Mohon tunggu...
Theodorus BM
Theodorus BM Mohon Tunggu... Administrasi - Writer

Seorang pemuda yang senang menyusun cerita dan sejarah IG: @theobenhard email: theo_marbun@yahoo.com wattpad: @theobenhard

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Pewaris Tahta yang Bersembunyi [Novel Nusa Antara]

22 April 2020   09:31 Diperbarui: 22 April 2020   09:32 189
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Langit sudah memerah di sore itu. Mapala Senadi memandang keluar jendela menara. Menara itu terletak di kaki Gunung Merbabu, menghadap ke arah barat. Dari jendela dapat terlihat padang rumput luas yang menjadi ciri khas dataran Kedu. Beberapa pemuda yang sedang duduk -- duduk terlihat dalam suatu barisan di dataran Kedu. Perlengkapan perang seperti tombak, pedang, dan tameng kayu terlihat di samping masing - masing. Jika diperhatikan lebih jeli beberapa membawa obor untuk jaga -- jaga, seandainya pertarungan akan berlangsung hingga malam hari.

Rakai Pikatan melangkah menuju teras yang terletak di bagian utara. Ia memandang ke atas. Langit cerah tidak membuat puncak Gunung Merbabu terlihat. Awan -- awan menghalangi pandangannya.

"Apakah kau pikir pemuda -- pemuda ini cukup untuk menghalau serangan prajurit Sriwijaya, tuan Mapala Senadi? Jumlahnya sedikit sekali." Raka Saputro kembali bertanya.

Mapala Senadi melangkah menuju teras dan mengikuti tindakan Rakai Pikatan.

"Aku membagi pasukanku menjadi dua bagian, Raka Saputro. Beberapa akan berada di tebing utara. Beberapa di sini. Kau belum melihat semuanya. Para pemuda dari dataran Kedu dan Mamrati sedang mempersiapkan diri mereka."

Rakai Pikatan membalas ucapan Mapala Senadi, "Bukankah orang - orang Mamrati enggan meninggalkan tempat mereka? Mereka berada di sini?"

"Aku memanggil mereka, Rakai Pikatan. Ya, Mamrati telah dikosongkan dan para pemudanya telah menyatukan kekuatan di sini."

Raka Saputro menyadari sesuatu, namun Mapala Senadi kembali mendahuluinya, "Dan ya, pasukan Mpu Panca telah dikalahkan. Tidak ada kapal laut Medang yang tersisa. Kabar dari telik sandi yang datang tidak bisa memastikan berapa orang yang selamat dan mati."

Raka Saputro dan Rakai Pikatan menunduk tanda kecewa.

"Oleh karena itu, bersiaplah, sebentar lagi mereka akan datang. Mungkin pertarungan malam hari tidak dapat dihindarkan. Namun aku bersyukur, pasukan Mamrati dan Kedu dapat diajak bekerja sama. Aku ucapkan terima kasih kepada Pramawisastra."

Rakai Pikatan menoleh kepada seseorang yang sedang bersemedi di pojok ruangan. Sang bupati Mamrati ada di tempat ini. Seperti tidak mendengar ucapan Mapala Senadi, ia tetap melanjutkan tapanya. Mapala Senadi tersenyum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun