Mohon tunggu...
Usman Didi Khamdani
Usman Didi Khamdani Mohon Tunggu... Programmer - Menulislah dengan benar. Namun jika tulisan kita adalah hoaks belaka, lebih baik jangan menulis

Kompasianer Brebes | KBC-43

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Pembunuhan di Rue Morgue (Bag. 5)

19 Maret 2020   00:00 Diperbarui: 20 Maret 2020   00:57 365
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
foto ilustrasi pada cerita asli | The Murder in The Rue Morgue-Edgar Allan Poe

 Tidak, tidak semuanya. "Dupin!" kataku. "Ada dua suara. Suara siapa yang kedua?"

Suara yang kedua! Ya! Ingat: kita yakin hanya orang dengan tenaga yang sangat khusus dapat menaiki tiang penangkal petir itu, menaiki sisi rumah menuju jendela di lantai empat itu---mungkin seekor binatang, mungkin seorang laki-laki yang kuat dari sebuah sirkus, mungkin seorang pelaut. 

Kita sekarang tahu salah satu suara itu adalah suara binatang, seekor orangutan. Yang lainnya adalah suara manusia. Suara ini terucap hanya dua kata; yaitu "Oh, Tuhan!" yang terucap dalam bahasa Prancis.

"Pada dua kata itu aku berharap menemukan sebuah jawaban bulat untuk kasus yang mengerikan ini. Kata-kata itu adalah sebuah ekspresi ketakutan. Ini berarti ada orang Prancis yang mengetahui pembunuhan ini. Mungkin---sangat mungkin---orang Prancis itu sendiri tidak membantu orangutan itu melakukan pembunuhan. Mungkin binatang itu kabur darinya, dan dia mengejarnya hingga ke rumah di Rue Morgue itu. Dia tidak dapat menangkapnya lagi. Binatang itu tentu masih bebas berkeliaran di Paris.

"Aku tidak akan melanjtkan dugaan-dugaan ini---sebab aku tidak bisa menyebutkannya lebih dari itu. Jika aku benar, dan jika orang Prancis itu tidak terlibat dalam pembunuhan, aku harap dia datang ke sini. Baca ini. Aku membayar agar ini terpasang di suratkabar."

Aku mengambil surat kabarnya dan membaca yang berikut:

DITEMUKAN---pada dini hari tanggal tujuh bulan ini: seekor orangutan besar. Pemiliknya, yang diketahui adalah seorang pelaut, dapat membawa binatang itu kembali jika ia dapat membuktikan itu adalah miliknya.

"Tapi, Dupin. Bagaimana  kau dapat tahu orang itu adalah pelaut?"

"Aku tidak tahu itu. Aku tidak yakin. Aku kira orang itu pelaut. Pelaut dapat menaiki tiang di sisi rumah itu. Para pelaut berlayar hingga ke tempat-tempat yang jauh, asing di mana banyak hal seperti orangutan dapat ditemukan. Jika aku benar ...

"Pikirkan sejenak! Pelaut itu akan mengatakan pada dirinya: 'Binatang itu berharga. Kenapa aku tidak datang dan mengambilnya? Polisi tidak tahubinatang itu membunuh dua orang wanita. Dan jelas-jelas seseorang tahu aku ada di Paris. Jika aku tidak datang mengambil binatang itu, mereka akan bertanya kenapa. Aku tidak ingin ada orang mulai bertanya-tanya tentang binatang itu. Maka aku akan datang mengambil orangutan itu dan menyembunyikannya di mana tidak ada satupun yang akan melihatnya, sampai persoalan ini berlalu.' Ini, aku yakin, adalah apa yang akan pelaut itu pikirkan. Tapi dengar! Aku mendengar langkah orang di tangga."

Dupin telah membiarkan pintu depan rumah terbuka, dan tamu itu masuk tanpa memencet bel. Dia beberapa langkah menaiki tangga, lalu berhenti. Kami mendengarnya melangkah turun kembali. 

Dupin beranjak ke pintu saat kami kembali mendengar orang asing itu naik. Dia tidak berbalik untuk yang kedua kali, tapi melangkah terus menuju pintu kamar kami.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun