Mohon tunggu...
Acek Rudy
Acek Rudy Mohon Tunggu... Konsultan - Palu Gada

Entrepreneur, Certified Public Speaker, Blogger, Author, Numerologist. Mua-muanya Dah.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Problema Sakit Jiwa di Indonesia, Puncak Gunung Es yang Belum (Pasti) Mencair

3 September 2020   17:58 Diperbarui: 11 September 2020   08:31 2034
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hal yang sama juga terjadi dengan profesi Psikiater. Menurut Ketua Program Studi Psikiatri Universitas Padjajaran, Shellly Iskandar, kekurangan jumlah psikiater ditenggarai oleh kurangnya dosen pengajar, hingga kurangnya peminat.

Cerita singkat ini memberikan gambaran bagaimana psikolog dan psikiater tidak menjadi ranah pilihan pada umumnya. Stigma sebagai 'pengurus orang gila' sulitnya mendapat pekerjaan, dan perbandingan honor dengan dokter spesialis lainnya menjadi alasan utama disini.

Akan tetapi dr. Arief Limardjo, sepupu saya justru mengatakan hal berbeda. Ia mendorong Kelly untuk terus maju mengejar impiannya. Baginya psikolog adalah pekerjaan mulia yang akan berguna di masa depan.

Menurut dokter Arief, psikiater dan psikolog seharusnya bergandengan tangan. Psikiater dituntut untuk menyelesaikan masalah dengan memberikan pengobatan melalui medikasi standar kedokteran.

Sementara masih banyak pasien membutuhkan saran yang terbaik dari Psikolog Klinis tentang bagaimana menangani keluarga penderita 'disabilitas psikososial' ini.

Bagi psikolog, berhadapan dengan 'orang gila' adalah hal yang paling dihindari. "Seharusnya psikolog menangani gejala gangguan jiwa ringan yang dapat menjurus ke kesehatan jiwa parah nantinya. Sedangkan tingkat stress dan depresi semakin meningkat tajam akibat tekanan kehidupan yang kejam." Lanjut dokter Arief.

**

Menurut Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), profesional psikolog secara umum (termasuk psikolog Pendidikan, psikolog industri, psikolog klinis, dan lain-lain) yang terdaftar saat ini hanya sekitar 11.500 orang saja, dan kebanyakan berada di pulau Jawa.

Sebaliknya jumlah psikolog klinis yang lebih fokus kepada konsultasi penyembuhan gangguan jiwa, hanya sekitar 1.143 orang saja pada Ikatan Psikolog Klinis (IPK) di tahun 2019.

Angka ini meningkat tajam dari tahun 2013, yang hanya berkisar sekitar 451 orang, dengan sekitar 3 hingga 5 juta penderita gangguan jiwa berat yang ada pada saat itu. (Data Riset Kesehatan Dasar 2013).

Keterbatasan ini juga terjadi bagi jumlah Psikiater yang secara total, hanya sekitar kurang dari 1.000 orang se-Indonesia Raya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun