Mohon tunggu...
Alex Japalatu
Alex Japalatu Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Suka kopi, musik, film dan jalan-jalan. Senang menulis tentang kebiasaan sehari-hari warga di berbagai pelosok Indonesia yang didatangi.

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Merauke Setelah 13 Tahun

26 Juli 2022   10:16 Diperbarui: 26 Juli 2022   10:31 943
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sudah demikian, kata dia, tidak ramai lagi NGO yang melakukan pendampingan dan pemberdayaan bagi ODHA. Seperti yang pernah dilakukan WVI.

"Dulu lembaga yang mendampingi sangat ramai. Bahkan terkesan seperti rebutan lahan.Tetapi saya tahu mana yang benar-benar serius, mana yang sekadar untuk kasih habis anggaran. WVI melalui Program CAKAP sangat baik ketika itu," kata dia.

Tetrin W. Mandik, Behavior Change Communication Coordinator WVI, yang khusus menangani proyek CAKAP mengatakan, generasi muda di Papua termasuk di Meroke masuk pada resiko tinggi karena beberapa fakta menunjukkan mereka telah melakukan praktik seks pada usia sangat muda, film porno sangat mudah ditemukan, seks untuk uang juga dilakukan di kalangan remaja perempuan. Banyak pemuda terlibat dalam mengendus lem, merokok dan miras.

Kepada penulis, Tetrin membeberkan angka-angka.

"HIV mulai menyebar ke populasi umum di Papua," simpul dia.

Kongregasi MSC sebenarnya memiliki shelter. Rumah tiga lantai. Berada sedikit di luar kota Meroke. Dibangun khusus untuk menampung dan memberdayakan ODHA. Tapi rumah itu sekarang kosong. Tak ada penghuninya.

"Pernah ada yang tinggal, tetapi tidak betah. Entah bagaimana lagi kita mau mulai sekarang," ujar Pastor Miller mashgul.

Saya bertemu Pdt. Sefnat Lobwaer di Jayapura. Dia Ketua Yayasan Cendrawasih Bersatu Mandiri (CBM). Dulu, Sefnat sukarelawan dalam program CAKAP dan Tander Loving Care (TLC) WVI. Program yang terakhir ini juga dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Meroke. Sambil ikut sebagai sukarelawan, ia mendirikan CBM.

"CBM atas usul Pak Alo Bambang. Kami diminta bikin yayasan. Tetapi jangan gabung dalam gereja atau berada di bawah lembaga tertentu. Jadilah CBM menjadi yayasan pada 2016. Kami sekarang berada di 8 kabupaten/kota di seluruh Provinsi Papua, dengan 32 orang staf," jelasnya. Yayasan CBM fokus pada pendampingan dan pendataan ODHA.

Sefnat bercerita tentang kesendiriannya mengurus ODHA kini. Sementara permasalahan ODHA di Papua justru kian membesar. Selain penularan melalui ibu ke anak, sekarang muncul fenomena baru yakni penularan melalui LSL (Lelaki Suka Lelaki).

"LSL ini sedang trend di Papua," kata Sefnat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun