Mohon tunggu...
Alex Japalatu
Alex Japalatu Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Suka kopi, musik, film dan jalan-jalan. Senang menulis tentang kebiasaan sehari-hari warga di berbagai pelosok Indonesia yang didatangi.

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Merauke Setelah 13 Tahun

26 Juli 2022   10:16 Diperbarui: 26 Juli 2022   10:31 943
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Papa saya pergi waktu saya belum lahir. Dia orang Buton. Jadi saya ini lahir tidak kenal Papa. Sekarang beliau tinggal di Manokwari. Sudah kawin lagi. Sementara Mama orang Muyu. Tinggal di kampung, di Tanah Merah," kata Nato. Tanah Merah berada di Kabupaten Boven Digul, sekitar 7-8 jam naik mobil. Kalau dengan pesawat  hanya 45 menit. Bandara berada di Tanah Merah. 

Dan Suku Muyu? Saya baru tuntas membaca Buku Manusia Irian, Dahulu, Sekarang, Masa Depan (Gramedia, 1986) yang ditulis Pastor Yan Boelaars, MSC, seorang biarawan dari Kongregasi Hati Kudus Yesus (Societas Missionariorum Sacratissimi Cordis Jesu) tentang suku ini, dan suku-suku lainnya di bagian selatan Papua. Pastor Yan seorang antropolog. Ia meraih gelar doktor linguistik dari Universitas Negeri Ultrecht, Belanda. Ia menjadi dosen di STFT Pineleng, STF Ledalero Flores dan STF Driyarkara Jakarta sekaligus.

Buku ini mula-mula ditulis dalam bahasa Belanda, sebelum diterjemahkan dengan sangat elok oleh Marcel Beding (1932-1998). Saya pikir Buku "Manusia Irian..." yang ditulis Pastor Boelaars ini salah satu yang paling komprehensif membahas tentang hubungan dan tata cara kehidupan masyarakat di selatan Papua.

Ternyata Nato baru pulang dari Jakarta. Ia tidak betah hidup di ibukota. Apalagi, menurutnya,  kontrak yang disodorkan produser untuk Sinetron Epen Cupen tidak jelas.

"Tra jelas. Kadang syuting. Kadang tidak. Jadi sa minta pulang Meroke saja. Sa baru kasih masuk lamaran ke kantor Diknas. Mau kerja kantoran saja," ujarnya.

Nato bisa bersekolah karena ikut pamannya. Ketika SMP dan SMA dia berjualan minyak tanah. Sambil itu dia bawa barang ke perbatasan PNG. Pakai motor. Barang-barang kelontong, minyak goreng dan rokok, yang ditukar dengan daging celeng atau rusa. Daging ini kemudian dijual di Meroke. Begitu terus setiap dua atau tiga hari.

"Saya hanya modal motor dan paspor," kata Nato.

Nato sambil bekerja sambil sekolah. Sampai selesai S1 di sebuah sekolah tinggi di Meroke.

"Saya bisa lulus S1 sungguh mukjizat," ucapnya.

Waktu kuliah itu, kata Nato,  ada orang cari-cari bakat. Yang bisa akting. Ternyata untuk syuting acara Epen Cupen. Nato ikut casting. Kata dia, aktingnya macam-macam. Salah satunya disuruh menangis.

"Saya lulus karena bisa menangis," kata Nato.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun