Mohon tunggu...
Santoso MAHARGONO
Santoso MAHARGONO Mohon Tunggu... Pustakawan, Penggemar Puisi, Cerpen, Pentigraf, Lari Marathon, dan Gowes

Jika hendak kirim pesan, bisa kirim ke e-mail: santosoprb@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Terpujilah Kau Perantau

28 Oktober 2020   12:54 Diperbarui: 28 Oktober 2020   13:07 81 28 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Terpujilah Kau Perantau
Fotographer oleh: Doddy Wiraseto 

Ibu menyangrai kopi dalam rindunya yang teraduk-aduk. Menghitam seperti kenangan pahit yang tak pernah diceritakan sejak aku rebahan dalam rahimnya.

Begitulah perkiraanku tentang langit diatas rumah. Ada asap yang mengepul berbau kopi dan bermuhibah di sebuah warung dekat kontrakan.

"Bu, kopi satu, nggak pakai gula."
"Maaf nak, kalau merantau kenanglah yang manis agar tidak kesepian."

Aku hanya mengaduk senyum melihat ibu itu menasehati diri sendiri. Betapa banyak dari kita tak mampu menjawab mengapa harus merantau?
Sedangkan surga diam-diam menjadi tua, telapak kakinya lemah menjejak dan ubannya seperti belukar.

"Ibu bisa saja, apakah ibu punya anak yang merantau seperti saya?"

Diam-diam hening mulai mengantri masuk warung kopi. Ibu itu tak menjawab tanyaku. Tapi, perlahan aku bisa mendengar ceritanya melalui alunan denting sendok dan gelas yang bergesekan, mengaduk perantau dalam pusaran yang kencang.

Saat kuseduh kopi buatannya, kurasakan rindu ibu di desa mendidih menjilati lidahku yang menahan tangis.

"Permisi saya tidak jadi minum kopi, mau pamit mudik"
"Terpujilah kau perantau yang menyerahkan duka pada kata-kata"

Seketika asap berbau kopi menjadi awan menggumpal dan gerimis mulai turun di pipiku.


SINGOSARI, 28 Oktober 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x