Cerpen Pilihan

Naomi dan Ketidaklaziman Cintanya

12 Januari 2019   07:46 Diperbarui: 12 Januari 2019   07:58 590 4 2

Kebohongan memang bisa memberimu keuntungan sesaat. Tetapi setelah itu, kebohongan akan memasung dan mengancam hidupmu. Kemudian akan merontokkan kredibilitasmu untuk waktu yang lama. 

Sebaliknya, kejujuranmu meski bisa menyakitimu sesaat, selanjutnya ia bisa memerdekakanmu dan meninggikanmu untuk waktu yang lama.

Nasehat bijak tersebut, didapatkan Naomi dari Pak Teguh Raharjo (guru agama Kristen SMA-nya). Meski sudah lama, tetapi substansi petuah tersebut masih terus tertancap dalam jiwanya. Bahkan sangat mempengaruhi arah hidup Naomi selanjutnya.

Sepeninggal kedua orang tuanya, praktis ia putus kuliah. Adik perempuannya satu-satunya diadopsi oleh tantenya. Sedang ia sendiri, supaya tetap survive, terpaksa harus menjadi seorang pembantu rumah tangga.

"Kamu itu sombong dan sok sekali, Mi!" Majikan puterinya memarahinya, ketika belum genap sebulan masa pengabdiannya.

"Maaf, Nyonya saya bukannya sombong, tetapi tidak bisa....."

"Sangat bisa, jika kau mau! Orang disuruh ngomong begitu saja kok enggak bisa...!"

"Untuk mengerjakan semua tugas saya,... saya bisa dan mau. Tetapi kalau untuk berbohong, maaf sekali Nyonya, saya tak sanggup dan tak mau......"

"Terus maumu itu apa? Tahu diri dong! Kamu itu hanya pembantu. Dan pembantu kudu mau melaksanakan segala perintah majikan!"

"Kalau begitu, sekarang juga saya mundur saja, Nyonya. Maafkan saya!"

Dialog dan jawaban seperti itu, meski dalam kasus, konteks dan dengan diksi yang berbeda-beda, telah dialami Naomi sebanyak tiga kali. Setidaknya dalam kurun waktu lima tahun pengembaraannya sebagai PRT.

Dia sangat heran dengan orang-orang kaya, berpendidikan tinggi, berpredikat sebagai keluarga terhormat (semua mantan bosnya rata-rata sekaliber itu), tetapi penuh dengan dusta dengan segala kelicikannya.

Memang tidak setiap hari mereka begitu. Dalam kondisi normal, tampaknya mereka adalah pribadi-pribadi yang baik, berwibawa dan hampir tak pernah terlihat salah. Tetapi pada waktu tertentu, dan untuk kepentingan tertentu, tiba-tiba mereka bisa dengan sekejap berubah menjadi pembual-pembual atau pengecut-pengecut.

"Tapi mengapa hidup mereka kok tampaknya mujur-mujur saja, ya?" Tanya Naomi kepada dirinya sendiri. Ia sendiri tak bisa menjawabnya. Dan tak mau mencari jawaban pada siapapun. Biarlah waktu yang kelak akan menjawabnya.

            ***

Empat tahun belakangan, Naomi atau lengkapnya Naomi Brilianti sudah menjadi warga kota metropolitan. Tetapi profesinya masih tetap sebagai pembantu rumah tangga. Yang membedakan dari sebelumnya, sekarang ia mendapatkan majikan beserta keluarganya yang sangat baik.

Gajinya selalu diterimanya tepat waktu. Jatah makanan untuknya, sama juga dengan apa yang dimakan oleh keluarga majikannya. Meski merk-nya berbeda, tapi pengembaraannya sebagai PRT. tidur Naomi ber- air conditioner juga. Setelah semua tugas rutin diselesaikannya, ia pun bebas nonton teve besar di dapur.

Ia diijinkan juga mengambil kursus apapun yang sesuai dengan minatnya. Hasilnya dalam lima tahun pengabdiannya di keluarga Boaz, ia sudah menguasai tiga keterampilan: komputer, tata rias dan tata boga. Ketiga skill tersebut sudah pada level menengah. Tahun berikutnya ia akan mengambil kursus bahasa Inggris.

Dan yang paling membahagiakannya adalah sikap majikannya. Yang memandang pembantu bukan hanya sebagai alat atau budak saja, melainkan sebagai sesama manusia yang seharkat dan semartabat dengannya di hadapan Sang Pencipta.

                        ***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4