Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Tips Atasi Cemas Akibat (Sering) Lupa Mencabut Charger HP

28 Oktober 2016   07:26 Diperbarui: 28 Oktober 2016   09:04 389
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
kecemasan yang muncul bisa membawa dampak positif dan negatif/ www.merdeka.com

Sewaktu dalam perjalanan menuju pasar, perasaan saya tiba-tiba saja terasa campur aduk. Pikiran saya lantas terbayang pada hp yang saya tinggal di rumah. Saya merasa cemas karena, sebelumnya, hp itu tengah diisi baterainya, dan saya ragu apakah sudah mencabut chargernya atau belum sewaktu akan berangkat tadi.

Saya takut hp itu menjadi panas akibat terlalu lama diisi baterainya. Ibarat sebuah percikan api yang membakar setumpuk ilalang kering, pikiran saya bahkan semakin larut dalam ketakutan setelah membayangkan bahwa jangan-jangan terjadi korsleting listrik, yang dapat memicu kebakaran.

Andaikan ada orang di rumah, dengan memakai hp lainnya, saya tentu dapat minta supaya orang rumah memeriksa keadaannya. Namun, pada waktu itu, sedang tidak ada siapapun di rumah. Sementara itu, saya tak bisa memutar balik kendaraan lantaran saya punya janji yang harus dipenuhi tepat waktu. Jadilah saya merasa cemas sepanjang perjalanan lantaran terus memikirkan hp itu.

Kejadian itu tentunya pernah pula dialami sejumlah orang. Hanya bedanya, kalau saya cemas terhadap hp, orang lain barangkali khawatir terhadap benda lainnya. Sebagai contoh, saya ingat pada suatu pagi, mama saya menelepon dan menyuruh saya untuk mengecek kompor di dapur. Ia ternyata takut lupa mematikan kompor sebelum berangkat ke pasar.

Untungnya saya sedang berada di rumah pada waktu itu sehingga saya bisa langsung mengecek kondisi kompor. Setelah memastikan bahwa kompor dalam kondisi mati, saya langsung mengabarinya supaya ia tak lagi merasa was-was.

Kasus lain yang umumnya terjadi di sekitar lingkungan rumah adalah lupa mematikan setrika, memadamkan listrik ac, dan mengunci pintu rumah sebelum si penghuni rumah berangkat ke luar. Semua kelalaian itu tentunya dapat menimbulkan kecemasan. Apalagi kalau si pemilik rumah gampang terserang kepanikan.

Perasaan cemas itu tentunya adalah reaksi yang manusiawi. Dalam kadar yang wajar, perasaan itu menjadi semacam “alarm”, yang membikin kita waspada terhadap bahaya yang mungkin saja datang. Namun demikian, pada tahap kronis, alih-alih memberi manfaat untuk hidup kita, perasaan itu malah menimbulkan masalah, terutama dalam kesehatan fisik dan mental.

Persoalan itu biasanya sering terjadi pada orang-orang yang punya riwayat kepanikan yang akut. Dalam buku Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman menjelaskan bahwa seseorang yang terserang rasa panik yang berlebihan cenderung memunculkan efek tertentu pada tubuhnya, seperti keluarnya keringat dingin, cepatnya detak jantung, dan tegangnya otot-otot di sekujur tubuh.

Belum lagi, insomnia yang terus “merongrong” si pengidap kecemasan kronis. Biarpun tubuh sudah lelah dan mata telah berat, tetapi karena terus larut dalam kecemasan, si pengidap susah sekali tertidur dengan lelap. Akibatnya, kalau terus berlanjut, bisa-bisa bugaran fisik terus turun dan rentan terserang penyakit lainnya.

Perasaan cemas itu tentunya dapat dicegah dengan sejumlah cara. Sebelum berangkat bekerja atau bepergian, misalnya, kita harus memastikan keamanan rumah.

Area yang perlu dicermati biasanya adalah pagar, kamar tidur, dan dapur. Pastikanlah pagar tertutup dan terkunci dengan baik. Juga perhatikan kondisi sakelar ac di kamar tidur. Padamkanlah arus listrik pada ac sebab korsleting listrik umumnya terjadi karena itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun