Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kelopak Bunga yang Belum Mekar (6)

13 Februari 2018   06:29 Diperbarui: 13 Februari 2018   07:49 893 19 10
Kelopak Bunga yang Belum Mekar (6)
sumber ilustrasi: shutterstock

Baru kali ini bisnis yang mereka rintis terbentur kegagalan. Hanya karena kesalahan kecil yang berujung fatal. Penutupan "Calv-Rose DayCare". menjadi sebuah keterpaksaan. Pilihan terakhir yang sangat pahit.

Segi positifnya, Calvin dan Rossie lebih banyak di rumah. Berusaha menikmati waktu. Berusaha menjalani hari-hari yang berlalu. Kini, tak ada lagi tawa ceria anak-anak. Rumah besar itu kembali sepi.

"Well, kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Daycare itu bukan rezeki kita," kata Calvin menenangkan Rossie sore itu.

Rossie mengentakkan kaki. Melanjutkan menyiram bunga-bunga mawarnya tanpa kata. Memalingkan pandang, enggan menatap wajah suami super tampannya.

"Bunga-bungamu cantik, Rossie. Jika mekar dengan sempurna, akan terlihat lebih cantik." Calvin melemparkan pujian dengan tulus.

Si cantik blasteran Sunda-Jerman tak menyahut. Berkutat dengan tanaman bunga kesayangannya. Kelopak-kelopaknya yang cantik adalah penghapus duka. Pengusir sepi.

Tak sengaja tangan Rossie tertusuk duri mawar. Perih sekali. Darah mengalir. Dengan lembut, Calvin meraih tangan istrinya. Mengisap lembut ibu jarinya yang terluka.

Rasanya duri itu menancap terlalu dalam. Bibir Rossie tergigit kuat menahan sakit. Tembok gengsinya terlalu kokoh untuk mengeluh dan mengadu. Padahal di sini, sangat dekat dengannya, berdiri seorang pria tulus yang sangat peduli.

Perlahan Rossie rebah di pelukan Calvin. Dibenamkannya wajah ke dada pria yang mencintanya sepenuh hati.

"Tidak apa-apa, Rossie...tidak apa-apa. Aku obati lukamu." ujar Calvin, satu tangannya membelai rambut Rossie.

"Obati sekarang juga!" Tetiba Rossie menghardik kesal.

Tanpa kata lagi, Calvin menuntun Rossie ke dalam. Mendudukkannya di sofa. Dengan lembut mengobati lukanya.

Kembali Rossie kesakitan. Ia takut jarinya kena infeksi. Jangan sampai pikiran negatif itu meracuni. Harus ada pengalih perhatian.

"Calvin, lebih cantik mana? Bunga-bungaku atau diriku sendiri?" tanya Rossie cepat.

Mata Calvin melebar. Sebuah kemajuan. Tak pernah Rossie menanyakan hal seperti ini padanya.

"Tentu saja dirimu. Bunga-bunga itu kalah cantik denganmu."

Luka di jarinya terasa kian perih. Menyeringai menahan sakit, Rossie melanjutkan tanya.

"Bagaimana bila bunga-bunga itu sudah mekar sepenuhnya?"

"Kamu akan tetap jadi yang tercantik."

Seperti ada yang memompa aliran darah Rossie bertambah cepat. Pipinya merona, ia tertunduk. Gugup memain-mainkan kerah bajunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4