Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - Lehrerin

Sudah menulis 2.780 artikel berbagai kategori (Fiksiana yang terbanyak) hingga 24-04-2024 dengan 2.172 highlight, 17 headline, dan 106.868 poin. Menulis di Kompasiana sejak 1 Desember 2018. Nomine Best in Fiction 2023. Masuk Kategori Kompasianer Teraktif di Kaleidoskop Kompasiana selama 4 periode: 2019, 2020, 2021, dan 2022. Salah satu tulisan masuk kategori Artikel Pilihan Terfavorit 2023. Salam literasi 💖 Just love writing 💖

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Diam

4 November 2019   16:00 Diperbarui: 4 November 2019   16:03 180
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bunga Mentega di sudut jalan kota Jakarta. Photo by Ari

Senja itu mengunciku
Saat binar pagi menyapaku
Petang itu menerjangku
Hingga semua harapku berlalu

Mereka bilang ada masa depan
Dalam tiap usaha ketekunan
Katanya akan ada harapan
Bagi yang tak berhenti berjalan

Berhenti bukan sekedar sebuah alasan
Dalam lelah yang memekat pergulatan
Bukan karena kekurangan kekuatan
Namun sadar hilangnya perjuangan

Semua menjadi seperti pilu
Yang tak henti tergores sembilu
Bukankah semua tah kupertaruhkan
Namun tersia-sia semua perlakuan

Lelah batin memuncak setiap hari
Gejolak asa yang makin terbengkalai
Oleh raga yang terus melemah
Oleh desakan yang terus bertambah

Bila aku berhenti pada akhirnya
Bisakah kau hanya cukup diam

...

Written by Ari Budiyanti
3 November 2019

#PuisiHatiAriBudiyanti

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun