Mohon tunggu...
Nabila Ramadani Susanto
Nabila Ramadani Susanto Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Saya Mahasiswa psikologi dari Universitas Muhammadiyah Malang. Pengalaman berharga saya dimulai ketika bekerja di Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Palopo, di mana saya mendapatkan wawasan yang mendalam tentang pendidikan inklusif. Saat ini, saya aktif sebagai asisten di Poli Jiwa Psikolog RSUD Sawerigading. Selain itu, saya juga memiliki keinginan dalam berbagi pengetahuan. Saya sering menghasilkan konten edukatif melalui tulisan dan video, dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai psikologi dan topik terkait. Saya percaya bahwa pembelajaran adalah investasi terbaik, dan saya berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam bidang ini. Terima kasih sudah membaca tulisan saya dan sehat selalu

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Meningkatkan Kepedulian terhadap Mental Health dengan Tidak Melakukan Self Diagnose

20 September 2022   15:42 Diperbarui: 10 Januari 2023   16:51 258
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

 

2. Jangan Peruntukan Selebritas/Tokoh Fiktif Pengidap Kendala Mental Tertentu Selaku Rujukan

Menurut (’Shofa, 2017) Kedudukan selebriti dalam kehidupan anak muda merupakan selaku role model. Tetapi banyak periset menyebut“ pahlawan”, buat mendeskripsikan figur mereka ataupun“ idola panutan”.

Terkadang kala memandang pengalaman orang lain di media sosial, masyarakat bisa menciptakan terdapatnya kesamaan indikasi ataupun keadaan yang dialami. Kesamaan ini bisa jadi bisa mendesak masyarakat buat mengambil kesimpulan kalau masyarakat hadapi keadaan kejiwaan yang sama pula. Meskipun terdapat kemiripan, penting untuk diingat bahwa kondisi mental setiap orang tentunya kompleks dan tidak dapat disamakan.

3. Lebih Baik Buat Tidak Menjajaki Tes-Tes Online Terpaut Mental Health

Semata-mata mau ketahui buat menjajaki tes-tes daring, boleh saja. Namun, bila hasil uji yang belum pasti kredibel tersebut dijadikan bawah penaksiran atas Mental Health, itu yang tidak boleh. Selain kerap tidak jelas asal-usulnya, hasil dari tes-tes online seperti itu tentu saja hanya berdasarkan gejala umum, bukan gejala yang lebih spesifik.

4. Jangan Anggap Sungguh-Sungguh Perkataan Sahabat ataupun Orang Lain yang Berkata Kalau Kalian Menderita Kendala Mental Tertentu

Bersumber pada perilaku ataupun sikap masyarakat yang dikira aneh ataupun tidak biasa, terlebih bila dicoba kesekian kali, tak jarang sahabat ataupun orang-orang di dekat masyarakat menebak ataupun mengaitkan sikap masyarakat itu dengan kendala mental tertentu yang mereka anggap seragam. Sementara itu, belum pasti apa yang mereka ketahui itu betul-betul akurat.

5. Apabila Merasa Memiliki Kendala Mental Tertentu, Segera Memeriksakan Diri

Satu langkah pas apabila masyarakat merasakan terdapatnya indikasi yang berakibat pada Mental Health, dengan mencari pertolongan dari ahli ataupun pakar, semacam dokter, psikolog, serta psikiater. Jangan takut dianggap gila, sebab Mental Health jauh lebih berarti dari seluruh berbagai omongan-omongan orang lain.

Simpulan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun