Mohon tunggu...
Riana Nur Annisa
Riana Nur Annisa Mohon Tunggu... -

Lulusan SMAK 3 Penabur, kini mencari ilmu di Unika Atma Jaya Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mengubah yang 'Terbuang' Menjadi 'Kekayaan'

12 Oktober 2014   23:48 Diperbarui: 17 Juni 2015   21:19 2142
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Indonesia merupakan sebuah negara maritim dengan 13.446 pulau banyaknya serta dihuni oleh 252.124.458 penduduk. Dari sekian banyaknya penduduk itu, maka tak dapat diragukan lagi bahwa sampah yang mereka hasilkan juga banyak. Secara umum, sampah dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Sampah organik merupakan sampah yang berasal dari sisa-sisa mahkluk hidup (biologis) yang dapat membusuk dengan mudah misalnya, sisa makanan, sayuran, buah, dll. Sampah anorganik adalah sampah yang sumbernya dari bahan-bahan non-biologis yang sulit terurai misalnya, botol plastik, kaleng minuman, styrofoam, dll. Sedangkan sampah B3 yaitu limbah yang beracun dan berbahaya seperti limbah rumah sakit, limbah pabrik, limbah pertambangan, dsb.

Dalam mengatasinya, dikenal sebutan 4R atau singkatan dari Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace. Sampah yang ada harus dikelola dengan efektif karena memegang peranan penting dalam wujud pelestarian lingkungan. Sampah anorganik terutama. Misalkan, styrofoam bekas Anda membeli nasi goreng tidak akan terurai dengan mudah kecuali Anda bakar styrofoam tersebut. Pembakaran styrofoam itu sendiri dapat menghasilkan gas karbondioksida, karbon monoksida, gas CFC yang dapat merusak lapisan ozon bumi.

Styrofoam atau polystyrene merupakan produk dari minyak bumi yang hanya diperbolehkansekali pakai dan sebaiknya dihindari. Riset terkini membuktikan wadah styrofoam mengandung dioctyl phthalate (DOP) yang menyimpan zat benzen, suatu larutan kimia yang sulit dilumat oleh sistem percernaan. Benzen ini juga tidak bisa dikeluarkan melalui feses (kotoran) atau urine (air kencing). Akibatnya, zat ini semakin lama semakin menumpuk dan terbalut lemak. Inilah yang bisa memicu munculnya penyakit kanker.

Dari contoh kasus nyata di atas, dapat diketahui bahwa sampah anorganik sebagiknya didaur-ulang menjadi sebuah barang atau produk berguna yang efektif dan efisien. Hasil daur ulang tentu juga dapat menghasilkan uang sekaligus menjadi hobi dalam kerajinan.

Sawo Kecik, sebuah webstore yang menjual berbagai produk hasil daur ulang sampah anorganik dari kotak susu bekas. Kotak susu bekas dikumpulkan lalu dikelola sehingga menjadi barang-barang bermanfaat seperti dompet, tas, tempat kartu nama, dan sebagainya.

Misalnya saja tempat kartu nama seperti gambar di atas, dibuat dari kotak susu bekas yang dibentuk kemudian dilapisi kain katun dan diamankan oleh sebuah kancing. Tempat kartu nama unik ini berukuran 9,5 x 7 cm yang bisa memuat lebih dari 10 kartu nama. Barang hasil daur ulang ini dijual dengan harga terjangkau dan sesuai dengan barang dibuat. Untuk selengkapnya dapat dilihat di website Sawo Kecik.

Kemudian, ada lagi berbagai macam ide kreatif dalam mengolah barang bekas. Seperti kaset DVD bekas yang sudah tak terpakai, dapat diolah menjadi suatu kerajinan bernilai estetika (keindahan) yang tinggi.

14131065341632295012
14131065341632295012

Kaset DVD yang sudah terpakai atau rusak, dapat Anda hancurkan berkeping-keping lalu dilapiskan ke piring dengan menggunakan lem super. Piring mozaik seperti gambar di atas juga dapat menghasilkan uang jika dijual.

Ada lagi yang unik, ketika Anda membeli makanan dan mendapatkan sendok platik untuk menyuap, maka jika dikumpulkan ada manfaatnya. Botol air putih plastik yang biasa dibeli di saat-saat haus juga bermanfaat. Jika kedua barang ini disatukan maka akan melahirkan suatu karya seni bernilai tinggi dalam manfaatnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun