Mohon tunggu...
Weinata Sairin
Weinata Sairin Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Teologi dan Aktivis Dialog Kerukunan

Belajar Teologia secara mendalam dan menjadi Pendeta, serta sangat intens menjadi aktivis dialog kerukunan umat beragama

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Menganyam Talisilaturahim

29 Juni 2021   08:30 Diperbarui: 29 Juni 2021   08:33 58
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

MENGANYAM TALISILATURAHIM

manusia menghidupi dunia yang luka tidak sendiri
ada berjuta orang hidup dalam duka dan luka menganga
mereka menebar di seluruh belahan bumi
mereka dibunuh pandemi, timah panas, pedang terhunus membacok, kemiskinan struktural, pelaggaran ham berat, perebutan tanah
dan entah karena apa lagi
bumi bersimbah darah
bumi berlumur dosa

manusia diutus Tuhan untuk mengelola bumi dan seluruh isinya
adam dan hawa
dan generasi-generasi berikutnya melaksanakan imperatif ilahi
dalan keduaan gender
dalam kemenyatuan tubuh

dengan berpeluh
berbekal akal budi,
rasa, kompetensi, talenta umat manusia membangun peradaban mondial
ditengah perang, konflik, permusuhan, dendam kesumat, genocide, pandemi, abad-abad kegelapan,
yang mewarnai jejak-jejak historis
yang ditorehkan umat manusia
pada langkah-langkah kehidupan mereka

lebih setahun tatanan kehidupan manusia mengalami kondisi destruktif
jutaan nyawa direnggut maut
amat menyakitkan
kualitas akademik
umat manusia
I Q manusia yang super takmampu
menghadang sepenuhnya persebaran covid 19
yang merebak ke seantero belahan bumi
manusia menggelepar, terkapar dan terpapar di salasar rumah sakit,
di tenda-tenda darurat
mereka panik, anxietas, paranoid
ajaran agama belum sepenuhnya diberdayakan untuk menuntun hidup manusia

umat manusia yang dicipta dengan mulia oleh Sang Khalik
harus menyatutubuh
secara mondial
manusia harus keluar dari ghetto
sara, primordialis
dari benteng arogansi kebangsaan, dari kungkungan roh chauvinisme
dari stigma bangsa beradab dan barbar

manusia harus mau dan mampu
menganyam talisilaturahim,
menenun persaudaraan sejati
tanpa mempertimbangkan agama,suku,bangsa, warna kulit, ideologi, budaya
dan keragaman lainnya
umat manusia wajib solid bersatu
membangun habitus baru
mencipta peradaban baru!

Jakarta, 29 Juni 2021/pk.4.23

Weinata Sairin

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun