Mohon tunggu...
Hery Sinaga
Hery Sinaga Mohon Tunggu... Administrasi - Pegawai Negeri Sipil

-Penulis konten -saat ini sedang suka-sukanya menggeluti public speaking -Sedang menyelesaikan buku motivasi -karya novel : Keluargaku Rumahku (lagi pengajuan ke penerbit)

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Gagal Menjadi Suami, Tapi Tidak Gagal Menjadi Ayah

21 September 2023   15:24 Diperbarui: 21 September 2023   15:50 218
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tarutung kala itu sedang berangkat menuju senja. Arak-arakan awan mendung menggelayut di langit. Memberikan tanda sepertinya akan turun hujan. Dan benar, rintik-rintik hujan menyapa jalanan yang sebelumnya terbalut debu. Seketika cuaca menjadi dingin dan hujan pun tampaknya akan turun semakin deras.

Saat itu aku sedang menepi di sebuah pusat perbelanjaan indomaret  untuk berbelanja minuman kopi baper dari point coffee karena aku rasa cuaca turun hujan akan semakin nikmat dan bersahabat kalau di isi sambil menikmati kopi. Aku pilih espresso hazelnut diantara berbagai pilihan jenis minuman kopi yang tersedia.

Setelah selesai membeli kopi, aku bergegas keluar untuk segera pulang ke rumah sebelum hujan semakin deras. Setiba di mulut pintu masuk indomaret, pandanganku tertuju kepada seorang sosok laki-laki duduk dengan menggendong anaknya yang masih kecil. Sambil memegang payung dia berusaha melindungi anaknya yang masih kecil dan belum pantas untuk merasakan getirnya kehidupan. Didepannya ada gerobak sorong berisi sayuran yang masih segar untuk dijajakan nya kepada orang yang lalu lalalng melintas.

Mataku lekat kepada nya sepersekian menit, sebelum aku menuju ke sepeda motor yang aku parkir tidak jauh dari sosok laki-laki dengan anaknya yang masih kecil. Dan ternyata sosok laki-laki adalah orang yang sudah beberapa kali aku lihat berkeliling untuk menjajakan sayuran jualannya turut serta anaknya yang masih kecil. Seketika rasa iba dan kasihan itu membuncah dalam hati.

Dan aku pernah ingat, ketika bersama istri dan anak, selepas belanja dari indomaret, kami melihat dia bersama anaknya dan gerobak dorongnya serta sayur jualannya, sedang mangkal di depan indomaret. Aku menghampirinya dan membeli sayur jualannya 2 ikat dengan harga 5 ribu rupiah. Kebetulan juga persediaan sayur di kulkas sudah habis.

Sosok laki-laki itu tidak asing lagi bagi masyarakat sekitar. Menurut cerita yang beredar, laki-laki itu sudah menikah dan memiliki anak yang dia bawa-bawa berjualan keliling dengan gerobak dorong. Dan menurut cerita burung yang beredar di telinga, namun sayang rumah tangganya kurang harmonis sehingga dia harus menjadi single parents mengurus anak-anaknya.

Sebatas pengamatan sekilas, dia hanya bisa berjualan sayuran keliling dengan gerobak dorong dan membawa anaknya dalam gendongan kemana kakinya melangkah. Dalam hati aku berpikir, kasihan benar anaknya sudah harus merasakan panas terik, hujan, karena harus berada dalam gendongan bapaknya untuk ikut berjualan demi bisa sesuap nasi untuk bertahan hidup.

Pernah sekali waktu, aku melihat si bapak muda itu berjualan durian pada saat momen sedang musim durian yang berasal dari kecamatan tetangga. Namun kali ini dia tidak berjualan keliling dengan gerobak dorong, namun hanya mangkal di tepi jalan Sisingamangaraja.

Sekalipun dia gagal menjadi suami karena tidak bisa mempertahankan keharmonisan rumah tangganya, karena alasan ekonomi, perselingkuhan atau apapun itu alasannya, namun dia tidak pernah gagal untuk menjadi seorang ayah. Dia berusaha untuk bisa mencari penghasilan demi membiayai hidup anaknya yang masih balita. Dia bertanggung jawab untuk anak yang dititipkan kepadanya.

Dia bisa saja tidak memperdulikan anaknya dan memberikan anaknya kepada istrinya yang sudah tidak lagi bersamanya, pergi entah kemana saja untuk mencari yang dia suka. Namun hal itu tidak dilakukannya karena dalam dirinya ada satu tanggung jawab sebagai ayah yang tidak mau dia sia-siakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun