Mohon tunggu...
Dapurfit
Dapurfit Mohon Tunggu... Ahli Gizi - Home of #SmartDieter

Di Kompasiana, kami berkomitmen untuk membuat konten yang 100% informasi, 0% marketing. Semua konten kami 100% evidence-based, dan akan disertai referensi jurnal ilmiah (studi/ penelitian).

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Apapun Dietnya, Kuncinya Tetap Mindful Eating

30 Agustus 2021   14:13 Diperbarui: 30 Agustus 2021   15:29 61 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Apapun Dietnya, Kuncinya Tetap Mindful Eating
Menerapkan mindful eating untuk diet jangka panjang yang sukses (sumber: instagram Dapurfit)

Dieter yang sering gagal diet sering kali tidak memiliki mindset mindful eating. Ketika diet, sering kali orang yang ingin menurunkan berat badan dalam jumlah yang banyak mencari diet yang sangat ketat dengan harapan BB turun sebanyak-banyaknya dengan secepat-cepatnya. 

Masalah dari mindset ini adalah diet yang terlalu ketat selalu menyiksa sehingga menguras kapasitas mental dan will power. Diet yang menyiksa ini kemudian hanya akan bertahan sebentar sebelum dieter kehabisan keinginan untuk melanjutkan "siksaan diet" seperti kelaparan, makanan hambar, larangan makan ini dan itu, dan masih banyak lagi. 

Oleh karena itu diet yang terlalu menyiksa selalu gagal dan BB hanya turun sebentar kemudian dieter kembali ke pola makannya yang lama sehingga BB kembali naik. Tidak hanya itu, diet ketat yang menjanjikan hasil instan seperti itu juga berpotensi menyebabkan eating disorder.

Diet Super-Ketat dan Eating Disorder (1-5)

Diet yang sangat ketat sering kali disertai dengan banyak pantangan yang berlebihan. Dilarang makan A, harus makan B, dan sebagainya. Ketika menjalankan diet seperti ini berulang kali, terdapat resiko adanya ketakutan terhadap makanan atau bahkan jadi takut makan, di mana ini sudah termasuk dalam eating disorder. Dieter yang merasa tersiksa ketika diet juga rawan "balas dendam" dengan kalap makan ketika sedang lepas kendali (binge eating disorder).

Ketika dieter menjalankan diet yang menyiksa, mereka dapat merasa "sudah berkorban besar", sehingga mereka juga mengharapkan "imbalan yang besar" secara tidak sadar. Dieter yang seperti ini berkemungkinan menjadi tidak sabar dan semakin menginginkan hasil yang secepat-cepatnya. 

Oleh karena itu, saat dietnya selesai atau gagal dan BB naik lagi, dieter yang sudah mengharapkan BB turun akan merasa dirinya gagal, depresi, dan merasa dirinya kurang. Hal ini berpotensi membuat dieter membenci dirinya sendiri (negative body/self image) dan berpotensi berujung pada keinginan untuk menyiksa diri seperti merasa harus menghukum dirinya sendiri ketika makan enak (eating disorder).

Things to do

Dalam artikel ini, Dapurfit akan membagikan tiga hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan berat badan yang bertahan dalam jangka panjang tanpa menyakiti mental dan kesehatan dieter. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Memilih diet yang benar

Dalam memilih diet, kami sarankan untuk tidak memilih diet yang instan seperti 5 hari detox, 14 hari mayo, dan diet-diet menyiksa lainnya di mana porsi makan sangat kecil dan diet tawar tanpa garam, serta obat diet. 

Dieter perlu mengingatkan dirinya bahwa diet-diet di atas dan minuman/ obat diet selalu memberikan hasil yang sama, yaitu BB turun sebentar kemudian naik lagi. Cara-cara ini selalu gagal dan jika diulang terus menerus, diet justru dapat merusak mindset dan menganggu kesehatan mental dieter.

Janji palsu yang diberikan oleh diet ketat dan obat diet membuat dieter menjadi tidak sabaran. Padahal seperti kenaikan belasan-puluhan BB yang terjadi secara perlahan, menurunkan sebanyak itu juga membutuhkan waktu yang lama. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kesehatan Selengkapnya
Lihat Kesehatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan