Mohon tunggu...
Eyok Elabrorii
Eyok Elabrorii Mohon Tunggu... Penulis - penulis fiksi

Penulis yang mencintai blues dan air mineral.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Fatimah Tak Sempat Mengaji

8 November 2020   19:46 Diperbarui: 8 November 2020   20:20 316
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dok. Eyok El-Abrorii

Siapa yang tak kenal Fatimah di kampung ini. Jika kau berjalan ke barat sewaktu subuh, kau akan mendengar Fatimah mengaji dari rumahnya yang beratap pandan dan bertembok pagar di dekat persawahan orang-orang kampung. Fatimah setiap pagi membaca Arrahman dengan suara terindah miliknya.

Sejak Fatimah masih ingusan, dia mengaji dengan ayahnya yang buruh tani itu. Mereka hidup berdua di sana. Ibunya meninggal tersengat listrik ketika Fatimah masih bayi. "Kau tahu? Tuhan akan menurunkan rizki jika kita membaca Arrahman setiap subuh," kata ayah dulu. Tapi Fatimah yang lugu itu tak mengerti, dia mengaji sebab tak mau ayah memecutnya dengan lidi.

"Benarkah Tuhan menurunkan rizki sebab kita mengaji, yah?" Fatimah bertanya.

"Benar, Fat."

"Kalau begitu, ayah tak perlu bekerja. Kita mengaji saja sepanjang waktu."

Ayah tersenyum, dengan bersemangat memberi pertanyaan kembali, "Pikirmu tenaga ayah siapa yang memberi?"

"Ayah makan tiga kali sehari."

"Dari mana makanan itu?" Fatimah diam. Yang dia tahu, sayur-sayuran di hadapan mereka adalah apa yang mereka tanam di sawah peninggalan kakek, dan satu kali seminggu mereka harus berhutang satu liter beras dari warung.

"Itu semua dari Tuhan, nak. Dia yang membuat ayah kuat bekerja," ayah menjawab pertanyaannya sendiri, yang jawaban itu tidak sempat dipikirkan Fatimah sebab -menurutnya- ayah tak kuat, tak jarang ayah demam dan tiap malam meminta Fatimah untuk memijatnya.

Fatimah tumbuh menjadi gadis cantik, dia telah menjadi kembang kampung. Kecantikannya membuat ayah Fatimah jarang ke sawah, sebab ada saja pemuda kampung yang membantu Fatimah. Tenaga ayah jadi lebih kuat untuk mengerjakan sawah orang lain yang memberinya upah. "Kau adalah rizki terbaik yang ayah punya," kata ayah suatu hari.

Sejak itu, Fatimah baru yakin bahwa surah Arrahman benar memberikan Rizki bagi keluarganya. Sejak saat itu pula, dia mulai membaca Arrahman tanpa ayah minta. Dan sudah tentu, Fatimah menjadikan ayah sebagai rizki terbaiknya juga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun