Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - A teacher

Someone who likes gardening, reading, writing, teaching, singing, and telling story.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Bahagia Ketika Sahabat Membacakan Puisiku

19 Juli 2021   23:53 Diperbarui: 20 Juli 2021   00:01 146 16 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bahagia Ketika Sahabat Membacakan Puisiku
Tangkap Layar Akun Youtube  kompasianer mbak Siti Nazarotin (dokpri)

Menulis puisi setiap hari, itu yang saya lakukan selama ini. Satu puisi sehari, bertambah menjadi dua, lalu tiga, kemudian empat, dan terakhir saya bisa menulis sanpai lima puisi sehari. 

Rasanya getar-getar bahagia sudah menyatu dalam puisi saya. Terlebih ketika sahabat membacakan salah satu atau beberapa karya puisi tanpa saya minta. Puisi tersebut belum lama ini saya buat dan ternyata seorang sahabat literasi merasa cocok dengan puisi tersebut.

Puisi Merindu Purnama hasil tangkap layar youtube mbak Siti Nazarotin (dokpri)              
            googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-712092287234656005-411');});
Puisi Merindu Purnama hasil tangkap layar youtube mbak Siti Nazarotin (dokpri) googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-712092287234656005-411');});

Puisi tersebut dapat Anda baca isinya dalam foto di atas. Saya mengambilnya dari tangkap layar youtube akun sahabat literasi mbak Siti Nazarotin.

Bagi saya, ada kebahagiaan tersendiri ketika seseoeang berkenan membacakan puisi saya. Bukan itu saja, terlebih jika puisi itu dipilihnya sendiri dari koleksi puisi saya. Satu lagi, saya juga tak pernah memintanya membacakan puisi saya. Jadi murni keinginan sahabat saya ini. 

Iya mbak Nazar, begitu saya menyapanya. Kompasiner yang rajin menulis artikel kuliner ternyata juga rajin membacakan puisi karya para sahabat. Kemurahan hatinya terlihat dalam kerelaannya membaca puisi sesama sahabat Kompasianer. 

Simak ya puisi saya yang dibacakan mbak Nazar.


Puisi sederhana karya saya terasa luar biasa saat dibacakan mbak Nazar. Saya merasakan emosi dalam puisi itu keluar untuk ditangkap pendengar. Rasanya berbeda dengan ketika saya membaca tulisan karya saya sendiri. 

Mungkin itulah keunikan dari musikalilsasi puisi. Bagaimana dengan Anda, rekan-rekan Kompasianer? Jika Anda penulis puisi seperti saya, apa yang Anda rasakan jika puisi Anda dibacakan teman bahkan sampai dibuatkan video musikalisasi. Kalau saya sangat bahagia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x