Sucahya Tjoa
Sucahya Tjoa

Saya seorang pengusaha dan konsultan teknik aviasi, waktu senggang gemar tulis menulis. http://sucahyatjoa.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Permainan Politik di Balik Peracunan "Double Agent" Rusia di Inggris

17 April 2018   14:16 Diperbarui: 18 April 2018   09:08 528 2 1
Permainan Politik di Balik Peracunan "Double Agent" Rusia di Inggris
Sumber: www.theguardian.com

Pada 4 Maret 2018, mantan perwira intelijen militer Rusia dan mata-mata Inggris Sergei Skripal dan putrinya Yulia Skripal diserang racun di Salisbury, Inggris, menurut sumber resmi Inggris diserang dengan Agen (pereaksi) Saraf Novichok.

Setelah tiga minggu dalam kondisi kritis, Yulia kembali sadar dan bisa berbicara. Sergei berada dalam kondisi kritis hingga sekarang setelah serangan itu.

Kantor Kemenlu Inggris mengklaim temuan ilmuwan pemerintah Inggris di laboratorium pertahanan Porton Down dan akan memberikan tekanan baru pada Rusia untuk menjawab pertanyaan tentang dugaan keterlibatannya dalam serangan itu.

Kantor Kemenlu Inggris mengklaim temuan itu membuktikan tidak ada "penjelasan alternatif tentang siapa yang bertanggung jawab --- hanya Rusia yang memiliki sarana, motif dan catatan" dan menuntut Kremlin "memberi jawaban".

Pemerintah Inggris menggunakan identifikasi novichok sebagai bukti utama dalam keputusannya untuk menyalahkan Rusia atas serangan itu. Agen saraf "kelas militer" adalah tipe yang diketahui telah diproduksi oleh Rusia dan kemungkinan akan membutuhkan sumber daya negara untuk memproduksinya, kata Menlu Inggris.

Menurut kabar terakhir, Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan, Laboratorium Swiss menemukan zat yang digunakan menyerang bukan agen saraf novichok. Tetapi kimia terpisah yang dimiliki oleh Inggris dan AS.

Sergei Lavrov mengatakan Moskow telah menerima informasi dari sebuah laboratorium di Spiez, Swiss menunjukkan agen ganda Rusia dan putrinya terkena zat non-mematikan yang dikenal sebagai BZ.  Dia mengklaim laboratorium ini telah memberikan informasi rahasia kepada Rusia setelah menganalisis sampel dari agen yang digunakan dalam serangan terhadap Skripal di Salisbury bulan lalu.

Sergei Lavrov mengatakan, racun itu tidak diproduksi di Rusia, tetapi justru digunakan di Inggris, Amerika Serikat dan negara-negara NATO lainnya, media negara Rusia melaporkan.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan, jejak bahan kimia beracun BZ dan prekursornya, terkait dengan senjata kimia dari kategori kedua sesuai dengan Konvensi tentang Larangan Senjata Kimia, ditemukan dalam sampel," kata Lavrov, menurut Sputnik News milik negara.

BZ adalah agen syaraf yang bisa melumpuhkan seseorang sementara. Efeknya dicapai dalam 30-50 menit dan berlangsung hingga empat hari.

Perlu diketahui menurut "Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia/The Organisation for Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) telah menyebutkan baik novichok, maupun BZ dalam laporan independennya termasuk dalam racun yang dilarang digunakan untuk senjata.

Peristiwa Insiden Peracunan Skripal Jadi Permainan Politik Internasional

Pada 6 April lalu, AS mengumumkan babak baru sanksi terhadap Rusia, yang menyebabkan situasi Rusia menjadi semakin buruk.

Belum lama ini, AS, Eropa, dan Rusia terlibat dalam "perang diplomasi" yang disebabkan oleh insiden peracunan agen ganda seperti diatas. Lebih dari 20 negara Barat semuanya mendeportasi lebih dari 150 diplomat Rusia, sesuatu yang sangat langka terjadi bahkan tidak pernah terjadi selama Perang Dingin.

Namun, yang mencurigakan adalah bagaimana Inggris dan AS bersikeras bahwa serangan racun dari Rusia tanpa bukti konklusif siapa pelakunya. Apakah benar-benar sesuai dengan prinsip "praduga tidak bersalah (tidak bersalah sampai terbukti bersalah)" seperti yang selama ini sangat diadvokasi oleh negara-negara Barat?

Sumbu atau platik untuk perang diplomatik kali ini adalah insiden serangan gas saraf terhadap mantan agen ganda militer Rusia di Inggris diatas. Inggris segera percaya bahwa serangan itu datang dari Rusia, tetapi Rusia dengan tegas membantahnya. Segera masalahnya berkembangan dengan cara yang tak terduga.

PM Inggris Theresa May mengumumkan pada 14 Maret bahwa sebagai tanggapan terhadap serangan agen saraf ganda baru-baru ini, Inggris memaksa 23 diplomat Rusia untuk pergi dari negaranya dalam waktu seminggu.

Pada 15 Maret, para pemimpin dari AS, Inggris, Prancis, dan Jerman membuat pernyataan bersama, mengatakan bahwa Rusia adalah pelaku di balik serangan agen saraf mantan mata-mata ini, dan mengklaim bahwa tindakan ini adalah ofensif pertama Rusia menyerang dengan agen saraf di Eropa sejak WW II, dan Rusia melakukan tindakan yang melanggar integritas teritorial Inggris.

Setelah itu, efek domino terjadi di antara negara-negara Barat. 16 anggota Uni Eropa mengumumkan bahwa mereka akan mengusir diplomat Rusia. Ukraina, Republik Ceko, dan negara-negara lain segera menyusul.

Dari jumlah tersebut, Jerman, Kanada, Polandia, dan Prancis masing-masing mendeportasi 4 diplomat, sementara Ukraina mendeportasi 13 diplomat Rusia. Republik Ceko dan Lithuania masing-masing mendeportasi 3 diplomat, dan AS membuat pukulan terberat, mendeportasi 60 diplomat Rusia sekaligus dan menutup kedutaan Rusia di Seattle.

Menanggapi hal ini, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa dari seluruhan masalah, peristiwa anti-Rusia kali ini berkembang dengan kecepatan yang sangat mengejutkan.

Putin mnegatakan: Dalam hal ini kecepatan berkembanganya peristiwa anti-Rusia yang terjadi sungguh mencurigakan.

Pangamat melihat memang tanggapan Inggris sangat cepat. Sejak hari setelah serangan terjadi, dan mereka langsung mengkonfirmasi serangan dengan racun, dan segera menuduh Rusia. Dan mereka dengan cepat membuat tanggapan ini dalam waktu satu minggu.

Semua pihak memang merasakan begitu cepat tanggapannya, sedangkan masalahnya masih belum ada rincian lengkap dan bukti yang cukup. Dalam pernyataan bersama empat negara, PM Inggris Theresa May, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden AS Donald Trump semua mengatakan bahwa "tidak ada penjelasan rasional lain" untuk serangan agen saraf.

Pada 19 Maret, saat wawancara dengan media, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan dia telah melihat bukti bahwa agen saraf itu berasal dari Rusia. Dengan mengatakan: Ketika saya melihat bukti, dan saya tanya warga-warga di Porton Down, saya menanyakan langsung kepada mereka: "Apakah Anda yakin?" Dan dia berkata" "Tidak ada keraguan."

Namun, pernyataan diatas ini dengan cepat dibantah oleh Laboratorium Sains dan Teknologi Pertahanan Inggris. Kepala Laboratorium, Gary Aitkenhead, mengatakan tidak ada cara untuk memverifikasi bahwa agen saraf novichok yang digunakan untuk menyerang Skripal dan putrinya datang dari Rusia.

Gary Aitkenhead, Chief Executive of the UK's  Defense Science and Technology Laboratory mengatakan: "Kami belum memverifikasi sumber yang tepat, tetapi kami memberikan informasi ilmiah kepada pemerintah, yang kemudian menggunakan sejumlah sumber lain untuk mengumpulkan kesimpulan yang telah mereka peroleh."

Ketika pernyataan itu dibuat, opini publik menjadi ramai. Setelah itu, Kementerian Luar Negeri Inggris diam-diam menghapus tweet yang dibuat pada 22 Maret tentang serangan agen saraf yang berasal dari Rusia.

Pemikiran Inggris dalam kasus ini adalah untuk mengasumsikan kesalahan. Dengan menggabungkan peristiwa masa lalu mereka tentang Rusia,  yang telah Rusia lakukan dan tekanan bahwa mereka harus segera memberi tanggapan kepada publik --- itu adalah situasi kesalahan yang dibuat kali ini. Ini pandangan beberapa analis dunia luar.

Praduga tidak bersalah hingga sampai terbukti bersalah sebenarnya dimulai di Inggris, menjadi aturan pembuktian arus utama dalam sistim legal di Inggris dan AS. Ini merujuk pada kebutuhan mereka untuk menjadikan bukti yang cukup, konklusif, efektif terhadap kesalahan terdakwa, dan bahwa jika seseorang tidak dapat dibuktikan bahwa terdakwa bersalah, mereka harus dianggap tidak bersalah.

Dan perilaku Inggris dalam kasus agen ganda Rusia kali ini bertentangan dengan semangat hukum yang diadvokasikannya.

Ini membuat Rusia percaya bahwa hal ini adalah ejekan terbuka terhadap hukum internasional, etika diplomatik, dan akal sehat.

Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan: "Perilaku semacam ini (mendeportasi para diplomat Rusia) merupakan ejekan terbuka terhadap hukum internasional, etika diplomatik, dan akal sehat. Ini telah berlangsung selama beberapa waktu. Yang ingin saya tunjukkan bahwa Rusia pasti tidak akan bersikap lunak untuk menanggapi perilaku tidak ramah ini, tetapi pada saat yang sama, kita masih ingin mengejar kebenaran."

"Praduga Tidak Bersalah Sampai memang Terbukti Bersalah" bukan tanpa contoh dalam sejarah beberapa negara Barat. Contoh yang paling terkenal adalah pada tahun 2003, ketika AS menuduh pemerintahan Saddam Hussein di Irak memproses senjata pemusnah massal yang melanggar perjanjian internasional dan menjadi ancaman bagi dunia.

Menlu AS Colin Powell saat itu, bahkan menunjukkan bukti terkait hal ini kepada PBB dan menuntut agar PBB menyetujui tindakan militer AS. Pada akhirnya, AS dan Inggris tidak memperdulikan PBB untuk melancarkan Perang Irak dengan dalih bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal.

Namun satu tahun setelah menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein, pada tahun 2004, kesimpulan akhir yang dibuat AS mengakui bahwa mereka tidak menemukan senjata pemusnah massal di Irak. Juga tidak ditemukan bukti bahwa pemerintahan Hussein telah menjalin hubungan dengan Osama bin Laden dari Al Qaeda.

Sumber: CCTV News/youtube.com
Sumber: CCTV News/youtube.com


Dan bukti yang disajikan Colin Powell kepada PBB saat itu diejek oleh Presiden Rusia Putin sebagai "mungkin botol itu diisi dengan deterjen."

Putin mengatakan: "Jika mereka memiliki bukti, silahkan letakan buktinya di atas meja. Biar kita dan seluruh dunia bisa melihat bahwa bukti dari Menlu AS (Colin Powell) pada tahun 2003 di Dewan Keamanan PBB tentang keberadaan senjata pemusnah massal di Irak. Dia menunjukkan tabung uji dengan isi yang tidak diketahui dalamnya, yang mungkin hanya bubuk sabun cuci."

Pada 31 Maret, Kedutaan Rusia di London mengirim laporan ke Kementerian Luar Negeri Inggris yang menlisting 14 masalah dengan serangan racun Skripal, menuntut Inggris menanggapi, tetapi Inggris tidak memberi tanggapan.

Rusia Minta Bukti Dari Inggris

Sejak insiden itu terjadi, Rusia telah beberapa kali menuntut Inggris untuk menunjukkan bukti yang efektif, tetapi Inggris belum memberikan bukti terkait.

Pernyataan-pernyataan yang diutarakan Rusia tentang insiden ini, termasuk investigasi yang berhubungan dengan ini, dan melakukan penilaian yang adil dan terbuka oleh kelompok-kelompok internasional, namun permintaan yang masuk akal ini belum terselesaikan, jadi dalam hal ini masih ada banyak misteri yang harus ditunggu untuk diselesaikan lebih lanjut.

Memang jika diamati dalam beberapa tahun terakhir, ada ketidaksepakatan konstan antara negara-negara Barat dan Rusia. Karena itu, ketika terjadi kasus dengan keraguan seperti itu, bagi AS dan puluhan negara di Eropa untuk dengan cepat membentuk front anti-Rusia bersama membuat orang bertanya-tanya,  apakah tidak mungkin alasan ini dibuat begitu sederhana?

Tanpa diragukan lagi, pembentukan aliansi anti-Rusia ini memiliki beberapa faktor yang cukup kompleks, tetapi faktor yang paling penting adalah faktor politik, apakah bukan dikarenakan masalah keamanan dari negara-negara Eropa yang menyangkut Rusia atau negara-negara Barat perlu menemukan musuh bersama untuk memantapkan unifikasi mereka, ini sebenarnya pertimbangan politik yang sangat penting.

Meskipun kemajuan penyelidikan terhadap keracunan masih rumit, Inggris masih belum mau terbuka berargumen dengan inten dengan Rusia sebelum kebenaran untuk masalah ini sepenuhnya terungkap. Ini menyebabkan banyak pihak bertanya-tanya motif apa dibalik ini semua.

Selain itu, hal lain yang patut dicatat adalah di balik pertarungan antara Inggris dan Rusia ini, pemimpin dari tim cheer leaders (supporter penggembira) terdiri dari AS dan Eropa. Jadi, pertimbangan apa yang dijadikan banyak negara Barat untuk dengan cepat bergabung dalam front persatuan anti-Rusia?

Pada 23 Maret lalu, saat di KTT Musim Semi Uni Eropa, Inggris, yang sudah memutuskan meninggalkan Uni Eropa (Brexit), sebenarnya menerima dukungan dari negara-negara Eropa karena serangan racun. Dewan Eropa merilis komunike bersama yang menegaskan kesimpulan dari pemerintah Inggris, dan memutuskan untuk memanggil pulang Duta Besar UE untuk Rusia Markus Ederer untuk jangka waktu satu bulan.

Donald Tusk, Presiden Dewan Uni Eropa mengatakan: "Saya pribadi sangat senang bahwa meskipun telah terjadi negosiasi Brexit dengan keras, Uni Eropa telah menunjukkan kesatuan yang bulat dan tegas dengan Inggris dalam menghadapi serangan ini."

Ketika negosiasi Brexit Uni Eropa telah mengalami goncangan hebat, AS dan negara-negara Uni Eropa (UE) telah menunjukkan "unifikasi" mereka dangan sangat menyolok.

Mengapa negara-negara UE dengan suara bulat mendukung Inggris dalam masalah ini? Sebenarnya ada pertimbangan untuk melihat apakah Inggris masih dapat menemukan hub baru secara tradisional di daratan Eropa.

Mereka sangat tidak setuju pada masalah Inggris meninggalkan UE, termasuk masalah biaya Brexit, semua pihak ingin menegosiasikan harga, dan mereka menjadi sangat tidak senang tentang hal ini, sehingga dapatkah semua pihak menemukan alasan baru untuk bersatu? Tampaknya mereka telah menemukan alasannya.

Namun, apa yang tampaknya sedikit disesalkan adalah bahwa dukungan UE untuk Inggris tampaknya sedikit terlambat. Pada saat ultimatum 24-jam yang diberikan Inggris kepada Rusia, pemerintah Inggris bekerja untuk membujuk mitra UE-nya untuk menanggapi dengan meningkatkan sanksi terhadap Rusia, tetapi ini tidak menghasilkan apapun.

Pada 15 Maret, hanya setelah kepala negara Inggris, Prancis, Jerman, dan AS membuat pernyataan bersama barulah UE mulai mengikutinya.

Ini tampaknya untuk memverifikasi fakta sebenarnya bahwa setelah Inggris mulai meninggalkan Uni Eropa, pengaruhnya semakin berkurang.

Kali ini, banyak negara telah bersekongkol melawan Rusia seperti ini, tapi banyak analis yang percaya bahwa beberapa hanya memainkan peran. Kenyataannya, mereka hanya membuat Uni Eropa terlihat bersatu, dalam posisi mereka terlihat bersatu di permukaan, tetapi kenyataan dalamnya, mereka tidak mau memutuskan segalanya dengan Rusia, karena bagaimanapun mereka masih tergantung pada impor dari Rusia untuk produk-produknya, seperti gas alam dan minyak bumi.

Sejak Inggris mengumumkan lepas diri dari Uni Eropa pada 2017, itu sebenarnya telah menciptakan perpecahan di dalam Uni Eropa. Bloomberg mengutip analisis ahli teknologi Inggris, Jamdes Nixey yang mengatakan bahwa di tengah Brexit, Inggris telah menjadi terisolasi, dan hubungannya dengan AS semakin tidak pasti.

Dengan menggambarkan Rusia sebagai ancaman eksternal utama Inggris, diharapkan bisa membantu Inggris menggunakan isu ini sebagai alasan untuk menutupi "jarak" antara negara itu dan negara-negara Barat lainnya yang disebabkan oleh Brexit.

Alexander Yakovenko, duta besar Rusia untuk Inggris mengatakan: " Menurut perasaan pribadi saya bahwa Inggris sedang mencoba untuk menemukan peran barunya di dunia, karena setelah Brexit mereka harus menemukan cara untuk prioritas baru kebijakan luar negerinya,  dan sejauh ini sekarang kita melihat setidaknya keinginan untuk memusuhi Rusia menjadi kesempatan untuk ini."

Selama kontes mendeportasi diplomat Rusia, pemukul berat lainnya adalah Amerika Serikat, dan sikap AS telah memprovokasi pikiran dunia luar. Tidak lama setelah insiden serangan agen saraf, Presiden AS Trump sebenar baru saja berhubungan telepon dengan Vladimir Putin, tetapi sama sekali tidak menyebutkan dan menyinggung kejadian ini.

Mantan duta besar AS untuk PBB dan duta besar untuk Rusia Thomas Pickering mengatakan dalam hal ini dukungan Trump terhadap Inggris tidak begitu teguh sejak awal. Dia mengatakan: (Presiden AS) Trump sendiri agak ragu-ragu sekitar seminggu yang lalu dalam mendukung (UK) PM May dan saya pikir itu adalah indikasi menarik, ini semacam solidaritas yang dapat dibangun untuk diplomasi Inggris pada waktu khusus ini.

Yang menarik adalah bahwa ketika Inggris mendapat dukungan dari Jerman, Perancis, dan negara-negara Eropa lainnya, sikap Trump bergeser, dan target baru serangannya menjadi Rusia.

Trump mengatakan: "Ini adalah situasi yang sangat menyedihkan. Tentu saja orang Rusia berada di belakangnya, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dan pernah terjadi, dan kami menganggapnya sangat serius."

Sehubungan dengan ini, AP mengeluarkan sebuah artikel yang mengatakan bahwa AS jelas menunggu Inggris dan Eropa mencapai konsensus. Dapat dikatakan bahwa AS berharap untuk menggunakan ini untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa ketika menghadapi ancaman, peradaban Barat yang dipimpin oleh AS dan sekutu-sekutunya masih dapat disatukan seperti sebelumnya.

Semua orang juga tahu bahwa setelah Trump menjabat, hubungan AS dengan negara-negara Eropa tidak begitu menyenangkan akhir-akhir ini. Ketika bicara untuk isu "Perjanjian Paris," masalah nuklir Iran, dan liberalisasi perdagangan, AS ingin menggunakan kesempatan ini untuk menopang kemitraannya di Samudra Atlantik.

Kenyataannya, Trump bergabung dengan daftar negara yang telah mendeportasi diplomat Rusia karena terkait dengan lingkungan domestik AS sendiri. AS dan Rusia memiliki konflik yang mengakar kuat, dan di AS, skandal Rusia selalu menjadi sinyal negatif yang diarahkan kepada Trump. Jika AS memilih untuk duduk diam dan tidak melakukan apa pun kali ini, itu pasti akan menjadi pukulan bagi pemerintahan Trump.

Suasana politik di AS telah menjadi pertimbangan dan putusan untuk beroposisi dengan Rusia saat ini dan ini menjadi isu kebenaran politik (political correctness), dan jika Trump melanggar prinsip ini, tidak akan ada jalan baginya untuk mendapatkan keuntungan politik. Jadi dalam situasi semacam ini, Trump harus mempertimbangkan kepentingan politiknya sendiri.

Sebelum api gejolak diplomatik padam, pada 6 April, AS mengeluarkan keputusan untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia. 38 individu dan entitas, termasuk pejabat senior Rusia, orang-orang kaya, dan perusahaan ekspor pertahanan berada di dalam daftar. Hal ini dilihat sebagai sanksi paling keras yang diterapkan oleh pemerintahan Trump terhadap Rusia hingga hari ini.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hubungan Barat dan Rusia dipenuhi dengan dendam. Kontes geopolitik dan konflik interim telah menciptakan hubungan antara Eropa, AS, dan Rusia seperti saat ini, dan juga telah membuktikan bahwa dalam "Pasca Tatanan Barat (post-Western order)", Rusia dan Eropa dan AS merasa sulit untuk hidup damai satu sama lain.

Gara-gara Putin Terpilih Kembali Sebagai Presiden Rusia

Jadi, mengapa negara-negara dari aliansi anti-Rusia Barat memilih untuk menekankan topik ini pada saat ini, dan mengarahkan laras senjata mereka ke Rusia?

Putin memberi pernyataan setelah pemilihan presiden Rusia: "Lebih dari 56 juta warga memberikan suara mereka kepada presiden incumbent. Itu lebih dari 76% suara. Ini adalah dukungan tertinggi dalam sejarah negara kita."

Pada 23 Maret 2018, Putin memenangkan pemilihan presiden Rusia, sekali lagi memenangkan masa kepresidenan untuk 6 tahun. Statistik resmi menunjukkan bahwa Putin menerima 76,69% suara, yang merupakan suara terbanyak yang ia peroleh sejak ia ikut dalam pemilihan presiden tahun 2000.

Berbeda dengan rakyat di Rusia yang menari di jalan-jalan untuk merayakan kemenangan Putin, beberapa sikap negara-negara Barat justru tampak sedikit lebih dingin.

Donald Tusk, Presiden Dewan Uni Eropa mengatakan: "Setelah serangan Salisbury (dengan agen saraf) saya tidak berminat untuk merayakan (Rusia) Presiden (Vladimir) Putin yang telah diangkat kembali."

Tampaknya sulit bagi Barat untuk menerima kenyataan bahwa Putin menang dengan persentase suara yang mutlak besar.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Putin selalu menjadi sasaran ketidak-senangan Barat. Karena Putin cukup berani untuk mengajunkan pedangnya dengan Barat, dan menyatakan kepada Barat "Tidak" untuk membela kepentingan Rusia, jadi ini telah menciptakan konflik mendasar antara Rusia dan Barat.

Selain itu, sejak 2014, perselisihan antara mereka tentang Ukraina dan masalah Krimea telah memperparah konflik antara Barat dan Rusia. Barat percaya bahwa selama Putin sebagai presiden Rusia, hubungan mereka dengan Rusia tidak akan pernah menjadi hal yang baik.

Ketika menyangkut masalah Suriah, Putin dan intervensi Rusia yang berani menunjukkan kekuatan dan resolusi Putin di dunia, tidak hanya menstabilkan pemerintahan Bashar al-Assad, tetapi juga membuat suaranya menjadi  penting di Timur Tengah. Ini membuat beberapa negara Barat menjadi gelisah dan galau.

Setelah Rusia tiba-tiba melakukan intervensi (di Suriah), kita semua bisa melihat bahwa masalah Suriah mulai berubah, jadi ketika kita membicarakan Suriah, kini kita benar-benar menjadi tahu situasi di mana Rusia adalah pemain utama di sana.

Saat ini, kesan mendasar banyak negara Barat percaya bahwa Rusia akan menjadi sangat bermasalah bagi Barat pada isu-isu tertentu, dan dalam periode tertentu --- ini akan membuat Barat merasa sangat canggung dan tidak nyaman.

Menyangkut masalah serangan agent saraf baru-baru ini, beberapa analis telah menunjukkan bahwa motif tersebut sangat menggoda pemikiran mereka, karena ketika insiden itu terjadi, hanya berselang beberapa waktu sebelum pemilihan presiden Rusia 2018. Dan perang diplomatik kebetulan terjadi bersamaan ketika Putin memenangkan kursi kepresidenan dengan suara mayoritas.

Barat telah melihat bahwa Putin akan tetap memerintah Rusia selama beberapa tahun ke depan, jadi banyak dari mereka percaya ini adalah mimpi buruk, jadi mereka ingin menyerang Rusia, terutama Putin, dengan insiden keracunan agen (pereaksi) khusus ini.

Dalam hal ini, beberapa analis percaya bahwa pembentukan front anti-Rusia ini dari Barat adalah cara melampiaskan kemarahan mereka, dan Skripal hanyalah sumbu yang memicu hal ini.

Hal ini dapat dikatakan hanya pelampiasan emosi, sehingga pembentukan front persatuan anti-Rusia ini sebenarnya bukan disebabkan oleh kasus Skripal --- itu karena gaya baru kontes antara Rusia dan Barat, sebenarnya sentimen hubungan mereka telah berlangsung selama bertahun-tahun yang mengokohkan landasan batin yang sangat dalam ini. Kasus Skripal hanyalah menjadi sumbu yang memicu hal ini.

Situs web "Vzglyag" yang berbasis di Rusia baru-baru ini mengatakan bahwa tujuan negara-negara Barat yang mengarahkan laras senjata mereka ke Rusia adalah untuk memberi tekanan lebih besar pada Rusia, dan menunjukkan sikap Barat yang kuat dan bersatu sehingga bahkan jika mereka tidak dapat memaksa Rusia untuk berkompromi, mereka masih bisa mendapatkan kemajuan dalam serangkaian konflik dan perselisihan.

Analis luar pikir, bagi Barat untuk membentuk front persatuan ini, untuk batas-batas tertentu, itu bisa disebut membentuk kebencian kepada musuh bersama. Ini adalah semacam peringatan ke Rusia, mereka mengatakan berharap atau memperingatkan Rusia untuk tidak mencoba-coba memecah belah, tidak mencoba untuk mengambil tindakan tidak ramah terhadap Barat, atau bahkan mengambil tindakan bermusuhan terhadap Barat.

Pendeportasian diplomat Rusia yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh Barat ini tampaknya kuat dan bersemangat seolah menunjukkan bagaimana Barat bersatu melawan "musuh luar," tetapi di bawah permukaan, ada arus tersembunyi yang bergerak.

Front Anti-Rusia Yang Tidak Bisa Diandalkan

"The Guardian" yang berbasis di Inggris baru-baru ini mengkritik beberapa negara sebagai "aliansi enggan Eropa", dan percaya bahwa negara-negara UE yang mendeportasi satu hingga tiga diplomat Rusia hanya ingin mempertunjukan karena mereka harus.

Selain itu, beberapa negara UE secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak akan mendeportasi diplomat Rusia. Front anti-Rusia ini sepertinya tidak dapat diandalkan. Tapi bagaimana situasi sebenarnya? Berapa lama persatuan front ini ini bisa bertahan?

Situs "EU Observer (Pengamat Uni Eropa)" yang berbasis di Belgia menunjukkan bahwa ketika Barat telah mendeportasi para diplomat Rusia dalam skala besar, lebih dari 10 negara di Uni Eropa telah memilih untuk tidak mengikuti arus. Malta, Siprus, Slovenia, dan Yunani semuanya mengatakan bahwa mereka akan menunggu hasil penyelidikan akhir. Austria, Portugal, Luksemburg, dan Bulgaria jelas menunjukkan bahwa mereka tidak akan mendeportasi diplomat Rusia.

Mengapa terlihat begitu banyak negara Eropa tampaknya mengambil ke sisi Inggris tanpa perbedaan? Sebenarnya, jika khusus dianalisir --- itu tidak berarti bahwa mereka benar-benar dengan tulus mendukung Inggris, sebenarnya, sejumlah negara tertentu dari mereka karena tidak punya pilihan lain.

Pada 29 Maret, menurut laporan dari "Argumenty I Fakty" yang berbasis di Rusia yang mengutip informasi dari "Kronen Zeitung" Austria, Menteri Luar Negeri Austria Karin Kneissl baru-baru ini mengatakan bahwa duta besar Inggris untuk Wina telah melakukan beberapa upaya untuk menekan pemerintah Austria. untuk mendeportasi diplomat Rusia.

Menteri Luar Negeri Rusia juga mengungkapkan pada 27 Maret bahwa beberapa negara secara superfisial mendeportasi diplomat Rusia, tetapi kemudian secara diam-diam meminta maaf ke Rusia.

Sergei Lavrov Menlu Rusia mengatakan: "Tanpa ragu, Rusia akan merespon, karena tidak ada yang bisa menerima perilaku kurang ajar seperti itu. Kami tidak akan mengizinkannya. Mereka menuntut satu atau dua diplomat meninggalkan negara mereka atau negara itu, dan kemudian secara pribadi meminta maaf. Kami tahu bahwa mereka menghadapi tekanan besar."

"New York Times" mengatakan pada 27 Maret bahwa isu Rusia adalah masalah rumit bagi UE, karena Rusia memainkan peran kunci dalam menyediakan energi ke daratan Eropa. Statistik resmi UE menunjukkan bahwa saat ini, 39% gas alam Uni Eropa diimpor dari Rusia, dan beberapa negara bahkan sepenuhnya bergantung pada Rusia untuk seluruh pasokan gas alam mereka.

Selain pipa gas alam "Nord Stream" yang saat ini bekerja melebihi kapasitas, pada tahun 2015, Gazprom Rusia menandatangani perjanjian dengan beberapa perusahaan energi dari Perancis, Belanda, Austria, dan Jerman dengan rencana untuk memasang dua jaringan pipa gas alam yang akan tersambung dari Rusia, melalui dasar Laut Baltik, ke Jerman. Nama proyeknya adalah "Nord Stream2" dan diproyeksikan untuk mengekspor 55 miliar meter kubik gas ke Jerman untuk memenuhi 10% dari kebutuhan gas alam Eropa.

Beberapa hari setelah Jerman mendeportasi empat diplomat, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa negara-negara Uni Eropa membutuhkan Rusia dan berharap untuk terus bekerja sama dengan Rusia. Karena itu, beberapa komentator percaya bahwa proyek "Nord Stream 2" telah membuat Jerman tiba-tiba menjadi ketidakpastian terbesar dalam front anti-Rusia ini.

Rusia adalah kekuatan utama dalam energi, minyak bumi dan gas. Banyak negara Eropa tidak dapat hidup tanpa pasokan minyak dan gas Rusia, jadi banyak analis percaya bahwa hubungan negara-negara Eropa dan Rusia merupakan hubungan antara cinta-benci yang rumit.

Sumber: www.express.co.uk
Sumber: www.express.co.uk


Setelah pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman, suara perbedaan pendapat juga terdengar di Italia. Menurut sebuah laporan dari "Daily Express" Inggris Raya jika pemimpin Liga Utara, Matteo Salvini, yang dianggap sebagai PM Italia berikutnya, dapat berhasil mengambil alih jabatan, ia akan mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri serangkaian sanksi yang tidak masuk akal yang telah dijatuhkan Uni Eropa terhadap Rusia.

Beberapa pakar hubungan internasional juga mengatakan bahwa karena ekonomi Italia dan Rusia terkait erat, sikap rakyat mereka terhadap Rusia cukup bersahabat. Meskipun pemerintah Italia telah mengambil bagian dalam tindakan terpadu Uni Eropa, itu mungkin hanya dikarenakan adanya tekanan besar yang diterapkan dari dalam UE.

Pada 5 Maret lalu, Metteo Salvini mengklaim koalisinya berhasil memenangkan pemilu Italia 2018.

Sumber: CCTV News
Sumber: CCTV News


Maria Melchionni, Kepala Redaksi "Jurnal Studi Politik Intertional" dari HYPERLINK "https://ww.jstor.org/publisher/mgm"   mengatakan: "Saya harus menunjukkan bahwa Italia telah berpartisipasi sangat sedikit, hanya mendeportasi dua diplomat Rusia dan menyebut itu cukup. Ini juga menunjukkan bahwa pemerintah Italia enggan menerima keputusan Uni Eropa."

Beberapa analis percaya bahwa "aliansi anti-Rusia" dari negara-negara Barat tidak akan bertahan lama, pertama-tama karena beberapa negara ditekan untuk ikut berpartisipasi, dan ketika situasinya berubah, sikap mereka akan cepat goyah. Kedua, banyak anggota Uni Eropa tidak percaya pada perilaku dugaan bersalah yang dituduhkan Inggris. Jika Inggris tidak dapat mendapatkan bukti konklusif, negara-negara ini akan mengubah sikap mereka.

Sumber: metro.co.uk
Sumber: metro.co.uk


Banyak analis berpikir, persatuan front aliansi anti-Rusia ini tidak akan berkelanjutan. Karena dalam kenyataannya, mereka semua memiliki perhitungan dan pertuimbangannya sendiri-sendiri, hal lain yang penting adalah bahwa mereka semua memiliki jaringan sendiri atas berbagai hubungannya dengan Rusia, seperti hubungan ekonomi, dan hubungan keamanan, jadi front persatuan ini tidak akan bertahan lama.

Selain itu karena Uni Eropa dan Rusia adalah tetangga, mereka memiliki banyak kepentingan bersama. Sementara kasus insiden peracunan mantan agen Rusia ini masih belum ada kesimpulan akhir, tapi telah memperluas pemikiran Perang Dingin, hal ini hanya akan menciptakan lebih banyak ketegangan dan perselisihan, dan tidak membantu menyelesaikan krisis.

Putin mengatakan: "Kita tidak mengharapkan permintaan maaf apa pun. Kita hanya berharap semua pihak kembali ke akal sehat mereka, dan berharap hubungan internasional tidak akan rusak seperti sekarang, tidak hanya dalam kasus Skripal, tetapi juga dalam aspek hubungan internasional lainnya. Pekerjaan kita perlu dilakukan dalam kerangka proses politik yang rasional, dan perlu dibangun berdasarkan prinsip-prinsip dasar hukum internasional --- ini akan membuat situasi global lebih stabil dan jelas."

Sudah dalam waktu yang lama, negara-negara Barat belum menganggap Rusia sebagai negara yang benar-benar "normal" dan bisa bermitra untuk kerja sama.

Konflik diplomatik ini disebabkan oleh peracunan agen ganda diisi dengan perdebatan dan kecurigaan, dan ini sebenarnya hanya bayangan ketidak sepakatan konstan dalam hubungan antara Rusia dan Barat dalam beberapa tahun terakhir.

Kasus peracunan mantan agen Rusia akan berlalu. Tetapi setelah negara-negara Barat yang mengambil bagian dalam "front anti-Rusia" dan Rusia melepaskan emosi mereka, bagaimana mereka harus menghadapi kekacauan yang tersisa? Bisakah kedua belah pihak menemukan cara untuk berinteraksi dengan koeksistensi damai dan saling percaya?

Hal ini sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh kedua belah pihak negara-negara Eropa dan Rusia.

Sumber Media TV dan Tulisan Luar Negeri

https://www.theguardian.com/uk-news/2018/mar/26/four-eu-states-set-to-expel-russian-diplomats-over-skripal-attack

https://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/skripals-skripal-russia-nerve-agent-bz-novichok-poison-salisbury-attack-latest-update-a8304841.html

https://www.independent.co.uk/news/uk/politics/sergei-and-yulia-skripal-in-salisbury-attack-was-a-novichok-nerve-agent-confirms-chemical-weapons-a8301121.html

https://www.express.co.uk/news/world/922914/Italian-election-2018-polls-latest-tracker-Matteo-Salvini-win-italy-who-is-Lega-Nord

https://www.express.co.uk/news/world/927302/Italian-election-latest-Matteo-Salvini-Lega-coalition-Italy-results-live

https://www.express.co.uk/news/world/923124/italian-election-2018-matteo-salvini-european-union-italexit-eu-italy-brexit

https://www.washingtonpost.com/news/worldviews/wp/2018/03/27/here-are-all-the-countries-that-just-expelled-russian-diplomats/?noredirect=on&utm_term=.605233d09df8[U1]

https://metro.co.uk/2018/03/27/full-list-countries-now-expelled-139-russian-diplomats-7419515/

[U1]