Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Buruh - Orang Biasa

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tanda Tangisan Bayi dari Gereja Tua

6 November 2020   22:02 Diperbarui: 6 November 2020   22:09 257
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Malam itu begitu dingin. Tak biasanya. Baru kali itu, aku mengambil jaket yang sudah lama berdiam di lemari pakaian. 

Seperti biasa, aku selalu duduk di depan teras rumahku. Jarakanya hanya 10 meter dari sebuah gereja tua. 

Kerap kali di depan teras rumah keluarga kami, aku mengingat pelbagai macam hal. Termasuk tentang nama gereja tua itu dan pelbagai kisah yang mengitarinya. 

Maklum, aku datang ke rumah itu karena tuntutan tugas semata. Rumah ini merupakan tempat, di mana ibuku dibesarkan. Ketika ibu sudah menikah, dia harus mengikuti ayah pindah ke provinsi lain.

Sejak bulan lalu, aku pindah tugas. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah keluarga ibuku. Kebetulan rumah itu hanya ditempati oleh adik bungsu ibuku. Tanta kami. 

Gereja itu lebih dikenal dengan sebutan gereja tua. Padahal, setiap gereja selalu melekat dengan nama pelindung tertentu. Nama pelindung itu bisa berupa orang-orang kudus. Bukannya tanpa nama pelindung, masyarakat setempat sudah terbiasa menyebutnya dengan gereja tua.  

Disebut sebagai gereja tua karena gereja itu merupakan gereja paling pertama yang terbangun di kabupaten itu. Makanya, sangat gampang orang mencari alamat gereja itu. Tinggal menyebutnya dengan nama Gereja Tua. Orang pun akan tahu di mana letaknya. 

Menurut cerita, ketika para pastor dari Eropa melakukan patroli, mereka menjadikan gereja itu sebagai tempat perhentian. Juga, tempat peristirahatan.  

Dengan demikian, gereja itu seperti menjadi pusat aktivitas agama di kabupaten itu. Ketika pastor pergi mengunjungi umatnya di desa-desa, dia selalu kembali ke gereja tua itu. Kebetulan di gereja tua itu tersedia sebuah kamar. Ukuran kecil. Pas untuk satu tempat tidur singel, lemari kecil, meja beserta kursinya. 

Sampai sekarang kamar itu tetap berada di sana. Sudah jarang dipakai sebagai tempat istirahat. Lebih dipakai untuk menyimpan barang-barang kepunyaan gereja. Terlihat seperti gudang daripada kamar singgah seorang pastor. 

Bagi keluarga kami, gereja tua itu menyimpan sejuta kisah. Dari nenek kami hingga orangtua kami, mereka selalu melayani setiap pastor yang berkunjung ke gereja tua itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun