Mohon tunggu...
Sabri Leurima
Sabri Leurima Mohon Tunggu... Ciputat, Indonesia

Sering Nongkron Lebelnya Anti Kekerasan

Selanjutnya

Tutup

Novel

Dalam Baileo [Part 6]

14 Agustus 2019   00:24 Diperbarui: 14 Agustus 2019   00:35 0 0 0 Mohon Tunggu...
Dalam Baileo [Part 6]
Sumber: Hadisiuw, Rumah Baileo

Pulang, pulang, mereka pada akhirnya pulang ke Negeri Mowae. Ole-ole kebahagiaan tertanam rapat dalam hati Anis, Mido dan Kepala Pemuda. Perjuangan tampa pamrih pasti akan mendapatkan kesuksesan.

Setiba mereka di Mowae, masyarakat sangat senang mendengar kabar itu. Jalan-jalan negeri ramai kembali dengan gladih resih tarian cakalelel, tari lenso, sawat dan nyanyian adat.

Dalam Baileo dihiasi atribut-atribut khas Mowae. Tahuri, rebana, tipa dan gong, alat musik Malukuan semuanya sudah disediakan.

Daun Sukun, Cengkeh dan Pala terlukis rapi pada tembok-tembok gang. Pintu masuk Gapura negeri penuh dengan ranting sagu yang dibelah. Namanya Gaba-gaba.

Negeri Mowae terlihat indah saat itu. Antusias masyarakat semakin tidak bisa terbendung menunggu hari suci Raja mereka dikukuhkan Bupati.

Anis merasa sangat bahagia, mahasiswa tidak lagi dipanggil nau-nau dan bodoh. Akan tetapi kebahagiaan itu belum bisa tereskpose ke publik. Pesimistis walau sedikit tapi ia rasakan berkali-kali.

Sesekali ia berfikir untuk organisasi Ikatan Pelajar Mowae(IPM) agar segera membuat rapat kerja. Paling tidak habis pengukuhan Raja. Agar terlegitimasi ditangan raja baru.

Tak lama kemudian, tidak ada angin ataupun badai. Pesan masuk SMS menyasar di hp Anis.

"Dankee e su jadi yang terbaik, By Mido.

Begitula isi pesan tersebut. Anis lalu membalas pesan itu dengan dua kata saja.

Ok," balas Anis.

Anis tidak bermaksud membalas pesan singkat seperti itu. Ternyata ini adalah bagian dari skenario semata. Setiap pesan SMS masuk, Anis seolah menjadi misterius namun ada rasa suka terhadap Mido si tukang lucu.

Perasaan Mido sudah tidak bisa dipendam. Rasa ingin menembak Anis terpacu begitu kuat dalam pikirannya. Walau respon balasan Anis hanya sepenggal kata hingga dua hurup saja. Seperti, Ok!

Mido yang sudah tak tahan lagi dengan terpaan guncangan rasa akhirnya mengirim SMS tanpa permisi.

"Nis beta suka ose, mau jadi beta kekasih hidup tidak?," Pesan Mido tanpa kontrol.

Terserah ose mau terima atau tidaknya, beta tidak akan paksa. Asalkan rasa ini bisa terungkap," tamba Mido lagi.

Dua pesan yang dikirim Mido, tak satupun dibalas Anis. Skenario masih bermain tanpa batas. Diam kemudian beberapa jam, Mido tidak lagi mengirim SMS. Dicerca prustasi dan kecewa menghampirinya.

Diatas bantal bersarung gambar Popeye. Mido merenung harapan sambil tangannya tergeletak di dahinya. Lamunan membawanya pada situasi moment bersama Anis.

Serentak berbunyi kilat yang begitu kuat. Hujan malam turun begitu deras. Malam semakin larut dan terasa dingin. Kain hangat segera ditutupi Mido.

Gelisah merana kembali merasuki Mido. Balik sana balik sini membuat kasur terlihat berantakan. Pikirannya hanya kepada Anis yang tidak merespon SMS bernada suka itu.

Haming 1 telah tiba, keindahan negeri Mowae tidak ada duanya. Pohon-pohon diatas bukit bernari-nari. Dibibir pantai ombak sedang menebar senyumnya.

Prosesi gladih resih dilakukan lagi. Kepala Pemuda tengah memerintahkan sekelompok anak muda yang tidak terlibat dalam kepanitiaan atau peserta tarian agar membantu mengankat bangku-bangku plastik ke dalam tenda acara.

Di pojok Baileo Nana sedang melatih menjadi Mc untuk acara besok. Bakatnya dalam memandu acara seperti Mc sudah sejak lama ia grogoti. Hanya saja kali ini jelas berbeda. Menjadi Mc di acara Pengukuhan raja yang dihadiri lansung oleh Bupati.

Gelisah merana semalam tampak pudar alam pikiran Mido. Ia terlihat semangat membantu mendekor tenda acara. Sikap lucunya tidak pernah padam.

Dari jarak jauh Mido sudah memperhatikan ke mana tempat akan Anis singgah. Pandangannya tak pernah lepas. Tatapan itu terlihat tajam. Setajam ujung mata pisau.

"Kayanya dia menuju Dalam Baileo," Analisis Mido.

Betul. Analisi Mido tidak salah. Anis menuju dalam Baileo. Bergeser dari tenda dekor, Mido menghampiri dengan langkah cepat serayak berkata kepada Anis.

"Ose sombong jua, tanpa rasa malu kata itu keluar dari mulut Mido.

"Hee, beta sombong apa manusia lucu," tanya Anis dengan ketawa.

"Adoo.. ose pura-pura lupa lagi," balas Mido sambil menggeleng kepalanya.

"Ohh itu, fokus kasih kelar ini dulu baru bahas itu," gerang Anis dengan menghembuskan nafasnya ke udara.

Mido tidak menanggapi respon yang diucapkan Anis dan langsung berbalik arah menuju tenda dekor. Langkahkan kaki Mido terlihat lambat sambil kepikiran.

"Berarti ada sinyal positif nih kalai dipikir-pikir yang tadi Anis bilang itu," pikiran Mido menyimpulkan dengan cepat.

Yang tadi lambat akhirnya menjadi cepat langkah kakinya. Fokus kerja dekor terlihat semangat dalam setiap ekspresi Mido. Positif thinking menjadi penyebabnya.

Malam telah usang, terbit fajar berekspresi cerah sekali. Seluruh masyarakat memadati jalan-jalan negeri dengan memakai pakaian putih. 

Burung-burung terbang beranari-nari. Suara tahuri tipa berbunyi tanpa henti. Menandakan kemenangan telah abadi. Negeri Mowae akhirnya memiliki Raja defenitif. Itulah harapa yang kian lama tersembunyi dalam sanubari.

Bupati berserta rombongan telah riba diujung Negeri. Banyak orang menyambutnya denga kalimg bungan dan tarian-tarian. Langkah demi langkah Bupati menuju Tenda acara disorak-sorak kegembiraan tanpa henti.

Suara sawat dan rebana dipukul beriringan mendapingi kedatangan Bupati. Cinta kepada negeri terasa terobati dari kerja Anis dan teman-temannya.

Tibalah dipenghujun acara. Prosesi pengukuhan akan segera dilakukan. Begitulah informasih yang dibacakan Mc. 

"Negeri Mowae sah memiliki raja defenitif".

Anis dan Mido resmi menjadi kekasih sehidup semati.









KONTEN MENARIK LAINNYA
x