Mohon tunggu...
Budiman Gandewa
Budiman Gandewa Mohon Tunggu... Wiraswasta - Silent Reader

Bermukim di Pulau Dewata dan jauh dari anak Mertua. Hiks.....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Cerpen] Pak Erte dan Tragedi Romlah

27 Agustus 2016   12:59 Diperbarui: 27 Agustus 2016   13:03 329
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Echonya bahkan sampe masuk-masuk ke kandang ayam jago, yang terlihat masih melakukan mogok berkokok. Karena kalau berkokok, kepalanya langsung di keplak pakai gagang sapu. Pletooook!

Mendengar suara Pak Erte yang keluar dari microphone bergema, Buluk yang masih bawaan mabok langsung berlari lingkang pukang, maju tak gentar, jatuh bangun-kristina. Ke tempat sound system berada.

Pak Erte melirik ke arah Buluk yang sedang memutar-mutar alat persegi empat yang banyak tombolnya tersebut. Lalu mengacungkan jempolnya kepada Pak Erte  yang masih meliriknya.

"Tes, 1 2 3, tes..." Pak Erte sekali lagi mencoba alat pengeras suara tersebut. Suaranya sudah terdengar pulen. Tapi cuma beberapa detik saja. Karena tiba-tiba terdengar suara berdenging nyaring, dari pengeras suara. Ngiiiing....!

Diikuti suara meleduk, lalu asep mulai ngebul di sekitar sound system yang diutak-atik oleh si Buluk. Korslet! Agak sedikit kesal. Akhirnya Pak Erte melanjutkan pidatonya menggunakan corong minyak.

"Bapak dua, ibu dua, serta saudara dua kali, yang saya cintai" Pak Erte memulai pidatonya yang terdengar janggal.

Ternyata karena buru-buru, anaknya si Entong. Malah  menyingkat naskah pidatonya. Bapak-bapak, menjadi Bapak2. Ibu-ibu, menjadi Ibu2. Begitu seterusnya. Dan tulisan di kertas itulah yang dibaca Pak Erte sebagai teks pidatonya.Hihihi....

Tapi orang-orang hanya mendengarkan saja. Karena Pak Erte punya undang-undang yang sudah ditetapkan secara musyawarah tapi tidak mufakat. Bunyi Undang-undabg tersebut, sebagai berikut;

1. Erte tidak bisa disalahkan
2. Erte tidak pernah salah
3. Apabila Erte melakukan kesalahan, maka balik lagi ke point pertama.

Demikianlah bunyi undang-undang yang dimusyawarahkan, tapi tidak dimufakati tersebut. Karena terus dipaksa, serta merasa terpaksa. Akhirnya penghuni kontrakkan pasrah menerima undang-undang tersebut di sahkan.

"Uhuk...uhuk. Maaf!" Pak Erte  pura-pura batuk setelah menyadari kekeliruannya. Lalu melanjutkan kembali pidatonya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun