Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Antologi puisi: Tiga Bicara Hujan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi: Lampu-Lampu Dalam Kepala

3 September 2022   06:19 Diperbarui: 5 September 2022   22:15 247 47 14
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi lampu kota di malam hari. Sumber: holdosi/Pixabay.com

Seberapa sering kita memasukkan kota-kota dalam kepala Memindahkan lampu-lampu, masuk ke lorong-lorong ingatan. Mimpi-mimpi acap tak menemui jalan

Di jalanan orang-orang berusaha membagi ngakak. Menutupi luka yang tiap sebentar selalu retak

Dan kita seperti mementaskan sebuah drama, tapi tak mengerti sedang memerankan apa. Cerita-cerita cepat sekali berubah. Hari ini melakonkan tabah, esok tentang hati yang patah

Baca juga: Kepada Yth. Kepala

Tangisan anak ikut terbawa, pada riuh lalu lintas jalan, pengapnya asap pabrik, dan ringkihnya tubuh  tersebab aliran napas yang tercekik

Kita terguncang-guncang di dalam angkutan kota, terayun-ayun di kereta

Membuka HP. Membaca atau membalas pesan, melihat gambar, potongan berita, atau hanya berpura-pura, karena memang, tak ada lagi paket data

Kita ingin lampu-lampu
Agar tak gelap pandang
karena selama ini selalu di barisan para pecundang

Baca juga: Kepada Malam

***

Lebakwana, September 2022

Baca juga: Kepala

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan