Mohon tunggu...
zaldy chan
zaldy chan Mohon Tunggu... Administrasi - ASN (Apapun Sing penting Nulis)

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

NIK | "Just for You" [13]

14 Agustus 2019   08:15 Diperbarui: 14 Agustus 2019   08:25 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
illustrated by pixabay.com

Keluar dari masjid kampus. Langkahmu diarahkan ke gedung belajar. Berdua, berjalan bersisian di terik panas Bukit Limau Manis. Lewati Gedung Rektorat, melintasi sisi lapangan bola. Berhenti dan duduk sebentar di Gedung E. Tak bicara, aku pun tak bertanya. Kau mengajakku ke Gedung F dan Gedung D.

Tak lelah, kau tarik lenganku. Lalui Dekanat Fmipa. Telusuri jalan menurun, menuju Dekanat Ekonomi. Hingga, kau tuju Auditorium tempat wisuda. Kubiarkan, kau ambil alih kendali. Langkahmu berhenti, dan duduk di anak tangga auditorium.

Bulir keringat, basahi sisi wajahmu yang memerah. Aku geleng kepala menatapmu. Kau tersenyum. Keluarkan botol minummu. Kau ajukan padaku. Kubuka tutupnya, kembali kuserahkan padamu. Kau memandangku. Kuanggukkan kepala. Kau reguk isi botolmu.

"Mas gak minum?"

"Kan, belum?"


Kau tertawa. Serahkan kembali botol di tanganmu. Kureguk sedikit, botol minuman kuletakkan di anak tangga. Menjadi batas duduk kau dan aku. Sambil tersenyum, kunyalakan rokok. Kau bersandar di pilar auditorium. Memandangku dalam diam.

"Nik kenapa?"

"Entah!"

Kukira, kau takkan lupa. Aku tak pernah suka, mendengar kata entah. Tapi siang itu, kau ujarkan padaku. Aku diam. Memandang dari jauh, Dekanat Hukum di sisi lapangan bola. Lima tahun, kuhabiskan waktu. Dan akan berakhir di hari sabtu. Di gedung auditorium. Tempat kau dan aku duduk saat itu.

Akhirnya, kusadari. Kau ajak menapaktilasi semua jalur, yang pernah kau dan aku lalui. Juga beningmu. Tanpa setahuku hadir, dalam diammu. Kubiarkan, kau tata rasamu. Jika sudah begitu, diam adalah pilihan terbaikku.

Sejak tadi. Hanya ada hening dan beningmu. Aku menatapmu. Tetiba kau cubit lenganku, kuusap beningmu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun