Mohon tunggu...
Arnoldus Ajung
Arnoldus Ajung Mohon Tunggu... Guru - Inspirasi Hidup

Hidup selalu dihadapkan pada pilihan. Maka hidup harus selalu dimaknai, agar hidup berkualitas. Hidup yang berkualitas adalah hidup yang bermakna dan bernilai, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Mencoba memaknai hidup yang dianugerahkan, mencari butir-butir mutiara hidup yang tersembunyi di dalam setiap peristiwa dan pengalaman hidup.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pandangan dan Praksis Gereja terhadap Perempuan

2 September 2021   19:00 Diperbarui: 2 September 2021   19:06 187 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Selama dua dekade terakhir perhatian Gereja tingkat lokal atau Gereja setempat terhadap masalah seputar tema perempuan tampaknya menunjukkan perkembangan. Peranan Gereja tingkat lokal semakin besar  dalam mewujudkan Gereja sebagai kumpulan Umat Allah. 

Perkembangan yang ditunjukkan Gereja lokal dalam menanggapi masalah perempuan, memperlihatkan fakta bahwa pelayanan Gereja lokal, sebagai Gereja yang hidup di tengah umat, mampu menyentuh langsung serta memahami permasalahan kehidupan jemaat. 

Gereja-Gereja Katolik pada tingkal lokal, lebih menyadari arti pentingnya kehadiran dan peran perempuan di dalam Gereja, terlebih lagi jika menyadari bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama sebagai anggota dan bagian Gereja, bahkan Gereja itu sendiri (Iswanti, 2003: 27-29).

Gereja Katolik Indonesia pun menanggapi secara serius masalah-masalah seputar perempuan, yakni melalui Surat Gembala Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI) 22 Desember 2004 yang berjudul "Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki sebagai Citra Allah". 

Surat Gembala KWI 2004 menyatakan keprihatinan Gereja terhadap realitas sosial, ketimpangan relasi antara perempuan dengan laki-laki, yang mensubordinasi dan memarjinalkan posisi kaum perempuan di seluruh bidang kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, kesehatan, maupun agama dan budaya. 

Para uskup menyatakan dukungannya terhadap berbagai upaya membangun gerakan dan solidaritas untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. 

Sekretariat Jaringan Mitra Perempuan (JMP) telah melakukan langkah awal untuk mengkonkretkan  pesan Surat Gembala KWI 2004, yakni sosialisasi dan kerja sama serta pengintegrasian pesan Surat Gembala KWI 2004 tentang "Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki sebagai Citra Allah" dalam program karya pastoral di keuskupan-keuskupan.

Bahkan perhatian terhadap perempuan itu pun masih dilanjuti pada "Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2001-2005" (Ardas KAS 2001-2005), dimana secara eksplisit disebutkan bahwa Umat Allah itu adalah perempuan dan laki-laki, baik awam maupun para religius biarawan-biarawati bersama-sama mengemban tugas perutusan dalam Gereja dan dunia. 

Kemudian dalam Ardas KAS 2006-2010 juga ditegaskan lagi mengenai kemitraan laki-laki dan perempuan dalam pola penggembalaan Keuskupan Agung Semarang (alinea 2). 

Demikian pula, dengan Arah Dasar Keuskupan Bandung 2000-2005 yang berjudul "Menuju Gereja yang Lebih Hidup", masalah perempuan mendapatkan tempat penting. 

Dikatakan bahwa menurut terang iman Kristiani, perempuan adalah mitra laki-laki (Kej 2:22) di hadapan Allah, perempuan dan laki-laki adalah anak-Nya (Ardas Keuskupan Bandung, 2000-2005). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan