Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Rembulan, Cinta, dan Rindu

3 Oktober 2019   14:46 Diperbarui: 3 Oktober 2019   14:49 0 31 11 Mohon Tunggu...
Puisi | Rembulan, Cinta, dan Rindu
Ilustrasi: dok. Wahyu Sapta

malam ketika rembulan menitipkan cahaya pada pusaran angin yang sedang basah oleh sisa hujan, bergegas kupunguti tetes-tetes air yang menyala karena sinarnya

adalah sebuah rahasia antara keduanya, rembulan yang bersinar terang lebih besar dari biasanya dan tetesan air hujan semata, keduanya membawa pesan: apa yang kau tahu tentang cinta?

lalu kulewati malam dengan sebuah hati yang tak utuh

aku tahu,

cinta yang mengarah kepadaku mengambil sebagian hati, lalu pergi meninggalkanku dengan sisa hati yang separuh

semua ada sebab akibat, katamu, kau yang terlebih dulu telah mencuri hatiku dan tak pernah kembali, sedang aku dengan separuh hati merana sendiri,

lalu mengapa harus membalas untuk saling mencuri hati? bukankah dengan demikian hati akan saling bertukar

aku membencinya! pada suasana saling mempertaruhkan hati masing-masing tapi tak pernah bersatu, hanya ada saling harap dan tak berani bertatap muka

ataukah ini yang dinamakan rindu?

aku lebih membenci rindu, membuatku tersiksa, sedang cinta terus mendesak, lalu mereka berbarengan menderai mentertawaiku,

oh, ternyata mereka adalah sebuah perpaduan, sedang rembulan adalah pemanis malam ini.

Semarang, 3 Oktober 2019.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x