Mohon tunggu...
Hendra Fahrizal
Hendra Fahrizal Mohon Tunggu... Videografer, Documentary Maker, Traveler.

Hendra Fahrizal, berdomisli di Banda Aceh.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Cerita Seorang Bapak: Ikut Program Bayi Tabung dengan Dokter Binarwan Halim

11 Mei 2018   23:30 Diperbarui: 6 April 2019   12:22 0 6 3 Mohon Tunggu...
Cerita Seorang Bapak: Ikut Program Bayi Tabung dengan Dokter Binarwan Halim
pixabay.com

Mungkin begitu banyak blog yang menceritakan pengalaman berobat bayi tabung atau istilah medisnya In Vitro Fertilization. Biasa yang menulis adalah ibu-ibu. Nah, ini adalah versi dari sudut pandang bapak-bapak.

Awalnya, saya nggak begitu setuju dengan istilah "bayi tabung" yang terasa rada menyeramkan dan rada kayak rekayasa genetika macam apalah, seperti membiakkan bayi dari senyawa batu krypton dicampur nitrogen. Padahal sebenarnya secara prosesnya lebih sederhana.

Louise Joy Brown, Bayi Tabung Pertama Dunia, 1978.
Louise Joy Brown, Bayi Tabung Pertama Dunia, 1978.
Saya menikah dengan istri saya, Maya, sudah hampir 5 tahun. Dua tahun setelah menikah dan belum punya anak, kami mulai memulai program hamil, walau awalnya tak terlalu fokus. Pakai jasa dokter lokal di Banda Aceh, kota tempat kami berdomisili, tapi tak berhasil. Lalu berobat tradisional 2 kali. Pada masa tersebut, istri saya pernah hamil. Hanya saja terlambat diketahui. Hal itu disebabkan karena siklus menstruasinya tidak teratur benar, jadi kala terlambat datang bulan, kami mengira itu hal biasa karena sering terjadi. Jadi, begitu sekali ini terlambat bulan, istri saya tak lekas mengecek dokter atau menguji pada test-pack. Begitu tahu hamil, istri saya ternyata sudah 7 minggu. Tak terlalu lama, muncul flek dan akhirnya keguguran. Bisa jadi karena tak dijaga dengan kesibukannya sebagai karyawan bank.

Setelah istirahat berhubungan selama 3-4 bulan setelah dikuret, kami melanjutkan proses "senyawafikasi" seperti biasa. Dalam setahun juga belum menghasilkan.

Lalu muncullah ide untuk berobat ke Medan.

Medan here we go. Dibelakang itu, rada kebetulan ya inisialnya.
Medan here we go. Dibelakang itu, rada kebetulan ya inisialnya.
Berobat ke Medan ini setelah melihat teman seperjuangan sewaktu berobat tradisional kini telah hamil dan punya anak. Mereka cerita, mereka berobat di Halim Fertility Centre, dengan dokter Binarwan Halim. Hanya saja, keberhasilan itu bukan dengan program bayi tabung. Hanya proses pengobatan medis biasa akibat kista. Tapi, karena berhasil, ya tak ada salahnya untuk kami coba juga. Cek punya cek di internet, dokter ini sudah melanglang buana belajar dari Singapura hingga Amerika dan beliau adalah dokter pertama yang mampu melakukan proses bayi tabung di luar Jawa. Keren juga nih. Tapi, ada beberapa blog yang menyebut biaya sama dokter ini rada mahal. Apa benar? Soal budget kita akan bahas di akhir. 

dr. Binarwan Halim (sumber : FB Binarwan Halim)
dr. Binarwan Halim (sumber : FB Binarwan Halim)
Setelah mencari-cari informasi, kami mencoba menghubungi pihak klinik. Pihak klinik mengatakan, jika ingin datang untuk pertama kali, silakan datang pada hari kedua istri menstruasi. Berangkatlah kami ke Medan menjelang menstruasi hari kedua itu. Tiba di klinik, kami ditanya-tanya riwayat penyakit, seperti apakah ada penyakit maag, diabetes, pernah operasi dan seterusnya. Nah ini yang saya suka. Karena yang saya tahu, setiap kendala medis itu kerap berhubungan dengan penyakit lainnya. Proses ini tak kami lewati waktu berobat di Banda Aceh. Saya juga tahu, misalnya, bila ada riwayat diabetes maka seseorang juga menjadi sulit hamil, bukan hanya karena faktor sebatas penyakit dalam kelamin seperti kista, keputihan, dan seterusnya.

Kami diminta melakukan cek darah juga di lab. Karena saya tinggal di Banda Aceh, mereka membolehkan cek darah dilakukan di Banda Aceh. Saya juga diminta melakukan uji sperma untuk di cek kesehatannya. 

Langkah berikutnya, istri saya di papsmear. Ia juga di-USG oleh dokter. Di situ dokter mengatakan bahwa istri saya keputihan. Lalu dokter memberi jadwal untuk melakukan HSG (hysterosalpingography, bisa nggak bacanya tuh), yaitu tes untuk mengecek saluran pada rahim untuk mendeteksi kesuburan, lalu dilakukan pula pembersihan saluran di vaginanya agar sperma dapat menempuh perjalanannya dengan aman dan nyaman seperti jalan tol. 

Pada saat melakukan HSG, saya tak boleh masuk saat tindakan. Selesai tindakan, saya baru melihat, sarung tangan dokter yang melakukan proses itu sudah berdarah-darah. Wah, pake darah-darah juga ya ternyata. Terus dokter berkata, bahwa setelah ini nanti akan ada reaksi-reaksi nyeri dan sejenisnya, jadi ia meminta diabaikan saja. Menjelang pulang, kami dibekali obat.

Keterangan foto : Istri saya setelah di HSG.
Keterangan foto : Istri saya setelah di HSG.
Setelah beberapa hari proses HSG, kami diminta berhubungan lagi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Istri akan dicek lagi untuk dilihat apakah sperma "mendapat jalur yang benar" menuju telur. Nama proses ini adalah UPS atau Uji Pasca Senggama. Nanti akan dilihat seberapa banyak sperma tertinggal di sel telur ini. Untuk ini, seingat saya dokter tak memberitahu hasilnya.

Kami lalu diberi obat untuk sebulan. Artinya, menjalani program hamil dengan dokter ini tetaplah melewati tahapan mengkonsumsi obat-obatan lebih dulu. Bila gagal, baru akan naik ke tingkatan pengobatan selanjutnya, yaitu inseminasi, dan terakhir, bayi tabung. 

Kami menjalani proses mengkonsumsi obat ini selama 3 bulan, setiap obat ditebus per bulan. Setelah 3 bulan berjalan tak ada perkembangan positif, selepas lebaran pada Juli 2017 lalu kami memutuskan untuk meningkatkan program hamil ke tahap ke lebih tinggi, yaitu inseminasi. Dokter juga menyarankan demikian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12