Mohon tunggu...
selamat martua
selamat martua Mohon Tunggu... Penulis - Marketer dan Penulis

Hobby: Menulis, membaca dan diskusi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Smart Landing

2 Desember 2020   07:41 Diperbarui: 2 Desember 2020   07:44 138
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Dalam waktu dekat Pak Basri akan memasuki masa pensiun dan Ia akan memiliki waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk mengolah bisnis tambaknya. Namun Pak Basri merasa perjalanan dari kampung ke Jakarta merupakan aktifitas yang sudah mandarah daging baginya. Ia merasa tidak tahu harus berbuat apa selama hari Senin -- Jumt, setelah tidak lagi bekerja di Jakarta. Ada kegalauan dalam dirinya apakah bisa memanfaatkan waktu-waktu tersebut selama berada di kampung.

Ia merasa hari Sabtu dan Minggu adalah waktu yang paling bermanfaat ketika sedang berada di Kampung. Ada rasa kehilangan suasana kantor dan Ia ingin menikmati suasana itu sepanjang Senin -- Jumt. Karena kesibukan pekerjaan di Jakarta dan energi terkuras dalam perjalanan Jakarta ke kampung serta ditambah lagi dengan kesibukan mengelola tambak di kampungnya, Ia merasa belum siap menghadapi hari-hari pensiunnya nanti. Pak Basri belum menyusun rencana apa yang akan dilakukan untuk mengisi hari-hari sepanjang Senin -- Jum'at ketika berada di kampung nantinya.

Dalam satu reunian Kampus bertemulah Pak Sobari, Pak Khairul, Pak Saleh dan Pak Basri. Mereka berempat adalah alumni yang sama dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Komunikasi diantara mereka berempat tetap berlangsung meskipun tidak intens. Oleh karena itu tidak banyak yang saling tahu jabatan dan karir masing-masing selama berkarya di Kota yang berbeda.

Ketika mereka berempat lagi menikmati santapan siang, tiba-tiba muncullah Pak Sukanta yang terkenal energik, optimis dan punya kepercayaan diri luar biasa. Selagi muda Pak Sukanta terkenal sebagi orang yang suka gonta-ganti pekerjaan, hingga khabar terakhir tentang dirinya adalah sebagai seorang wiraswasta.

"Kalau Pensiun mikirnya hanya istirahat, ngaantar anak-istri. Jadilah manusia jaman batu" Pak Sukanta mengawali obrolannya.

"Apa khabar? Enggak ada yang berubah dari dirimu" sapa Pak Saleh berusaha mengalihkan.

"Hidup harus tetap optimis, jangan hanya makan uang pensiun. Apa bedanya dengan pengemis" sahut Pak Sukanta sedikit meninggi.

"Wow, istilahnya keren banget" Pak Khairul menimpali seraya melanjutkan makannya.

"Kita bisa lihat Datok Mahatir Mohammad dan yang terbaru Presiden Amerika Joe Bidden" lanjutnya semakin tidak terkendali.

"Emang kenapa dengan Mereka?" Kali ini Pak Basri menimpali.

"Lha usianya sudah diatas 70 Tahun ,masih berpikir berkarya buat Negara!" jawab Pak Sukanta lantang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun