Mohon tunggu...
Arfi Zon
Arfi Zon Mohon Tunggu... Penulis - PNS dan Penulis

Seorang Pegawai Negeri Sipil yang hobi menulis

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Pindah Rumah (Genre Horor)

3 Juli 2021   10:37 Diperbarui: 5 Juli 2021   19:14 248 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pindah Rumah (Genre Horor)
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac


Ini adalah pengalaman nyata seorang pembaca saya bernama Novi yang disampaikan kepada saya melalui messenger. Novi meminta saya menuliskannya dalam bentuk cerita. Sayapun menyanggupi. Dengan catatan, cerita boleh saya modifikasi.

*****

Namaku Novi. Yang akan kuceritakan ini adalah pengalaman 3 tahun yang lalu.

Awalnya, aku sekeluarga memutuskan pindah ke sebuah rumah yang lebih besar. Tujuannya supaya bisa sekalian jadi tempat yang lebih memadai untuk usaha jahitku yang semakin berkembang.

Hari pertama di rumah baru, aku dan suami masih direpotkan dengan urusan menata barang pindahan dari rumah yang lama.

Sejak pagi, aku dan suami sudah sibuk. Sementara, kedua anak kami, Arumi 5 tahun dan Naomi 3 tahun, juga asik bermain di halaman belakang. Halaman belakang rumah memang nyaman untuk tempat bermain anak-anak. Karena teduh ternaungi oleh pohon sirsak besar yang sudah berumur puluhan tahun.

Sambil sibuk berbenah, aku bisa mendengar celoteh mereka yang asik bermain. Sepertinya juga ada anak-anak tetangga yang datang dan ikut bermain. Karena dari tadi suara Arumi terdengar heboh sekali. Dia tidak pernah seheboh itu jika hanya bermain berdua dengan adiknya.

Selepas Ashar, Naomi sudah balik ke rumah. Karena kelelahan, dia langsung tertidur di salah satu kamar yang sudah selesai dirapikan. Sementara, Arumi masih heboh bermain di bawah pohon sirsak besar itu. Lamat-lamat masih terdengar suaranya seperti bercengkrama.

"Biar sajalah dulu dia bermain. Nanti saja menjelang magrib disuruh masuk rumah," pikirku.

Akupun melanjutkan membantu suami menata barang-barang di dapur.

Beberapa menit sebelum azan magrib, semua ruangan telah selesai kami tata. Suami langsung mandi. Aku juga langsung menuju belakang rumah hendak memanggil Arumi dan menyuruhnya segera masuk rumah. Suaranya sedang bercakap-cakap masih jelas terdengar. Sepertinya anak tetangga yang dari tadi bermain dengannya juga belum pulang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x