Mohon tunggu...
Megawati Sorek
Megawati Sorek Mohon Tunggu... Guru - Guru SDN 003 Sorek Satu Pangkalan Kuras Pelalawan Riau

Seorang guru yang ingin menjadi penulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Salah Pilih dan Darah Tinggi

5 Juli 2023   07:10 Diperbarui: 5 Juli 2023   07:15 368
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokpri : Koleksi Desain Megawati Sorek 

Ponsel di dalam tasku berdering, segera meraihnya. Terlihat nama Sinta memanggil. Sambil menghela napas aku pun menggeser simbol telepon berwarna hijau.

"Ya, Sinta, ada apa?" tanyaku cepat.

Hening, tiada sahutan hanya ada terdengar napas yang ditahan serta isakkan lirih.

"Berantem lagi?" Aku bertanya padanya penuh antusias.

"Vi, aku tak tahan lagi dengan sikap Mas Aldi, ia sudah memiliki wanita lain," jelas Sinta masih sambil menangis.

"Tunggu, aku meluncur ke situ," ujarku seraya mematikan sambungan telepon dan meraih kunci mobil.


Sinta adalah sahabatku sejak SMA, ia lebih awal menikah karena setelah tamat sekolah ia dipinang oleh pacarnya Aldi yang sudah usia matang dan mapan.

Dibanding denganku, kami sangat jauh berbeda, terkadang ada rasa iri dengan apa yang Sinta miliki. Sinta berwajah cantik jelita, senyuman manis dihiasi lesung pipi. Memiliki tatapan mata yang teduh ditunjang dengan tubuh yang indah. wajar jika Aldi cepat melamarnya takut di tikung pria lain.

Kehidupan rumah tangga mereka semula manis dan harmonis, tetapi ditahun ketiga pernikahan mereka, mulai muncul percikan masalah mendera. Belum memiliki keturunan serta tuntutan dari mertua Sinta, yang ingin cepat memiliki cucu untuk penerus usaha mereka. Maklum Aldi anak tunggal. Sebenarnya mereka sudah melakukan berbagai usaha  pengobatan promil bahkan sampai ke Melaka. Namun, belum membuahkan hasil. Mungkin Tuhan belum memberikan rezekinya.

Sebagai sahabat dekatnya, Sinta selalu berbagi cerita melalui telepon maupun langsung, yang lebih sering aku memutuskan yang bertandang ke rumahnya, agar lebih detail. Seperti kali ini yang aku lakukan, karena jika melalui telepon merasa tak puas mengobrol.

Terkadang terbersit rasa bosan juga dengan curhatannya. Tetapi, bagaimana lagi? Azas manfaat masih ada dalam rumusku. Mendengar keluh kesah tentang kehidupan rumah tangganya, baik masalah Sinta dan Aldi serta perlakuan mertua Sinta yang tak begitu menyukainya.

Sampai di rumah Sinta, terlihat pemandangan yang berantakan. Terpampang di depanku sepertinya mereka siap bertengkar hebat, aku lihat Sinta terduduk menunduk bersimpuh, menangis tersedu sambil tangannya memegangi pipi. Mungkin bekas tamparan.

Segera setengah berlari memeluk dirinya.

"Menangislah," ucapku singkat.

Sinta bertambah menangis lebih nyaring, tersedu sedan. Bahunya sampai berguncang-guncang. Aku hanya memeluknya semakin erat, biarlah memberi waktu untuk melepaskan segala kedukaannya yang menderanya.

Setelah agak terlihat tenang, melonggarkan pelukan. Memandangnya sambil mengusap airmatanya.

"Apa kau tau wanita yang kini bersamanya?" tanyaku.

"Entahlah, aku belum sempat menyelidikinya tapi pengakuannya tadi cukup lebih dari bukti apapun." Sambil mengusap air matanya ia berkata.

"Dan kau percaya pengakuannya?" ucapku sambil memandangi dengan intens.

"Ya, akhir-akhir ini dia sangat banyak berubah, aku sudah curiga," jawab Sinta sambil menarik hidungnya yang meler akibat menangis.

"Tadi, ia marah besar karena aku melarangnya menjual vila kami yang di puncak, entah untuk apa uang penjualan vila tersebut mungkin untuk wanita itu," jelas Sinta.

"Jika rasanya tak ada lagi yang perlu  dipertahankan, maka lepaskanlah! Perpisahan mungkin yang akan membuat kalian masing-masing bahagia," tandasku.

"Tapi...," lirih Sinta berucap. Mata sembabnya memandang lekat.

"Tapi apa? sampai kapan dirimu sanggup bertahan dengan Mas Aldi dan mertuamu itu?" pungkasku agak ketus.

Mata Sinta yang basah airmata membesar memandangiku.

"Layangkan gugatan cerai dan tenangkan dirimu di kampung, bersama keluarga tercinta itu akan membuatmu cepat memulihkan hati, ingat dirimu masih muda, cantik dan berhak untuk bahagia!" paparku lagi dengan meyakinkannya serta mengengam tangannya menguatkan.

Sinta hanya terdiam, mungkin mencerna dan mempertimbangkan perkataanku.

Sepulang dari rumah Sinta, aku pergi ke kampus sebentar mengurus pengajuan proposal penelitian akhirku. Lanjut pulang ke tempat kos. Pintu kos telah terbuka, terlihat pria yang beberapa waktu ini dekat denganku lagi asyik dengan handphonenya.

"Sudah lama di sini?" tanyaku padanya.

"Lumayanlah," jawabnya sambil meletakkan ponselnya.

"Selesai kalian bertengkar, seperti biasa, Sinta mengabariku, dan Mas Aldi tau? Aku berhasil membujuknya agar segera mengugatmu, selesaikan sidang perceraian dengan cepat dan pembagian gono gini kalian dan jangan lupa uang hasil penjualan vila untukku sesuai janjimu ya Mas." Senyuman manis aku terbitkan.

Mas Aldi hanya mengganguk setuju serta berdiri menghampiriku. Memeluk erat.

Maaf Sinta, kau salah pilih sahabat.  

~

Berikut cerita berikutnya dengan judul  sekuel *Darah Tinggi*

Aku melemparkan benda persegi panjang  pipih itu ke atas tempat tidur. Mendengus dengan napas kasar. Kembali kutatap ponsel yang tergeletak itu. Tanganku pun ke atas kepala mengengam rambut dan menariknya frustasi. Kesal dan kecewa dan entah kata apa la yang cocok untuk menggambarkan isi hatiku saat ini. Hal ini tak lepas diakibatkan setelah membaca hal yang tertulis di smartphone tersebut.

Dasar suami tak punya hati, seperti batang pisang berjantung tapi tak punya hati. Makiku dalam hati. Rasanya dunia pun akan mengamuk jika memiliki suami seperti itu. Apa dia pikir seorang istri hanya untuk dikhianati. Menurutku jika memang sudah tak suka, lepaskan. Jadilah laki-laki gentle. Dasar egois.

Dadaku panas, napasku memburu. Emosiku meledak. Semua alat perhiasan di meja rias aku hantam dengan menyapukan tangan sehingga berserakan di lantai. Bahkan guci keramik yang baru dibeli berada di sudut kamar tak luput dari amukanku. Bertebaran pecahannya. Membuat kamar ini bak kapal pecah.

Apa aku puas, tenang? Setelah membuat kewalahan IRTku nantinya membersihkan kamar ini. Tidak! Aku ingin berteriak. Biar orang tau. Biar heboh. Biar yang namanya suami itu tahu diri bahwa ia bukan suami yang baik. Biar orang tau sahabat sampah itu siapa! BIAR!

Kepalaku terasa pusing, lelah. Seperti biasa jika emosiku naik akan berpengaruh pada kesehatanku. Secepat kilat kuambil tensimeter digital di laci nakas. Aku memang standbye dengan alat itu. Yah, karena tensiku selalu cepat naik.

Segera melilitkan ke tangan memencet tombol star. Lalu angka digital itu berjalan dan berhenti pada angka 170/100. Tu kan naik lagi. Segera mencari obat penurun tensi yang biasa aku minum dilaci, ternyata habis, hanya ada bungkusnya.

Kepalaku tambah berat dan agak oyong. Segera berteriak.

"Bibi! Bibi!"

"Ya, Nya" sahutnya datang tergopoh-gopoh. Menyapukan pandanganya dan geleng-geleng kepala. Terbayang kerjaannya lagi.

"Suruh Mamang Dadang ke apotek beli obat tensi saya yang biasa ya, Bi," ujarku sambil menyodorkan uang merah selembar.

"Iya, Nya." sahutnya lalu berlalu pergi.

Berbaring di ranjang, sambil memijit-mijit kepala. Makin terasa sakit.

Terdengar pintu diketuk. Bibi masuk sambil membawa sekop dan sapu.

"Bi, pijit saya dulu la ya. Nanti saja ngemas itu," pintaku.

Bibi mengambil posisi di belakangku. Memijit tengkuk dan bahu. Beruntung memiliki bibi yang pengertian selama sepuluh tahun betah bekerja di rumah ini.

"Nyonya, membaca hp itu lagi ya?" Tanyanya sambil matanya menatap ponselnya yang tergeletak di sampingku.

"Maaf ya, Bi" ucapku lirih.

Memejamkan mata, menunggu datangnya obat penurun tensi, biasanya akan kembali bugar.

Kalian tahu? Apa yang kubaca tadi yang menyebabkan darah tinggiku naik. Yah, suatu hal yang menyakitkan. Karena membaca cerita postingan salah seorang penulis bernama Megawati Sorek yang judul tulisannya "Salah Pilih". Yang menceritakan seorang suami yang memiliki wanita lain, eh rupanya pelakor itu sahabat istrinya. Kebayangkan aku tu jadi geram-segeramnya. Tak percaya! Bacalah sama kalian.

***

Tamat

Mengandung iklan diri sendiri, he.

Maaf ya NGALUR NGIDUL NGAWUR-ku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun