Mohon tunggu...
zaldy chan
zaldy chan Mohon Tunggu... Administrasi - ASN (Apapun Sing penting Nulis)

cintaku tersisa sedikit. tapi cukup untuk seumur hidupmu

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Pesan Ayahmu

7 Juni 2020   20:18 Diperbarui: 8 Juni 2020   01:36 506
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Pakailah ilmu cacing!"

Itu kalimat ayahmu. Mertuaku. Saat berdiri di depan pintu rumah, ketika akan berpamitan. Tepukan pelan kedua tangan sepuh di bahu, memaksaku anggukkan kepala. Tak mampu bersuara, apalagi bertanya.

Kau pun pasti mendengar kalimat ayah. Sebab kau berdiri di belakangku. Sama sepertiku, tak ada suaramu. Hari itu, kau kuajak ke rumahku. Bukan lagi sebagai teman dekat, tapi sebagai istriku. Hari ketiga, setelah acara pernikahan.

***
"Mas masih ingat, pesan Ayah kemarin?"

Pertanyaan itu, kau ajukan sambil menyajikan segelas kopi pagi di hadap dudukku. Aku menatapmu. Satu minggu menjadi pengantin baru. Menjadi masa yang indah sekaligus susah. Aku mesti mengingatkan diri jika sudah berperan sebagai suamimu. Kukira, kaupun pasti berusaha menjadi istriku.
"Mas!"

Suara juga cubitanmu, mengajak pulang kesadaranku. Wajahmu mulai terlihat mendung. Kuusap pelan kepalamu. Tangan kananku, meraih gelas berkopi di atas meja. Kau menatapku. Menunggu reaksiku.

"Kurang manis, Mas? Gulanya..."
"Siapa yang berani bilang, istri Mas kurang manis?"
"Iiih..."

Kali ini, kedua tanganmu bersatu. Berubah menjadi capit kalajengking. Beraksi sesukamu di paha, lengan, bahu juga pipi dan hidungku. Itu, caramu jika kehabisan kata-kata. Biasanya akan disusul dengan pukulan. Mungkin saja kau terlupa.

"Mas ingat kalimat..."
"Iya. Pesan ayah, pakai ilmu cacing!"
"Maksudnya apa?"
"Biar Mas cacingan!"
Plak! Plak! Plak!

***
Pertanyaanmu pagi itu, kembali memaksaku mencari tahu tentang ilmu cacing. Pengalaman masa kecilku, cacing digunakan sebagai umpan mencari belut atau saat memancing ikan. Begitupun saat sekolah. Aku juga tahu, jika cacing untuk menyuburkan tanah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun