Mohon tunggu...
Dessy Yasmita
Dessy Yasmita Mohon Tunggu... Desainer - valar morghulis

If you want to be a good author, study Game of Thrones.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Di Bukit Ada Kunang-kunang Terbakar

25 Juli 2020   11:34 Diperbarui: 27 Juli 2020   16:21 829
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dia menginap di rumah teman dan pulang sekolah jalan-jalan dengan pacarnya. Mereka memasang beberapa rencana dan pilihan terakhirnya adalah pindah.

Namun, ongkos tidak memungkinkan. Dana dan uang yang mereka kuras dari tabungan masing-masing tidak akan cukup untuk bertahan lebih dari empat hari. Jadi, mereka memutuskan untuk jalan-jalan saja seharian. Begitulah.

Setelah dari kafe, mereka memutuskan untuk berkeliling, terutama di pinggiran kota. Semuanya terasa asyik. Lagu di radio cocok untuk perjalanan. Mereka bergoyang sambil terus berkendara.

Ah, dia sungguh menikmatinya. Untuk pertama kalinya dia merasa sangat senang. Dia tidak pernah jalan-jalan seperti ini sebelumnya. Apalagi sang pacar sengaja sedikit ngebut saat mobil mulai menanjak bukit. Di sudut-sudut kelokan, dengan riang dia menjerit karena tubuhnya diombang-ambing kecepatan.

Kecepatan itu indah. Statis itu membosankan. Itulah yang dia kenang tentang hidupnya. Membosankan. Selalu sendirian. Dia butuh kebisingan dan kecepatan karena diam mengerikan. Itu pikirannya sampai di detik dia melihat kobaran di tepi jalan. Nyalanya besar, membentuk serpihan api dan abu.

"Orang bakar sampah," gerutu sang pacar. Namun gadis itu menyadari sesuatu yang salah. "Itu ... bukannya orang?"

Sang pacar mengerem mendadak. Mereka membisu, tetapi mobil dipenuhi musik yang riuh. Sementara itu, pemandangan di depan mereka tampak magis. Seperti boneka sawah menari liar. 

Sang pacar kemudian menyumpah dan mobil digas habis. Si gadis menoleh. Dia melihat bola api lebih kecil jatuh dari kobaran yang besar.

6. PAGI
Sang pacar menyumpah dan mobil digas habis. Roda mencicit karena dipaksa kabur. Dia tak ingin mengingat apa yang baru dilihat.

Pemandangan barusan telah membuat kemaskulinannya porak-poranda. Kegagahannya ciut dan ketakutan segera menguasainya. Segala pikiran berseliweran dan dia sibuk menyusun skenario.

Sebelum mereka berhenti di pom bensin, tak seorang pun berbicara. Musik sudah lama dimatikan. Dia tak ingat siapa yang mematikannya. Mungkin gadis itu, gadis yang setengah-setengah saja disukainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun