Mohon tunggu...
Itha Abimanyu
Itha Abimanyu Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Hanya seorang pengangguran

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi: Mengunyah Kepedihan

3 Desember 2022   15:14 Diperbarui: 25 Desember 2022   22:33 284
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi panci kosong di dekat bara api. Sumber: Pexels/Emir Kaan Okutan

MENGUNYAH KEPEDIHAN

Gerimis turun di mata perempuan itu
Seorang lelaki pulang tanpa uang saku
Sedang tungku belumlah menyala
Perut mereka tak henti bersuara

Seorang lelaki menjadi begitu kecemasan
Dipeluknya perempuan membekukan deraian
"Kita panaskan lagi kenangan." Lelaki berkata.
Perempuan beranjak sambil menggenggam doa

Semangkuk duka dilahap berbarengan
Keduanya khusyuk mengunyah kepedihan
Sesekali, perempuan menengok ke arah luar jendela
"Siapa tahu ada yang menjajakan bahagia," ucapnya.

Sumedang, 3 Desember 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun