Mohon tunggu...
Mawar Sheila
Mawar Sheila Mohon Tunggu... Konsultan - Consultant

Psikolog, Consultant, Coach, Assessor. Menyukai dunia pengembangan sumber daya manusia terutama di area soft skills dan leadership

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Pentingnya Umpan Balik yang Menggigit

1 November 2022   23:16 Diperbarui: 2 November 2022   18:05 1032
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sebut saja namanya Mark. Seorang ekspatriat asal Australia yang baru menjabat sebagai CEO sekitar 6 bulan di sebuah perusahaan logistik di Jakarta. Mark merasa terkejut ketika ia sedang berkeliling melihat proses pekerjaan di warehouse, ada seorang operator, Paijo, pegawai level bawah yang memanggil dan menegurnya secara lugas. 

Tampaknya Paijo tidak tahu siapa Mark. Paijo menegur Mark karena ia tidak memakai sepatu dan topi khusus ketika memasuki gudang. Alih-alih marah atau tersinggung kepada Paijo, Mark malah merasa kagum dengan orang tersebut.

Selama 6 bulan sebagai ekspat di perusahaan tersebut, belum satu orang pun yang berani memberi teguran kepadanya, bahkan pegawai di level BOD minus 1 tidak mungkin berani menegurnya jika ia salah. Biasalah bule itu kadang sudah memberikan kesan superioritas satu level bagi orang Indonesia yang tidak terbiasa bertemu atau bekerjasama dengan bule.

Bagi orang Indonesia, memberikan masukan, feedback atau umpan balik bukan merupakan kebiasaan yang biasa. Apalagi kalau masukan atau feedback yang tidak enak. Banyak pemimpin, atau sesama rekan, atau bawahan, hanya menelan bulat-bulat ketika mereka mengalami adanya kekurangan atau kesalahan dari pekerjaan anak buah, rekan atau bawahan. 

Kesal ditahan, atau akhirnya pekerjaan dikerjakan sendiri supaya lebih cepat, dan akhirnya kesalahan tetap dilakukan orang tersebut, dan akhirnya dia harus lembur beresi pekerjaan orang. Huh.

Padahal kalau saja bisa memberi tahu, lalu orang tersebut memperbaiki diri, kan sama-sama enak ya. Orang lain berkembang, kita juga semakin ahli dalam mengembangkan orang lain. Karena sering kali orang itu tidak sadar akan kesalahan atau kekurangannya, sehingga butuh cermin, butuhkan masukan dari orang lain supaya tahu, dan tujuannya supaya berkembang menjadi lebih baik.

Eh namun kata siapa ini hanya terjadi di Indonesia? Ternyata di luar negeri pun terjadi hal yang sama. Mari kita tengok kisah tentang pesawat ulang alik Challenger yang meledak 36 tahun lalu di atas Samudra Atlantik setelah 73 detik diluncurkan dan menyebabkan kematian 7 awak astronot. Internal investigasi menemukan bahwa Challenger ternyata diluncurkan pada temperatur yang lebih rendah dari semestinya.

Namun menurut salah satu sumber yang saya baca, di luar faktor teknis, ternyata para engineer atau tukang insinyur di NASA sebenarnya sudah tahu mengenai masalah ini, tapi mereka tidak berani menyampaikannya kepada pimpinan. Ternyata ditemukan ada masalah dalam Corporate Culture atau Budaya Perusahaan di NASA, dimana orang-orang takut mengeluarkan suaranya, apalagi jika berbeda dengan orang yang lebih superior. 

Walah engineer di NASA yang pastinya super pintar saja minder dengan atasannya apalagi orang biasa ya ha-ha-ha.

Budaya saling memberikan masukan, umpan balik atau feedback di dalam perusahaan sangat penting agar orang bisa memperbaiki diri, karena kebanyakan orang tidak menyadari atau tidak tahu dimana letak kekurangan atau kesalahannya. Ini seperti ada sebuah area buta atau blind spot, yang hanya bisa dilihat orang lain, namun tidak oleh diri sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun