Mohon tunggu...
I Ketut Suweca
I Ketut Suweca Mohon Tunggu... Administrasi - Pencinta Dunia Literasi

Kecintaannya pada dunia literasi membawanya suntuk berkiprah di bidang penulisan artikel dan buku. Baginya, hidup yang berguna adalah hidup dengan berbagi kebaikan, antara lain, melalui karya tulis.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama FEATURED

Paradigma Baru Perpustakaan, Upaya Menuju Modernisasi

29 Juni 2021   21:00 Diperbarui: 19 Mei 2022   09:38 1309 46 13
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pustakawan merapihkan tumpukan buku-buku di Perpustakaan Nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (8/11/2017). (KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Apa yang terbayang oleh Anda begitu mendengar kata perpustakaan? Mungkin ini: sebuah tempat yang di dalamnya banyak berisi buku.

Kalau orang ingin membaca, ia akan datang ke situ. Lantas, mengambil buku, bergerak menemukan tempat duduk, dan matanya terpaku pada isi buku.

Perpustakaan memang adalah wahana membaca, tempat orang menggali ilmu pengetahuan. Tempat ini menjadi salah satu alternatif dalam berburu ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada masa kini, dengan paradigma baru (new paradigm), perpustakaan sudah kian modern. Banyak kemajuan yang dicapai. Alhasil, perpustakaan pun menjadi tempat yang menyenangkan, bagai sebuah taman bermain.

Seperti apa jelasnya? Mari kita lihat perbedaan paradigma lama (old paradigm) dan membandingkannya dengan paradigma baru (new paradigm) perpustakaan. Semuanya bergerak ke paradigma baru, menyambut modernisasi perpustakaan.

Pertama, perpustakaan bukan lagi gudang.

Mengapa? Kata gudang sendiri membaca kesan yang kurang baik, apalagi bagi buku. Gudang mengasosiasi pemikiran pada tempat yang letaknya di pojok, tidak terawat, dan amat jarang didatangi kecuali penting sekali.

Alih-alih memakai kata gudang, cukup menyatakan perpustakaan sebagai sumber ilmu. Dengan istilah yang lebih netral ini, kita tidak lagi 'memojokkan' perpustakaan, melainkan menempatkannya sebagai wilayah terhormat dalam dunia pendidikan dan kehidupan.

Kedua, perpustakaan aktif dan proaktif.

Perpustakaan zaman doeloe biasanya memberikan layanan hanya kepada mereka yang datang ke perpustakaan. Siapa yang datang, itulah yang dilayani. Pelayanannya terbatas dan pasif.

Petugas perpustakaan hanya akan duduk dan mengerjakan tugas-tugas internalnya sambil menunggu pembaca selesai membaca dan pergi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan