Mohon tunggu...
Suripman
Suripman Mohon Tunggu... Akuntan - Karyawan Swasta

Rakyat biasa, yang mencoba melihat kehidupan bangsa dari sebuah sudut negeri tercinta. Tanpa prasangka, tanpa memihak, mengalir apa adanya.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Di Ujung Pematang

2 November 2022   15:34 Diperbarui: 2 November 2022   15:38 57
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://pemandangannalam.blogspot.com/2019/06/populer-41-gambar-pemandangan-gunung.html

hamparan hijau
ditingkah indah bunyi kicau
mengundang takjub
di mata yang tak ingin tertutup

di kejauhan, raksasa biru
berkemul abu-abu
terbaring lelap
langit luas dijadikan atap

lirih angin dan gemericik air
serupa senandung bunda
mengalun lembut bak syair
menghapus mendung dari wajah

udara sejuk penuhi dada
mengalir di setiap pembuluh darah
kesegaran sempurna
sejatinya bahagia

keindahan ini, tak mampu terpuisikan
terlampau agung, tak bisa dilukiskan
maka, seperti buncah hati seorang perawan
di ujung pematang, aku tertawa bersama awan

Jakarta, 2 November 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun