Fazil Abdullah
Fazil Abdullah Musafir Gelisah

Gratis buku saya. Silakan yang berminat ke https://play.google.com/store/books/details?id=-L4pDgAAQBAJ

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Yang Mengutuk Diri Kita

25 November 2018   16:28 Diperbarui: 25 November 2018   23:22 1113 17 13
Cerpen | Yang Mengutuk Diri Kita
http://johannessitorus.wixsite.com

Berbaring di atas perahu tak bersauh, kunikmati ayunan lembut riak ombak Danau Laut Tawar. Kunikmati belaian sepoi angin dan kehangatan matahari sore. Masih saja terasa kau yang membelai wajahku.

Kuhirup pelan dan dalam hawa di atas permukaan danau yang sejuk. Juga masih hawa tubuhmu yang teraromai. Begitu juga cipratan riak ombak yang berulang kali mengecup kening, pipi, dan bibirku, itu bibirmu yang bertubi-tubi mengecup wajahku.

Ru Yi, aku baru dari Gua Loyang Putri Pukes, objek wisata yang tak terwujud kau kukunjungi. Pemandu wisata mengisahkan Putri Pukes yang dikutuk menjadi batu. Menitik air mataku. Putri Pukes telah mengabaikan pesan ibunya, jika telah meninggalkan rumah, jangan lagi melihat ke belakang. Kalau kau langgar, kau menjadi batu.

Persis seperti pesanmu padaku yang juga selama ini kuabaikan, "Kalau aku tiada, selalu isi lembaran harimu dengan melihat ke depan. Jangan lagi menoleh. Kalau tidak, kau akan menjadi batu." Di gua itu awal aku tercerahkan akan pesanmu. Begitu mendalam.

***

Awalnya, pesanmu kuanggap ekspresi cemas akibat kondisimu. Kau sedang sekarat di ranjang pesakitan rumah sakit kala itu. Sedang menunggu dan menghadapi operasi jantungmu. Aku diam saja. Hanya kubalas seulas senyum tipis, mengecup keningmu, dan membelaimu. Kau butuh penguatan.

Namun, sejak tiga bulan kau tiada, kudapati kedalaman dari pesanmu. Ri Yi, aku selalu ingin ke danau. Sewa perahu, berbaring di atasnya, lalu membiarkan riak ombak mengayun-ayun perahu dan hati menuju padamu.

Kau pernah mengajariku bagaimana menikmati desiran riak ombak yang menjilati kaki. Riak ombak yang sempat kutakuti pasca-bencana tsunami. Kau terus menggodaku. Samudera mahaluas dan menenggelamkan apa saja itu, punya tepi. Kini tepinya itu telah bersimpuh dan sujud berulang-ulang di kaki, katamu.

Cara pandangmu alangkah magis. Menjadikanku berani bermain dengan riak ombak. Menikmati riak ombak di hatiku yang menggoda dan cemburu perihal kebahagiaan kita. Entah berapa senja kita nikmati saat berdua di bibir pantai. Tak habis-habis kenikmatan itu, tak lekang-lekang kenangan akanmu.

Lalu aku pindah ke mari, ke Takengon, ke Aceh Tengah, Dataran Tinggi Gayo. Pegunungan dan bebukitan berbaris-baris sejauh mata memandang. Tak ada lagi pantai dan laut. Berharap menjauh dari pantai dan laut, aku mampu melupakanmu. 

Namun, aku rupanya hanya berpura-pura melupakanmu. Saat riak ombak Danau Laut Tawar menghampiriku, kau pun datang lagi menggoda. Beriak di hatiku. Mengayun-ayun kesadaranku menujumu. Betapa terpaku aku. Diam-diam, saat itulah kenangan mulai jadi kutukan yang berlaku atasku.

***

Ru Yi, kulihat kembali pengalamanmu yang terjadi dengan keluargamu dan cerita rakyat Putri Pukes, kau pun seakan terbaca dikutuk jadi batu. 'Batu' berupa pengapuran di pembuluh darah area jantungmu. Mulai berlaku sejak kau dianggap tak lagi bagian keluarga oleh ayah ibumu. Ru Yi, apa kau diam-diam selama bersamaku menganggap dirimu dikutuk oleh orang tuamu tanpa kau ungkap?

Sangat bisa jadi atas dasar anggapanmu itu, maka kau sampaikan pesan terakhirmu itu. Jangan sampai mengalami kutukan kenangan seperti pengalamanmu. Terikat berat pada masa lalu. Menyesaki dadamu. Batu menggumpal dan menghambat darah keluar-masuk jantungmu. Hingga kau mengalami gagal jantung. Hidupmu berhenti berdetak.

Tanda-tanda mulai membatu telah terlihat padamu. Kau mulai sering diam di rumah ketika tak bersamaku. Malas makan. Begitu kata kakakku. Tak selera katamu. Masakan kita beda budaya. Maka kubelikan cap cai, kubelikan angpao, kubelikan makanan kesukaanmu; apa pun yang kau mau. Namun, kau tetap sedikit makan, banyak melamun. 

Aku sebenarnya curiga kau merindukan ibu ayahmu, ingin kembali ke masa lalu. Tapi kau tak mengakui. Menyembunyikan isi hatimu. Menggeleng dan hanya menampakkan senyum terpaksa.

Tanda membatu makin terlihat. Suatu ketika kau merasa nyeri di dada kirimu. Lain kali kau mudah cepat lelah dan pusing. Kau bilang karena masuk angin. Belakangan makin menjadi-jadi nyeri dan sesak di dada kirimu. Saat periksa di klinik, dokter memvonismu kena penyakit jantung. Terjadi pengapuran di pembuluh darahmu yang menuju jantung. Dokter berpesan padamu, mengingatkanku, jangan biarkan dirimu memiliki beban hati dan pikiran. 

***

Ayah ibumu telah berkata padamu yang terdengar sumpah. Begitu dingin dan datar. Jika kau telah memilihku, kau dianggap mati. Kau telah dilepaskan ke kehidupan baru. Jangan pernah lagi menoleh dan kembali ke keluarga, ke ayah ibumu. 

Segala derita harus kau tanggung sendiri. Tiada lagi bantuan, tiada lagi kasih sayang, tiada lagi hubungan anak dengan orang tua dan keluarga. Kau terputus sudah dari kehidupan keluarga. Kata-kata orang tuamu kini baru kusadari semakna dengan pesan peringatan ibunda Putri Pukes, jangan menoleh lagi ke belakang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3