Mohon tunggu...
Yuana Palupi
Yuana Palupi Mohon Tunggu... Mahasiswa - 00s

:)

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Berteman dengan Media Sosial

5 Mei 2021   23:40 Diperbarui: 5 Mei 2021   23:47 170
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
unsplash.com/@stereophototyp

Di zaman sekarang siapa sih yang gak kenal sama yang namanya media sosial? Media sosial sudah jadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat besar untuk di zaman sekarang. Perkembangan revolusi teknologi yang amat sangat pesat ini menciptakan hal-hal yang sebelumnya belum pernah ada dan melahirkan inovasi baru yang lebih canggih dan modern serta mutakhir. Hal ini menjadikan zaman sekarang adalah zaman digital.

Dengan adanya perkembangan teknologi, pastilah akan diikuti dengan perubahan. Perubahan juga akan diikuti dengan adaptasi terhadap hal-hal yang baru. Terutama dalam hal berkomunikasi antara satu sama lain. Jika sebelumnya berkirim pesan melalui surat atau dengan media konvensional lainnya, sekarang hanya dengan koneksi internet serta gadget, semua pesan yang ditulis dan dikirim akan diterima dengan cepat dan bisa menyisipkkan gambar atau video. Kelihatan sekalikan perbedaannya, media baru bisa memangkas waktu hal yang dikirimkan media konvensional.

Media sosial di masa sekarang ini sangat akrab bagi semua lapisan masyarakat. Bagaimana tidak akrab dengan media sosial, media sosial menawarkan beragam banyak hal dan memudahkan manusia dalam berkomunikasi bahkan dari ujung ke ujung dunia bisa berkomunikasi hanya dengan bermodalkan gadget dan jaringan internet. Apalagi pada situasi saat ini, adanya pandemi COVID-19 yang mengaharuskan pembatasan aktivitas fisik serta mengurangi mobilitas demi menekan angka korban dari virus COVID-19, hal ini menjadikan berkurangnya komunikasi dengan kerabat dekat, namun dengan adanya internet semua yang kontak langsung bisa berkomunikasi lewat ruang virtual, sehingga jarak tidak menjadikan satu sama lain hubungan menajadi renggang.

Saya sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan yang sangat tertarik dengan dunia design grafis, menjadikan media sosial sebagai media menambah informasi dari dunia luar. Saya yang sudah melewati berbagai macam tren sedari dulu lewat media sosial, setuju media sosial sebagai media baru dalam berkomunikasi melalui keunikannya sendiri. Di sekitar tahun 2013, muncul BBM pada sebagai media komunikasi pada Android yang sebelumnya hanya bisa dinikmati bagi para pengguna Blackberry. Hal ini menjadikan BBM menjadi media sosial untuk berkomunikasi yang hype pada waktu itu. Selain mengirim pesan, di BBM juga bisa membuat status dan bisa menginformasikan kita sedang memutar musik. Selaras dengan BBM, di tahun itu juga hype dengan namanya Facebook. Namun, kehadiran Facebook jauh sebelum BBM untuk Android ada.

Seiring berkembanganya zaman, BBM mulai tergerus dan WhatsApp menggantikan posisi BBM, mungkin pada saat artikel ini ditulis juga. Sekitar tahun 2013, Instagram hype pada zaman itu, namun kemunculan Instagram pada tahun 2013 sudah beroperasi sekitar 3 tahun. Saya juga pernah mengalami dan mengikuti tren Instagram pada saat itu. Tetapi, Instagram adalah media sosial yang berbasis kamera yang bisa dilihat dari logonya pada saat itu, hanya bisa mengupload foto dan video, video saja pada waktu itu hanya sampai 15 detik. Berbagai tren pada saat itu saya tahu dan saya ikut-ikutan, mulai dari mengedit foto menggunakan filter Nashville yang bergaya retro, #InstagramInHand, tren filter edit dari kreator seperti Awkarin dan@fetching_tigerss dan masih banyak lagi. Sekarang Instagram menjadi media sosial yang digemari masyarakat di zaman sekarang, apalagi Instagram sekarang telah menghadirkan banyak fitur-fiturnya, seperti IGTV, Instagram Story, sampai Instagram Business untuk bisnis. Kalau dipikir-pikir lucu juga kalau mengingat tren Instagram pada waktu itu, dan saya juga berpikir ternyata time flies so fast.

Selain Instagram, Twitter juga paling banyak peminatnya. Sepengalaman saya, Twitter merupakan media sosial yang selain berkomunikasi juga bisa menambah minat untuk membaca, menulis dan berhati-hati dalam membuat tweet. Bagaimana tidak, Twitter hanya menyediakan 140 kata untuk membuat sebuah tweet dan hal ini menjadikan pengguna lebih kreatif untuk menulis dan berhati-hati dalam membuat tweet karena jika sudah terposting, tweet yang sudah di publish tidak bisa diedit, layaknya pada komentar Youtube. Saya menjadikan Twitter untuk mengikuti hal-hal yang sedang viral dan mengikuti perkembangan dan aktivitas idola saya. Cerita dalam bentuk utas/thread menjadi ketertarikan sendiri bagi saya. Selain itu, saya penggemar K-Pop dapat mengetahui aktivitas idola saya, mulai dari acara apa yang idol hadiri sampai informasi comeback.

Sejalan dengan ketertarikan dengan KPop, saya juga memakai YouTube untuk menonton MV, streaming dan lain lain. Di YouTube, saya justru menikmati karya dari konten kreator, bukan pengunggah konten. Dalam mengakses YouTube kita harus meluangkan banyak waktu untuk menonton videonya. Di waktu senggang, saya menikmati obrolan dari berbagai channel dan topik. Selain itu, pada saat akan tidur, saya mendengarkan video ASMR untuk membantu tidur saya. Tak lupa, saya gemar mendengarkan playlist maupun kompilasi music untuk menemani sebagian aktivitas.

Di masa pandemi ini, banyak sekali tren bermunculan di dunia maya. Selain itu media sosial yang berkembang sekali adalah TikTok. Padahal TikTok sendiri pernah di blokir Kemenkominfo dan dicap sebagai aplikasi yang merugikan. Awalnya TikTok berisi joget-joget dance, hal ini yang menjadikan TikTok mendapatkan stereotype buruk di Indonesia pada waktu itu. Namun, adanya pandemi ini menjadika TikTok sebagai media sosial baru untuk berinterkasi melalui konten video. Lama kelamaan, stereotype buruk menghilang karena banyaknya kreator dengan berbagai konten, mulai dari Haul, masak, edukasi dan lain lain mulai menjamur. Ada juga ClubHouse yang booming pada Februari 2021 ini, karena awalnya Elon Musk menggelar sesi diskusi langsung bersama para penggemarnya. Namun, hanya bisa diakses oleh pengguna iPhone saja.

Kalau dibaca pengalaman saya diatas, saya paling sering menggunakan Instagram. Instagram memiliki banyak fitur, terlebih saya juga mempunyai online shop yang dimana salah satu fiturnya bisa membaca engangement konten Instagram. Serta, Instagram Ads yang dapat membantu agar konten serta akun dapat menjangkau lebih banyak calon konsumen. Instagram juga saya gunakan untuk sebagai "camilan", maksudnya sekarang banyak akun microblogging dengan carousel feeds yang dapat menjadi sumber informasi dan cerita selain dari buku atau novel fisik.

Dari pengalaman tahun ke tahun sebagai pengguna media sosial, dengan sangat terbuka akses lebar untuk mengekspresikan diri di dunia maya, hal yang mungkin tak terhindarkan adalah hoax dan mispersepsi. Hoax yang dibuat hanya untuk kesenangan sendiri dan bisa menggiring opini merupakan hal yang sangat merugikan iklim media sosial sehingga menyebabkan pengguna sulit membedakan mana yang fakta dan mana yang bukan fakta. Apalagi, orang kebanyakan membaca hanya dengan headline nya saja sudah bisa menyimpulkan isi berita tanpa membaca keseluruhan berita, artinya ini sangat bisa terjadi mispersepsi untuk sebagian orang, apalagi sekarang banyak yang memanfaatkan ini sebagai clickbait. Walaupun belum ada teknologi untuk mengurangi hoax, hal yang harus kita lakukan adalah membaca sujmber informasi yang berasal dari sumber terpecaya yang bisa dipertanggungjawabkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun