Mohon tunggu...
Tovanno Valentino
Tovanno Valentino Mohon Tunggu... Konsultan - Hanya Seorang Pemimpi

Hanya Seorang Pemimpi

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Boro-Boro Naikin Upah Minimum, Gaji Karyawan Swasta Saja Masih Belum Kembali Utuh!

20 November 2021   11:13 Diperbarui: 20 November 2021   23:29 3866 9 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi : kledo.com

Update : Kesalahan Judul (typo) 

Sebelum ngebaca, ini adalah edisi "ngoceh". Kalo mau yang serius, jangan diterusin bacanya. Kecewa entar.

Kali ini nulis yang ringan-ringan saja lah, biar perlu ngomel hehehe. Saya tinggalkan data dan analisa sebagai rujukan ataupun  pake referensi macem-macem, kita berbicara realita saja di lapangan yang dirasakan langsung oleh masyarakat (apalagi yang rentan dan udah tergolong miskin),  UMKM, pekerja harian, pegawai swasta dan banyak persoalan lain, jadi wajar terjadinya pengurangan pegawai di mana-mana.

Belum lama ini denger-denger, dan emang bener, ada himbauan untuk masuk kerja 100%, tapi gaji mereka belum juga dikembalikan 100% atau seperti semula. Lalu kita mau bicara apa yang terlalu dalam untuk menganalisa kenaikan upah minimum 1,09%? Boleh saja sih, tapi ini saya rasa sudah keputusan yang wajar,  mencari solusi yang terbaik dari yang terburuk atau dalam keadaan buruk.  Karena kepastian usaha dan upaya untuk memperoleh pendapatan masih menjadi masalah utama yang serius.

Ok, yuk anda mikir, saya nulis. Atau sama-sama mikir. Kalo gak ya kita bengong aja bareng sambil nyanyi. 

Nah kenyataan di lapangan yang dirasakan masyarakat secara langsung bukan dalam hitungan angka-angka yang tepat, dan gak terwakili secara nyata, sekalipun tingkat kepercayaan survey dan metode semacamnya dikatakan 99%. Ya dah yang percaya-percaya deh, saya sih anggap data emang penting untuk dianalisa sebagai dasar satu keputusan. Tapi gak mutlak. 

Entar dulu, kalo mau itung-itungan samplenya bukan di kota besar saja, lihat juga kota-kota lain dog di Indonesia, Seolah-olah Jakarta dan sekitarnya menjadi barometer untuk mengukur segala-galanya. Boleh juga sih, wajar saja. Tapi Indonesia ini luas dan kuayaa buanget. Untuk mendapatkan pinjaman/utang lunak, itu kekayaan seantero indonesia ini bisa dijaminkan. Tinggal pinter-pinter aja nego sama investor, jangan ditilep sama perusahaan patungan.  Saya yakin  investastor gak bakal nolak, tapi syaratnya itu muacem-macem. Dah yang MOU atau deal yang tau syarat di belakang meja.. 

Paling gak, saat ini upaya membuka lapangan pekerjaan dengan investasi yang wajar bukan pat gulipat dapat menyerap banyak tenaga kerja lokal, bukan didatangin dari luar selamanya, boleh saja di awal tapi yang ahli untuk transformasi pengetahuan. Segaknya dapat mendongkrak sektor-sektor produksi, khusnya untuk eksport. 

Kalo dianggap susah, ngada-ngada aja,  investor potensial masih banyak dari dalam dan luar negeri. Jangan duit dilariin terus ke luar bagi para pemilik kekayaan di Indonesia yang hanya sekian persen orang itu. Nah cuman, pemerintah kudu maen cantik, tanpa ikutin perusahan pribadi menterinya. 

Ya udah anggap aja susah dapat inevstor dan dana segar yang ringan, minimal jangan sampai lengah dengan alokasi anggaran untuk membuka lahan baru dan memperkuat ketahanan pangan. Itu hal mendasar, diberesin dulu deh. Import melulu, beras atau kedelai yang sehari-hari jadi makanan pokok rupanya sebagian tergantung dari import. Kasihan sekali bangsa ini. Petani kemana? udah ganti profesi? atau lahanya dijadiin perumahan atau udah dibeli sang maha kaya?.Waduh Indonesia seluas ini, tinggal pilih pulau yang mana bos.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan