Mohon tunggu...
Kalista Setiawan
Kalista Setiawan Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswi / Penulis Amatir

Hasil dari gadget dan pikiran yang saling berkompromi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kala Kelana Si Pengelana

16 Juni 2020   19:03 Diperbarui: 16 Juni 2020   19:04 204
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ini, sekelumit kisahku kala kelana,

Di sebuah rentetan waktu yang bertebaran, terduduk aku di pelamunan hampa tak bernyawa. Berusaha untuk tak terjerat dari belenggu pikiran ini dan itu. Aku keluar dari jalur barisan disana. Iya, barisan para manusia yang mengekor pada jarum detik hingga menit. Yang tak tau letak ujung apa akan menuju. 

Saat itu, sepertinya adalah hari terberani yang pernah kulakukan. Mau bagaimana lagi? Yang terjadi biarlah terjadi. Padahal Raja dari segala makhluk sudah menatap sinis padaku dari atas singgasananya. Ah, biarkan saja. Toh, aku tahu pasti dia tak akan menghampiriku disini. Karena dimensi antara kita berbeda. 

Para manusia yang kukenal pun juga bertanya perihal kelakuan aneh ku ini? Jawabku dengan sekenanya, "Biarin biar beda sendiri!" Aku sedang ingin menghilang dari jeratan waktu. Mungkin hanya sebentar, sebelum cahaya kilat menghampiri dan menghukumku nanti.

Iya, memang sudah beratus tahun lamanya tidak ada yang melakukan hal ini seumur hidup. Yang tertulis di buku sejarah yang pernah kubaca, ada seseorang bernama Dia yang berani menerobos masa dari barisan seperti aku. Disana, tercatat bahwa Dia sedang dalam kondisi kartasis. Sedang ingin meluapkan emosi terdalam yang terkungkung lama di relung jiwa. Suatu waktu, akhirnya Dia tak bisa menahannya lagi. Lalu, pada akhirnya Dia malah diseret cahaya kilat menuju kematian. Akhir yang tragis memang.

Aku juga ingin mencatat sejarah baru. Tapi alasan antara Aku dan Dia berbeda. Sejujurnya, tak ada alasan yang mengharuskan aku lari dari jeratan waktu. Sebenarnya, hanya ingin bersenang-senang saja pada dimensi yang tak banyak diketahui sebagian orang. Dan, satu hal lagi. Aku sedang tertarik pada eksperimennya Dia, tentang penemuan terhadap sesuatu. Layaknya harta karun yang masih belum terjamah tangan manusia.

Tulis Dia dalam catatan sejarah, Dia telah menemukan sesuatu yang dianggapnya dapat menyenangkan diri dan tergolong abadi. Sayang. Belum selesai ia hampiri, malah sudah ketangkap sama cahaya kilat. Kasihan. Aku tak mau seperti Dia.

Tepat saat aku membuka jeratan waktu, tiada sosok yang menghampiri. Namun ada satu yang berani mendekat. Hanya kekosongan kala itu yang mau menghampiri diriku disini, di dalam pengasingan ini. Bukan waktu, bukan asa, bukan pula kasih, dan juga bukan kau. Setidaknya dalam persinggahan waktu ini, kekosongan masih menemaniku. 

"Kamu akan melakukan apa dalam dimensi pengasingan tak berujung ini?" tanya kekosongan padaku. Sesaat, aku juga bertanya dalam hati kecil. Untuk apa aku melakukan hal aneh ini? Oh iya, bukankah untuk harta karun itu? Tapi kalau aku kasih tahu kepadanya, nanti malah bisa-bisa ia merebutnya dariku. Tidak. Aku tak boleh memberitahunya. 

"Sekedar untuk menatap waktu-waktu yang tiada hentinya berjalan maju," jawabku dengan guyonan jayus yang pernah kuserap dulu ketika masih di dunia waktu. Untung saja, kekosongan hanya mengangguk dan tak bertanya lagi. Kemudian kami menyusuri dimensi ini. Lalu terduduk di salah satu sudutnya. Yang tak sempat ku hitung berapa banyak sudut disini. Nanti kelamaan lagi. Biar kuhabiskan sisa hampa ini dengan kekosongan. Berharap ia cepat pergi. Lalu, aku bisa melanjutkan misi.

Seketika kami berdua terdiam. Iya, kami sedang asyik menerka ujung pangkal berakhirnya waktu. Namun, masih belum ketemu tuh! Sedari tadi, dengan teliti ku amati ribuan barisan waktu disana, yang sempat kutangkap. Tiba-tiba saja ada lubang hitam tepat di hadapan barisan. Lalu menelan waktu dan manusia dalam jeratannya. Aku memang sudah tahu pasal lubang hitam itu. Namun, belum kuketahui bentuknya seperti apa. Ternyata seperti itu toh! Yah, hanya kotak lubang persegi panjang mirip keranda tak berdimensi yang kedalamannya tak sempat kuhitung. Dan itu berwarna hitam pekat, yang menelan bagai vacuum cleaner.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun