh untuk menjadi ahli fenomenologi, yang memaafkan dan tanpa menafikan Marxisme. 

Entahlah bagaimana tangan dingin Lyotard mampu menganyam dua aliran pemikiran antara fenomenologis dan Marxisme sebagai titik tolak untuk membangun suatu metode khas melampaui pemikiran struktural. 

Hal itu juga merupakan satu langkah dari titik tolak fenomenologi menuju arah postrukturalisme dan posmoderisme. Secara esensial, langkah itu melika-likukan permasalahan bahasa.

Tidak terlalu jauh dari titik tolak. Permasalahan bahasa di ruang siber dipicu oleh ngebetnya fenomenologi saat ia tidak seiring lagi dengan analisis struktural menjadi syarat berlangsungnya pelepasan relasi langsung antara subyek dengan dunia di luar dirinya.

Lyotard dan Narasi Besar

Narasi teks bergumul dan berakhir dalam ketidakpastian makna, yang pada akhirnya permainan bebas tanda bisa terpenuhi. Sebagaimana telah dipahami, bahwa bahasa telah dilepaskan relasinya dari dunia luar. Sehingga apapun yang terjadi tidak ada lagi hal-hal mutlak dari dirinya. Ketidakhadiran hak istimewa pada makna hingga akhirnya menjebloskan dalam stabilitas maknanya itu sendiri.

Lyotard juga percaya pada bahasa yang tidak lagi stabil berhadapan pada sebuah struktur yang bersamaan untuk melepaskan dirinya dari rujukan tertentu. 

Penyebaran makna ke seluruh arah membuat sebuah perangkap tekstualnya dari representasi kesadaran. 

Sebagaimana obyek konsumsi, setiap orang akan terperangkap dalam lubang teks dan dalam pemikiran itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
  17. 17
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pulih Bersama Selengkapnya
Lihat Pulih Bersama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun