Mohon tunggu...
Farantika DwiHardini
Farantika DwiHardini Mohon Tunggu... Mahasiswa - Penulis/Fotografer dan Videografer. Pencapaian yang pernah Saya raih dalam bidang kepenulisan adalah sebagai "Penulis Terpilih" dalam Lomba Cipta Puisi Nasional bertema "LUKA" yang diselenggarakan oleh ROFSIKAHA MEDIA pada tanggal 01 s.d. 20 Desember 2021, dengan judul "Tak Kunjung Sembuh. Dan lagi sebagai "Penulis Terpilih" dalam Event Cipta Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Hikmah Publisher Cabang Batang pada tahun 2022, dengan judul "Tamak di Ujung Tanduk".

Saya memiliki banyak hobi mulai dari trevelling, memasak, fotografi&videografi, menulis, membaca buku. Dari hobi tersebut sedikit demi sedikit Saya dalami perlahan. Mulai dari trevelling kemana saja, Saya mencoba untuk mengabadikan momen setiap momen perjalanan Saya. Disitu Saya memotret dan mengambil beberapa video untuk Saya jadikan mini vlog dan kenangan manis. Mulai dari situ Saya mencoba-coba membuat konten trevelling Saya yang tentunya 'milenial banget'. Dalam hal kepenulisan, Saya mencoba-coba untuk mengikuti lomba cipta puisi. Selama terjun dalam hobi tersebut, Saya sangat bersyukur karena karya Saya dapat meraih sebuah penghargaan walaupun belum seberapa. Dalam hal lain, Saya juga melatih skill Saya dalam bidang kepenulisan dengan menulis resume, menulis artikel, opini, merangkai dan membuat powerpoint, membuat makalah, dan masih banyak lainnya. Dengan sedikit hal yang Saya punyai, Saya berharap besar kepada diri Saya sendiri untuk dapat menjadi pribadi yang selalu merasa haus ilmu, informatif, aktif, bersinergi untuk negeri, dan hal lain yang berguna untuk semua orang di sekitar Saya.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tamak di Ujung Tanduk

11 Oktober 2022   08:00 Diperbarui: 11 Oktober 2022   08:04 100
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Cetus api yang bergejolak ria

Kau cerdik namun bagai pelanduk

Kau kah itu?

Hendak menjinjing berdalih tertusuk lidi

Tak pantas dikau mendongak sekalipun

Tengok kebawah pun kau memamah tiada henti

Layaknya berkata tak dikasih jua

Inilah derita rakyat sekebat kecambah

Hendak dikau diajar budi

Umpama pahit berujung manis

Umpama surut nenggapai pasang di riuh gaduh lelautan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun