Mohon tunggu...
Bhayu MH
Bhayu MH Mohon Tunggu...

Rakyat biasa pecinta Indonesia. \r\n\r\nUsahawan (Entrepreneur), LifeCoach, Trainer & Consultant. \r\n\r\nWebsite: http://bhayumahendra.com\r\n\r\nFanPage: http://facebook.com/BhayuMahendraH

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Ada Asa Dalam Cinta - Bagian 57

22 Januari 2015   04:30 Diperbarui: 17 Juni 2015   12:38 102 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ada Asa Dalam Cinta - Bagian 57
14217582741237221344

Kisah sebelumnya: (Bagian 56)

(Bagian 57)

“Assalamu’alaikum…,” suara seorang lelaki terdengar dari depan rumah.

“Wa’alaikumsalam…,” ayah dan ibu Cinta serentak menjawab. Cinta sendiri masih berada di kamar mandi. Dan ia setengah panik karena belum selesai merapikan riasan. Makin panic lagi menyadari kalau ibu dan ayahnyalah yang akan menemui Borne pertama kali. Sudah pasti, pria yang pertama kali datang ke rumah selama bertahun-tahun itu akan diinterogasi. Cinta kuatir Borne merasa tidak nyaman karenanya.

Buru-buru Cinta menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dan ia segera menuju ke kamar untuk sekali lagi meyakinkan dandanannya. Dan buru-buru ia menuju ke ruang tamu.

Benar saja, Borne sedang ditanya-tanya oleh ayahnya. Sementara ibunya baru saja mengantarkan minuman dan meletakannnya di meja. Cinta berhenti lebih dulu di balik dinding ruang tamu, menghela nafas dan memasang wajah gembira.

“Halooo…. Papa, Mama, kenalin ini Borne,” ujar Cinta.

“Papa udah tahu duluan dong…. Wong udah kenalan…,” ledek ayah Cinta.

“Yaa… sori deh. Cinta kelamaan keluarnya tadi…,” ujar Cinta sambil duduk di samping ibunya.

“Sana, duduk dekat Mas-mu sana…,” suruh ibunya.

“Mas apa? Wong dia ini sepantaran kok… Kan teman SMA dulu?” ujar Cinta.

“Iya, tapi tetap saja dong. Kalau memang mau jadi suami, harus menghargai…,” komentar ibunya. Karuan saja Borne tersipu disebut begitu. Sementara Cinta mencubit lengan ibunya manja.

“Iiiiih… Mama ini. Apaan sih?”

Ibunya tidak menanggapi, malah menyuruh Cinta berdiri dan berpindah tempat duduk. Daripada beradu argument untuk urusan sekecil itu, Cinta menurut. Ia permisi kepada ayahnya karena harus melewati posisi duduk beliau.

“Yuk, pergi aja yuk…,” ajak Cinta begitu duduk di samping Borne.

“Eh,eh,eh… enak saja. Tunggu dulu dong! Papa kan belum selesai ngobrol-ngobrol… Katanya Mas-mu ini pernah kuliah di Amerika ya?” tanya ayah Cinta.

“Masmu. Bilang aja namanya. Borne. Udah. Jangan pake Mas….,” elak Cinta.

“Iyalah… Betul Nak Borne?” tanya ayah Cinta antusias.

“Yah… kebetulan dulu dapat beasiswa Om…,” jelas Borne merendah.

“Wah, hebat itu. Dulu, Om pernah ke Amerika tahun berapa ya… Tahun berapa Ma?” tanya ayah Cinta kepada istrinya. Rupanya beliau lupa.

“Tahun… 1980-an sepertinya…,” ujar ibu Cinta yang juga tidak ingat tepatnya.

“Iya… waktu itu saya ada tugas belajar enam bulan…. Belajar di pabrik pesawatnya Amerika… Boeing…,” jelas ayah Cinta.

“Wah, hebat sekali Om… Apa Om dulu bekerja di IPTN?” tanya Borne, tampak antusias tanpa terkesan cari perhatian berlebihan.

Ayah Cinta mengangguk-anggukkan kepala. “Lha iya… Biar jelek begini Om juga insinyur. Dulu kan ikut membantu Pak Habibie bikin Nurtanio… Kamu juga ngerti pesawat toh?” tanya ayah Cinta

“Wah, kalau saya kebetulan di elektroniknya Om, bukan avionik…,” jelas Borne.

“Lha, di pesawat itu kan juga ada elektroniknya tho?”

“Iya Om. Betul. Tetapi saya di komputasinya, ehm, komputer, pemrograman komputer tepatnya,” jelas Borne.

“Komputer? Wah, jadi kalau laptop Om rusak, bisa benerin dong?” tanya ayah Cinta “aji mumpung”.

“Papa… Apaan sih? Masak master M.I.T. suruh benerin laptop rusak? Ke Glodok aja sana!” sergah Cinta. Borne tertawa mendengarnya.

“Lha… ngapain jauh-jauh ke Glodok kalau ada calon mantu yang bisa ngebenerin, ya nggak?” kata ayah Cinta sambil tertawa.

“Boleh Om, nanti saya bantu… Tapi terus-terang ya Om, kalau Om kasih saya, saya bawa ke Glodok juga… Hehehe,” ujar Borne dengan raut wajah nakal.

“Lho, katanya ahli komputer? Masa’ musti ke sono juga?” ayah Cinta masih tak mau terima.

“Papa… udah ah. Lagian masa’ jauh-jauh ke sini cuma buat servis laptop Papa?” Cinta lagi-lagi menyergah, mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Iya Pa… Nak Borne ini kan jabatannya tinggi, bukan urusannya dia dong ngebenerin laptop…,” ibunda Cinta ikut membela. Akhirnya, ayah Cinta merasa dikeroyok dan angkat tangan.

“Iya deh… iya… Jujur saja, Om tertarik sekali dengan pekerjaan Nak Borne. Katanya kerja di perusahaan terkenal asal Amerika itu ya?” tanya ayah Cinta masih penasaran.

“Betul Om. Apa laptop Om juga merek itu?” tanya Borne.

“Wah, ndak tahu… Om sih dulu bekas jatah kantor. Sekarang sudah pensiun ya jarang dipake,” ayah Cinta tampak seperti linglung.

“Bukan, laptop Papa kan bukan produksi tempat Borne kerja. Kalau tempat Borne, ada lambang buah yang digigit itu lho… yang dulu pernah dipakai SBY juga…,” jelas Cinta.

“Ooohh…. Yang itu…. Memang beda ya?” tanya ayah Cinta.

“Beda Om. Sistem operasinya beda. Hardware-nya juga beda… Kalau produksi tempat saya kerja biasanya digemari pekerja kreatif…,” jelas Borne.

“Pekerja kreatif? Apa itu?” ayah Cinta tidak mengerti.

“Pekerja kreatif itu mereka yang melakukan pekerjaan yang memerlukan kreativitas menggunakan otak kanan lebih banyak, sebagian besar pekerja seni. Kalau untuk produk kami sih, banyak desainer grafis, fotografer, atau pembuat film yang memakainya. Karena kecepatan grafisnya lebih baik daripada… daripada yang punya Om…,” jelas Borne.

“Oh, gitu ya?Maaf ya… Om sudah ndak update lagi… maklum sudah delapan tahun pensiun…,” ayah Cinta meminta permakluman.

“Oh, tidak apa-apa Om. Saya malah senang ngobrol begini sama Om…,” Borne memaklumi.

“Bener nih? Kalo gitu, kita ngobrol aja yuk… Cinta biar masuk kamar lagi aja. Gih, sana tidur!” ayah Cinta mencandai putri tunggalnya.

“Aaaahhh… yang bener aja. Wong Borne ke sini buat ketemu Cinta, kok malah suruh ngobrol sama Papa. Sekalian aja suruh main catur…,” ujar Cinta.

Diberitahu begitu, ayah Cinta malah seperti mendapatkan ide. “Wah, ide bagus itu. Nak Borne suka main catur?”

Borne memandangi Cinta yang kini tampak memonyongkan mulutnya. Ia tertawa kecil lalu menjawab, “Hanya sekedar bisa Om, bukan jago apalagi suka…”

“Lha, kalau bisa, tinggal masalah waktu untuk jadi suka. Kalau begitu, besok kalau ke sini agak siangan. Kita main catur dulu sambil ngobrol…,” ajak ayah Cinta.

Demi sopan-santun, Borne menjawab, “Siap Om. Nanti saya bawa kacang goreng biar tambah asyik main caturnya.”

Tapi Cinta tidak terima, ia merajuk, “ Ah, ya udah. Kalo gitu, ini terakhir kalinya Borne ke sini. Besok-besok Cinta janjian aja di luar sama Borne.”

“Lha ya nggak gitu juga dong… Terus mau gimana kalau jadi mantu Papa… Masa’ nggak ke rumah-rumah?” goda ayah Cinta.

“Mantu apaan? Ini baru dateng pertama kali aja udah diplonco gini. Pasti kapok deh dia dating ke sini lagi besok-besok,” rajuk Cinta.


“Oh ya? Masa’ kapok nak Borne? Nggak kan ya?” ayah Cinta malah mengkonfirmasi kepada Borne.

“Nggak Om,” ujarnya seraya tangannya meremas tangan kiri Cinta, mencoba menenangkannya.

“Hehe… Ya sudah. Ntar keburu kesorean. Pada mau ke mana sih ini?” tanya ayah Cinta lagi.

“Belum tahu Om, mungkin makan sama jalan-jalan saja…,” ujar Borne tidak yakin.

“Oh ya sudah kalau begitu. Jangan lupa Om sama Tante dioleh-olehin ya…,” pinta ayah Cinta dengan lagak dicentil-centilkan.

“Papa! Kok minta oleh-oleh gitu sih? Kayak orang susah aja!” sergah Cinta.

“Lho, ya biar. Kamu kan jalan-jalan, Papa sama Mama jaga rumah, ya dioleh-olehin dooong…,” ujar ayah Cinta masih mempertahankan permintaannya.

“Siap Om. Om mau apa?” tanya Borne sigap.

“Mama, mau apa Ma? Tuh ditawarin…,” tanya ayah Cinta melempar pertanyaan kepada istrinya.

“Ehm… apa ya? Mama… eh, tante sih terserah saja. Tapi kan nanti pulangnya sudah malam. Kalau makanan, tolong cari yang kira-kira tahan sampai besok ya…,” pesan ibu Cinta.

“Baik Bu… Mau makanan Indonesia atau luar?” tanya Borne memastikan.

“Indonesia saja, lidah orangtua ndak cocok sama panganan londo,” ayah Cinta kembali angkat bicara.

“Baik Pak… martabak… boleh?” tawar Borne.

“Boleh, telornya empat ya!” pinta ayah Cinta. Cinta sendiri sudah geleng-geleng kepala melihat tingkah ayahnya yang antara “aji mumpung”, kecentilan dan memang ingin dioleh-olehi itu.

“SIap Om. Tante bagaimana?” tanya Borne kepada ibu Cinta.

“Ndak usah…. Itu saja cukup…,” tolak ibu Cinta halus.

“Baiklah kalau begitu, saya boleh pamit pergi dulu mengajak Cinta?” tanya Borne memohon izin.

“Ya…ya… boleh,” kata ayah Cinta.

“Hati-hati di jalan,” kata ibu Cinta yang dicium tangannya oleh Borne karena posisi duduknya memang lebih dekat, baru setelah itu Borne mencium tangan ayah Cinta. Cinta sendiri malah berlalu begitu saja karena sebenarnya memang tidak ada tradisi cium-tangan di keluarga itu.

“Eh, Cinta,” ayahnya memanggil.

“Apaan lagi?” Cinta yang memang bergaya akrab dengan orangtuanya menghentikan langkah dan berbalik.

“Pulangnya jangan malam-malam,” pesan ayah Cinta.

“Enggak kok….,” Cinta meneruskan langkahnya. “Pagi-pagi aja!” seru Cinta sambil setengah berlari ke arah pagar, menyusul Borne yang sudah beberapa langkah di depan.

“Eh, ini anak kalo dibilangin!” seru ayah Cinta sambil mengacungkan tinjunya. Tentu saja main-main. Cara bergaul orangtua dan anak di rumah itu memang seperti sahabat saja laiknya.

(Bersambung besok)

----------------------------

Cerita bersambung ini dimuat setiap hari di laman penulis http://kompasiana.com/bhayu

Untuk membaca kisah seluruh bagian yang lain, dapat mengklik tautan yang ada dalam daftar di:

Ada Asa Dalam Cinta (Sinopsis & Tautan Kisah Lengkap)

———————————————————————

Foto: Antono Purnomo / Reader’s Digest Indonesia (Femina Group)

Grafis: Bhayu MH

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x