Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Memeluk Air Mata

10 Januari 2021   05:11 Diperbarui: 10 Januari 2021   05:14 236 81 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memeluk Air Mata
Ilustrasi. Foto oleh Rosie Ann/ Pexels 

Tunjukkan padaku cara memperpendek  jarak, malam-malam yang sendiri, dinding kamar sunyi, satu, satu, seperti menghitung daun yang jatuh, mengirimkan cemas, menunggu dari arah mana dikirim suara-suara 

Aku hanya ingin engkau merasa ramai saat dada disapu badai 

Memeluk air matamu 

Mengalir bersama kata-kata. Merembes dinding. Di kedalaman yang paling. Agar kaurasakan juga, cinta itu manis. Tak selamanya berisi dengan tangis

Singkirkan sejenak laptop itu. Ia hanya memberikan kehangatan yang dingin. Bersandarlah pada bahuku, biar aroma rambutmu dapat kuhidu, juga mendaratkan kecupan di keningmu ( yang katamu lebar itu ) 

Dan kita berebut siapa yang akan membuat minuman. Begini saja, kau membuat kopi untukku, dan aku yang membuatkan teh untukmu 

Kemudian kita kembali berpelukan. Bertukar cerita. Atau hati kita saja yang saling bicara. Diam. Mendengar degup jantung kita masing-masing 

Hingga pagi 

***

Lebakwana, Januari 2021 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
10 Januari 2021