Mohon tunggu...
Syahrial
Syahrial Mohon Tunggu... Guru - Guru Kimia

Ketua Perkumpulan Pendidik Sains Kimia Indonesia (PPSKI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan

25 November 2021   14:00 Diperbarui: 25 November 2021   14:02 108 6 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sudah sepuluh menit Agus duduk di kursi panjang ruang koridor yang berada tepat di samping  ruang guru. Tuk.. tuk.. tuk...  Terdengar suara sepatu Agus dihentakkan ke lantai akibat tumit kaki kanannya yang turun naik. Suasana koridor saat itu benar-benar sepi, sesekali hanya terdengar suara beberapa guru yang ngobrol di ruang guru. 

Sementara di sisi lain koridor itu adalah kantor urusan administrasi sekolah. Di ruang itu malah tidak terdengar sama sekali suara orang. Biasanya pegawai administrasi saat jam istirahat seperti ini pada pulang ke rumahnya untuk makan siang. Kebetulan rumah mereka kebanyakan tidak jauh dari sekolah, atau dengan kata lain mereka adalah tetangga sekolah. 

Seharusnya siang ini orang tua Agus datang ke sekolah karena mendapat panggilan dari wali kelasnya. Tapi tadi pagi waktu berangkat ke sekolah ibunya sudah berpesan. "Sampaikan ke wali kelasmu, katakan ibumu ini tidak bisa datang ke sekolah, ibumu ini kerja ikut orang, kalau ibu tidak bekerja nanti dari mana dapat uang untuk makan adik-adikmu". 

Agus adalah anak tertua di keluarganya. Ayah dan ibunya sudah beberapa tahun yang lalu bercerai. Ayahnya sudah menikah lagi dengan perempuan yang berasal dari tanah Jawa. Sementara itu ibunya tetap menjanda dan bekerja sebagai asisten rumah tangga di tetangga mereka yang suami dan istrinya pegawai negeri. 

Dari ketiga anak orang tua Agus, semuanya ikut ibunya. Dua adiknya masih duduk di sekolah dasar, yang satu kelas enam yang lainnya lagi baru kelas satu. Agus jarang ada di rumah. Ke sekolah pun tidak setiap hari. Hari-hari nya lebih banyak dia habiskan dengan para penambang timah. Semenjak orang tuanya berpisah, Agus lebih banyak waktunya digunakan untuk mencari uang dengan cara ikut bekerja dengan bos tambang timah. 

Ayahnya sudah lama tidak menafkahi anak-anaknya. Terhitung hanya sekali atau dua kali memberi anak-anaknya uang untuk makan setelah dia tidak serumah lagi dengan mereka. Itu pun saat awal-awal ayahnya baru berpisah, setelah itu tidak pernah sama sekali. Jangankan memberi makan, menengok anak-anaknya pun sudah tidak pernah lagi. Sibuk dengan keluarganya yang baru.

Sebenarnya ini bukan panggilan pertama kepada orang tua Agus untuk menemui wali kelasnya. Ini adalah pemanggilan yang ketiga. Dua panggilan terdahulu tidak sekalipun orang tua Agus datang menemui wali kelasnya di sekolah. Ini terjadi tidak lain karena ulah Agus sendiri. 

Tugas yang seharusnya sudah selesai dikerjakannya, tetapi sampai sekarang tak satupun yang dikerjakannya. Padahal tugas itu sendiri sudah diberikan oleh wali kelasnya dua bulan yang lalu. Jadi cukup banyak waktu untuk mengerjakannya. 

Memang bukan hanya Agus saja yang berulah, ada beberapa orang teman sekelasnya juga melakukan hal yang sama. Hanya saja setelah panggilan kedua, sebagian besar anak-anak itu sudah mengerjakannya. Meskipun sampai sekarang ini belum benar-benar tuntas.

Kemarin sebelum surat pemanggilan orang tuanya untuk yang ketiga kalinya, Agus dan Bu Wulan wali kelasnya sempat bersitegang.  Lagi-lagi karena ulah Agus sendiri yang kurang sopan terhadap gurunya. Setelah pelajaran terakhir usai, Bu Wulan memanggil Agus untuk menanyakan perihal tugas yang tidak kunjung dikerjakannya.

"Gus, mengapa sampai sekarang kamu tidak mengerjakan tugas itu?", tanya Bu Wulan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan