Mohon tunggu...
Farhandika Mursyid
Farhandika Mursyid Mohon Tunggu... Dokter - Seorang dokter yang hanya doyan menulis dari pikiran yang sumpek ini.

Penulis Buku "Ketika Di Dalam Penjara : Cerita dan Fakta tentang Kecanduan Pornografi" (2017), seorang pembelajar murni, seorang penggemar beberapa budaya Jepang, penulis artikel random, pencari jati diri, dan masih jomblo. Find me at ketikanfarhan(dot)com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Memori 5745 Kilometer

11 Mei 2018   04:38 Diperbarui: 11 Mei 2018   07:53 779
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi | Sumber foto : embaixadoresdarainha.wordpress.com

Sumber foto : Instagram (yamaguchi_nonoka_official)
Sumber foto : Instagram (yamaguchi_nonoka_official)
Mungkin pikiran terakhir tadi cukup ekstrim, namun saat aku menginjak masa akhir SMA ke awal-awal kuliah, pikiranku tentang cewek Jepang tidaklah jauh dari kata pornografi. Bahkan, aku sempat menyatakan niat untuk tidak berkuliah di sana hanya karena terdoktrin dari budaya pornografi yang menjadi santapan frekuen selama masa itu. 

Ya, untungnya semua itu berubah saat aku mengenal sebuah grup bernama AKB48. Tapi, saat itu, yang hanya ada di dalam pikiranku adalah cewek Jepang jika ingin menghasilkan uang itu ada hanya dua cara, yaitu antara menjadi bintang idol seperti AKB48 atau menjadi pemeran film pornografi. 

Mengingat industri film biru di sana cukup besar dan disegani di seluruh dunia, ya tidak jauhnya ketimbang AKB48. Karena itu juga, aku jadi takut apakah Nanako memiliki aspirasi yang sama juga atau bagaimana. Aku tidak mau melihat cewek semanis dia ternyata akan berakhir menjadi bahan kepuasan seksual para cowok binal. Sungguh, aku tidak mau.

Sampai, suatu saat, aku pun secara bodoh menanyakan hal itu ke dia, sembari menelusuri berbagai macam hal yang dia sebarkan di sosial media dia yang condong sepi dan tidak dapat dimengerti. Ya, aku masih belum paham dengan bahasa Jepang kala itu, dengan segala aksara keritingnya.

"Hello, Nanako. It's me, Farhan. An Indonesian friend you met through Omegle. Do you still remember me?"

"Oh, Hello! Yeah, i know you! I am fine! How about you? I am sorry for not following back, i seldom open my social media."

"Fine, too. Just seen some of your photos, seems you are pretty and i think you are such a good photographer also."

"Thank you! Yeah, i like taking pictures a lot. How about you?"

Pembicaraan itu pun berjalan sangat mantap, hingga aku pun sampai lupa waktu dan senyum-senyum sendiri ketika melihat layar laptop. Ya, tidak segila saat aku nonton stand up comedy.

Namun, ibuku setidaknya heran dengan tingkahku kala itu. Untung saja, esok adalah hari libur sehingga tidak banyak beban bagiku untuk mengerjakan tugas kuliah ataupun belajar ujian. Tapi, dari chat tersebut, rasa takutku akan sosok Nanako itu justru memudar dan malah, menghilang. 

Dia bukanlah seperti cewek Jepang yang aku kenal. Kebetulan aku juga sempat menanyakan tentang beberapa hal terkait dengan pornografi dan segala macamnya. Untungnya, dia memahami pertanyaan tersebut meskipun dia sempat bingung mau jawab bagaimana. Dari gestur percakapan yang kami lakukan, aku melihat Nanako sebagai cewek yang sopan dan benar-benar menunjukkan karakternya sebagai cewek baik-baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun