Mohon tunggu...
Alex Japalatu
Alex Japalatu Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Suka kopi, musik, film dan jalan-jalan. Senang menulis tentang kebiasaan sehari-hari warga di berbagai pelosok Indonesia yang didatangi.

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Merauke Setelah 13 Tahun

26 Juli 2022   10:16 Diperbarui: 26 Juli 2022   10:31 943
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tetapi rencana ke sana diundur dua kali. Sebab susah mendapatkan kendaraan. Sedang "musim" lebaran. Penyewaaan mobil sedang laris-larisnya. Orang-orang dari Meroke kota mesti pulang kampung. Mengunjungi sanak-saudara mereka. Di lokasi-lokasi transmigrasi yang jauh. Atau di kabupaten lain. Bulan yang baik untuk saling memaafkan.

Kalaupun ada mobil, harga sewanya naik tinggi. Biasanya Rp 500 ribu per 24 jam. Menjadi Rp 1,2 juta. Hari pertama lebaran bahkan tembus Rp 1,7 juta. Padahal bensin harus ditanggung sendiri. Hukum ekonomi berlaku di sini.

Sebenarnya WVI punya mobil yang tangguh. Dari jenis 4WD. Tapi karena jarang dipakai jadi sering macet. Takutnya tiba-tiba ngadat dalam perjalanan. Kalau dekat pemukiman tak jadi soal. Tapi kalau di tengah padang belantara? Mesti jalan kaki berkilo-kilometer. 

=000=

Kami berkendara melewati kampung-kampung ini: Kuprik, Semangga, Tanah Miring, Netto, Salor, Harapan, Kurik, baru Kumbe. Sebagian besar badan jalan sudah diaspal. Saya lancar mengeja nama-nama daerah ini berkat Maria Widiastuti, Dosen Universitas Musamus yang ikut hari itu. Maria mantan staf bidang Monev di WVI. Karena kerap mendampingi mahasiswa melakukan praktik lapangan, ia hafal luar kepala daerah-daerah ini.

Beserta kami ada pula staf WVI MARO Adrian Johanis bersama istri dan putra kecil mereka. Putra Mas Bowo, Totti, juga ikut. Mas Bowo tak tergantikan mengendalikan setir hari itu.

Kami berhenti sejenak di Tanah Miring. Ada monumen LB Moerdani di sana. Patung tentara baret merah di tengah pertigaan jalan. Sedang memegang senjata laras panjang dan tali-temali parasut. Di tempat inilah LB Moerdani bersama pasukannya mendarat pada Juni 1962. Untuk merebut Meroke dari tangan Belanda. Biar konsentrasi Belanda yang berpusat di Biak, di bagian utara Papua, kacau.

"Kalau anak-istri Belanda bisa kita tawan, mereka pasti kerahkan pasukan dari Biak untuk serang ke Merauke. Biak akan diserang oleh tentara Indonesia dan mudah dikuasai," kata Moerdani seperti dituturkan dalam biografi Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan yang ditulis wartawan Julius Pour.

Operasi Naga yang dipimpin Moerdani melibatkan 215 personel: 55 RPKAD dan 160 pasukan dari Batalyon 530/Brawijaya. Karena kurang persiapan, pasukan nyasar 30 km ke utara dari droping zone. Sungai Kumbai disangka Sungai Merauke yang mestinya menjadi titik pendaratan. Pilot susah melihat daratan. Pohon-pohon tinggi menjulang. Sebulan kemudian barulah sebagian besar anggota pasukan bisa disatukan. Dalam kondisi compang-camping.

LB Moerdani masih berpangkat mayor kala itu. Tetapi kemudian ia menjadi ikon di TNI. Ahli strategi. Intel jempolan. Dijuluki 'unsmiling general'. Karena irit senyum. Pembawaannya serius melulu. Mungkin seperti Jenderal (purn) Luhut Panjaitan sekarang. Guru dan murid setali tiga duit!

Moerdani pensiun dengan pangkat jenderal. Pernah menjadi Panglima ABRI. Juga Menteri Pertahanan dan Keamanan. Juga sebagai Pangkopkamtib. Semua pada zaman Soeharto.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun