Mohon tunggu...
Abdul AzizArifin
Abdul AzizArifin Mohon Tunggu... Lainnya - Pelajar

Pelajar

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Meraih Mimpi Menggapai Asa

4 Maret 2022   06:28 Diperbarui: 4 Maret 2022   06:30 2781
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

TAHUN TERAHIR BIKIN KETAR KETIR

Semester lima, saat yang paling mendebarkan bagiku. Inilah puncak perjuanganku jika menginginkan tiket undangan ke ITB. Kakakku bulan kemarin masuk UNPAD lewat jalur undangan. Jadi, aku bisa melihat betapa nikmatnya dia melalui libur panjang, sementara teman-temannya masih belajar menyiapkan diri untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur mandiri.
Pelajaran yang kami hadapi semakin berat. Guru kami terbiasa memberi soal-soal standar Cambridge atau Oxford, jadi kami harus belajar ekstra keras.
"Sekarang, kalian mungkin kesusahan menghadapi soal-soal yang membutuhkan cara berfikir analisis tingkat tinggi dan teliti. Tapi, percayalah... kalau kalian diterima di ITB, maka tahun pertama disana kalian  akan  merasa  bahagia.  Dan,  kalian tentunya akan berterimakasih pada kami."
Itulah yang dikatakan wali kelasku. Hmmm... benarkah?. Kakak kelasku yang diterima di ITB bilang, soal-soal dari guru kita jauh lebih sulit dari soal-soal tahun pertama mereka. Lagipula... tidak semua murid

mau melanjutkan kuliah di ITB kan?. Ah, lepas dari semua persoalan tadi, aku harus memakan habis sajian soal yang menyebalkan ini.
Trias dan Dian menjadi kawan yang enak untuk dijadikan teman belajar. Teman-temanku sebagian besar punya guru privat yang membantu mereka memahami pelajaran. Orangtuanya sanggup membayar mahal biaya les, sementara aku dan Dian gak bisa berharap banyak. Trias sebenarnya bisa saja  punya guru  les.  Tapi, kebiasaannya yang tidak betah duduk berlama-lama dengan buku  dan  guru  les,  membuat  mamihnya menghentikan les fisika, kimia dan matematika yang sudah dibayar mahal untuknya. Ah, Trias memang berbeda sekali. Anak ini susah diatur.
*****
"Za, aku diterima program pertukaran pelajar ke Thailand!" Trias  tiba-tiba  berteriak  padaku.  Ya,  beberapa minggu lalu, dia memang ikut tes pertukaran pelajar. Kemampuan bahasa Inggris dan finansialnya memang keren. Jadi, wajar jika dia diterima.
Trias berada di Thailand selama empat bulan. Sedih juga sih berpisah dengan Trias yang tukang ribut,

tapi mau bagaimana lagi? Live must go on. Aku dan Dian kembali larut dalam rutinitas belajar di perpustakaan sekolah.
Hari-hari yang melelahkan karena mengerjakan setumpuk tugas, sedikit terobati oleh kegiatan latihan lingkung seni sunda atau lebih mudahnya disebut LSS. Ya, ide bergabung dengan LSS berawal dari ajakan Dian yang kekurangan personil penabuh  gamelan.  Bulan depan, LSS harus tampil menyambut bapak gubernur untuk meresmikan ruang belajar baru, dengan fasilitas tele converence modern.
Awalnya, susah  banget  menyelaraskan  nada gamelan supaya terdengar harmonis. Tapi, karena latihan yang terus menerus selama tiga minggu, aku bisa juga mengikuti ritme nada hingga bisa menjadi nayaga15 yang handal.
Sekolah terasa lebih semarak, ketika rombongan gubernur dan walikota datang ke sekolah. Kami menjadi tim yang paling banyak menyita perhatian para tamu undangan, karena bisa menampilkan tiga lagu sunda yang dinyanyikan bapak gubernur.
*****

15 Penabuh gamelan sunda.

Menjelang ujian semester lima, Trias pulang. Waaah, dia bercerita banyak tentang kehidupan di Bangkok yang  sangat  bebas,  dan  pelajaran  yang dipelajarinya di Bangkok, jauh lebih mudah dari yang kita terima selama ini. Tapi, ketika dia sadar banyak ketinggalan pelajaran, Trias mulai kelabakan karena harus mempelajari secara marathon, pelajaran yang ditinggalkannya selama empat bulan. Untunglah, kali ini Trias  menurut  pada  mamihnya  yang  sudah menyiapkan guru les. Itulah sebabnya, setelah pulang sekolah, Trias tidak bebas belajar bareng kami di perpustakaan.
Ujian ahir semester dapat kulalui dengan baik. Ya, meskipun hampir setiap hari aku harus belajar sampai larut malam, pengorbananku ini berbuah manis. Nilai raport ku lebih baik dari semester empat.
Setelah usainya masa liburan semester lima yang hanya seminggu, kami kembali larut dalam aktifitas belajar yang padat. Ya, sekarang ini kami harus menyiapkan diri untuk ujian nasional. Trias yang biasanya menolak untuk privat, kali ini bisa berdamai dengan mamihnya. Uniknya, Trias melibatkan kami

agar mau menemaninya belajar bareng guru privat yang dibayar mamih. Tentu saja, aku dan Dian tersenyum cerah karena bisa belajar dengan fasilitas guru privat yang keren. Dampaknya, kami semua lebih semangat belajar.
Setelah empat bulan belajar maksimal, kami  ahirnya mengikuti ujian nasional berbasis komputer. UNBK dapat kulalui dengan baik, karena soal-soalnya hampir sama dengan yang biasa kami kerjakan. Bahkan, menurut beberapa orang, soal UNBK ini lebih mudah.
Tidak lama setelah  UNBK,  kami  melakukan pemberkasan untuk  jalur  undangan  ke  universitas negeri yang dipilihnya masing-masing. Aku memilih jurusan teknik fisika sementara Dian memilih Metalurgi dan Teknik Kimia ITB.
BagaimanadenganTrias?Oooh,diasudah mendapat beasiswa untuk kuliah di Bangkok, jadi dia tidak begitu peduli dengan pemberkasan jalur undangan. Menunggu itu membuat pergerakan waktu terasa lambat.Ya,ituyangakurasakansaatmenanti pengumuman jalur undangan. Masa penantian itu kuisi

dengan mempelajari soal-soal SBMPTN. Bagaimanapun juga, aku harus punya planning B untuk masuk ke ITB.
Hampir setiap hari, aku datang ke Masjid Salman, ITB. Disana aku belajar bareng teman-teman lainnya. Sebulan lebih aku belajar disana, dan hasilnya lumayan membuat aku yakin mampu mengerjakan soal-soal SBMPTN.
Kegiatan belajar  di  Masjid  Salman  ahirnya kuhentikan, karena aku sudah diterima di FTI jurusan Teknik Fisika. Aku bisa diterima karena mengambil program peminatan. Sayangnya, kebahagiaanku tidak dinikmati oleh Dian. Itulah sebabnya, Dian masih harus terus berjuang belajar dengan teman-teman lainnya. Setelah mengikuti SBMPTN, Dian ahirnya diterima di IPB.
*****

MIMPI ITU, AHIRNYA BISA KUGAPAI

Tahun pertama kuliah di ITB menjadi tahun yang paling melelahkan. Saat itu, kami belum masuk ke jurusan yang dipilih, tetapi masuk tahap persiapan.
Aku bertemu teman-teman baru dari seluruh Indonesia. Mengenal karakter baru, suasana baru dan ritme belajar baru yang lebih  menantang. Karena  hampir 70% siswa SMA 3 yang kelas XII diterima di ITB, maka dengan  mudah  aku  punya  banyak  teman.  Banyaknya mahasiswa baru yang berasal dari sekolahku ternyata berdampak saat proses perkuliahan di kelas. Jika dosen meminta salah seorang mahasiswa maju ke depan untuk mengerjakan latihan soal, maka yang pertama dipanggil pastilah kami.
"Ayo, mana anak-anak tiga, cepat maju. Kalian sudah biasa  mengerjakan  soal-soal  seperti  ini!" begitulah para dosen memanggil kami. Aku sering  ngumpet kalau gak siap. Malu juga jika tidak bisa menjawab soal dengan benar. Wah, apa yang dikatakan guruku ternyata benar, apa yang kami lakukan saat SMA dulu, terasa manfaatnya sekarang. Teman-teman

yang lain mengenal kami sebagai kelompok besar berotak brilyan. Jadi, kalau ada kelompok kerja, maka anak-anak dari tiga, selalu menjadi leader.
Selain sibuk kuliah, kami juga harus mengikuti masa orientasi yang diselenggarakan fakultas maupun jurusan. Masa  orientasi  menjadi  masa-masa  yang menyenangkan, karena bisa tertawa lepas bareng teman. Oh ya, kalian tau, selama setahun kuliah, koleksi jaket dengan tulisan FTI -- ITB begitu banyak. Kadang, adikku Mahdi yang kini menjadi siswa SMA jurusan IPS, ikut memakai jaket-jaket itu. Pernah, suatu hari Mahdi mengeluh padaku.
"Teh, gimana yah... aku merasa punya beban berat. Aa kuliah di UNPAD, teteh di ITB, nah... aku kuliah dimana nanti? Kalian pinter, sementara aku merasa gak pinter. Ajarin aku dong," katanya dengan muka sedih.
Awalnya aku mau menjawab sekenanya. Tapi, melihat wajahnya yang tampak serius, aku gak tega.
"Ka, tau gak. Saat dua  tahun lalu  ibu memutuskan masuk kuliah program Doktor, aku lho yang pertamakali keberatan. Kenapa? Karena kufikir,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
  17. 17
  18. 18
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun