Mohon tunggu...
Wiwin Zein
Wiwin Zein Mohon Tunggu... Freelancer - Wisdom Lover

Tinggal di Cianjur

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Rokok Itu Seperti BBM

6 November 2022   07:28 Diperbarui: 6 November 2022   13:22 421
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: pixabay.com

Ya, saya mengibaratkan rokok seperti BBM (Bahan Bakar Minyak). Kendati harganya terus naik tetap dikonsumsi.

Tak ada ceritanya karena harga BBM dinaikkan, orang kemudian berhenti menggunakan kendaraan. Orang tetap saja mencari dan membeli BBM, kendati harus mengantre.

Begitupula dengan rokok. Adanya keputusan pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk menaikkan cukai rokok yang pasti berimbas kepada naiknya harga rokok, tak akan menyurutkan para perokok untuk berhenti merokok. Sebab Bagi sebagian orang rokok itu sudah menjadi "kebutuhan pokok".  

Hal itu sangat jelas, Menteri Keuangan sendiri mengetahuinya dengan pasti. Menteri Keuangan menyampaikan bahwa konsumsi rokok merupakan konsumsi tertinggi kedua setelah beras. Konsumsi rokok bahkan lebih tinggi dari konsumsi protein atau makanan bergizi.

Oleh karena itu jika alasan pemerintah menaikkan cukai rokok (yang pasti membuat harga rokok juga naik) untuk menurunkan angka perokok, bagi saya agak absurd. Para perokok tak akan terpengaruh dengan harga rokok, kendati harus menambah "bujet" untuk rokok.

Malah sebagian orang khawatir, dengan dinaikkannya cukai rokok yang membuat harga rokok semakin mahal akan membuat orang miskin makin miskin. Mengapa? Sebab menurut penelitian bahwa mayoritas perokok adalah orang miskin.

Artinya orang miskin yang merokok akan berupaya memenuhi kebutuhannya, yakni tetap bisa merokok. Sementara penghasilannya tidak bertambah. Bagaimana caranya? Mereka pasti akan mengambil dari alokasi untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Dengan sendirinya pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari yang memang lebih dibutuhkan akan terkurangi untuk konsumsi rokok. Jatah untuk beli lauk pauk atau yang lainnya pasti akan terkurangi untuk konsumsi rokok.

Bagi perokok dari kalangan menengah atau atas, tentu naiknya harga rokok tak akan terlalu berpengaruh dan tidak masalah. Mereka tak akan sampai mengurangi jatah untuk kebutuhan pokok mereka sehari-hari.   

Para perokok itu bisa disebut sebagai  "petarung sejati". Mereka tak akan mudah berhenti merokok hanya karena naiknya harga rokok.

Apakah para perokok tidak tahu bahaya merokok bagi kesehatan? Mereka pasti tahu. Tapi apakah mereka berhenti merokok karena ada peringatan di bungkus rokok bahwa "Rokok Membunuhmu"? Tentu tidak.

Bahkan gambar yang menakutkan di bungkus rokok pun tak menyurutkan para perokok berhenti merokok. Padahal tak kurang mengerikan gambar yang ada di bungkus rokok. Ada orang yang tenggorokannya bolong, ada kepala tengkorak, ada orang yang mulutnya rusak mengerikan, dan sebagainya.  

Oleh karena itu saya lebih setuju jika pemerintah menaikkan cukai rokok untuk menambah penerimaan atau pendapatan negara. Itu lebih jujur. Dalam hal ini mungkin tujuan inti pemerintah juga itu, tapi tidak to the point. Harus ada argumen lain. Tapi sayang, argumennya agak absurd.

Dengan demikian jika pemerintah ingin menurunkan angka perokok bukan dengan cara menaikkan harga rokok. Menurunkan angka perokok adalah dengan cara menurunkan produksi rokok.

Akan tetapi hal itu pasti akan berimbas kepada penerimaan negara dari rokok. Sebab penerimaan negara dari rokok terhitung sangat besar.

Selain itu dengan menurunkan atau mengurangi produksi rokok juga akan berimbas kepada para pekerja pabrik rokok dan para petani tembakau atau cengkeh. Mereka akan berkurang pendapatannya.

Jadi pemerintah harus mencari cara lain untuk menurunkan angka perokok. Cara yang paling masuk akal adalah dengan mengurangi angka orang miskin. Sebab mayoritas perokok adalah orang miskin. Logikanya jika mereka sudah tidak miskin lagi, dengan sendirinya jumlah perokok akan berkurang.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun