Mohon tunggu...
Danu Supriyati
Danu Supriyati Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis lepas

Ibu rumah tangga yang tadinya berprofesi sebagai guru formal. Memilih resign untuk menjadi madrasah bagi anak - anak di rumah dan menekuni dunia literasi.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Elegi Warung Kopi

16 September 2022   17:42 Diperbarui: 16 September 2022   17:50 68 9 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Makin siang makin ramai
Secangkir kopi dan gorengan masih menjadi idola
Primadona ojek pengkolan

Keluh kesah berbaur canda
Tumpah ruah seiring tawa yang merekah
Hidup yang makin susah hingga urusan ranjang

Tidak lagi tabu, justru semakin seru
Belum lagi asap dari berbagai mulut
Mengepul saling kait lalu terhempas

Hingga pesan masuk memberi kode
Satu demi satu dapat giliran penumpang
Warkop semi permanen kembali sunyi

Menyisakan sang pemilik yang terbengong
Cuan - cuan masih tergadai di catatan
Tukang ojek sudah biasa berhutang

Mengangsur tiap bulan
Itu pun jika ada uang lebihan
Pemilik warkop menyimpulkan senyum

Hatinya merapalkan harap pada-Nya
Semoga para pejuang rupiah ramai penumpang
Agar dapat melunasi hutang

Kebumen, 16 September 2022

Penulis

Danu Supriyati

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan